Warisan Terindah dari Para Ulama Untuk Kita




Majalahumdah.comSebagai masyarakat Aceh dan juga nusantara pada umumnya, kita bersyukur karena para Ulama terdahulu yang telah mewariskan kepada kita hadiah terindah berupa konsep agama yang paling moderat, konsep fiqh yang sangat padu dan juga sangat cocok dengan iklim kehidupan di wilayah kita.
Untuk apa kita perlu menceritakan nikmat berharga ini? Jawabannya adalah untuk menumbuhkan rasa syukur sekaligus kecintaan kepada para Ulama. Disebutkan;
ذكر النعمة يورث المحبة فى الله
"Menceritakan nikmat dapat mewariskan kecintaan pada jalan Allah."

Ulama telah mewariskan kepada kita Islam sebagai agama, Asy'ari sebagai manhaj dalam bidang i'tikad, Syafi'i dalam bidang fiqh dan kitab Minhaj An-Nawawi serta syarahannya sebagai rujukan utama pembelajaran fiqh syafiiyyah di berbagai pondok pesantren dan lembaga pendidikan di nusantara. Dan semua ini adalah konsep yang sangat moderat dan terpadu.

Islam adalah agama yang wasathiyyah. Sebagai contoh syariat tentang nikah misalnya. Dalam syariat Nabi Musa, seorang laki-laki dibolehkan untuk menikahi wanita tanpa batas, sesuai dengan keadaan di zaman itu dimana banyak bayi laki-laki dibunuh oleh Fir'aun, sehingga jumlah perempuan sangat banyak. Dalam syariat Nabi Isa, seorang laki-laki hanya dibolehkan menikah dengan seorang wanita. Hal ini bertujuan untuk memuliakan Siti Maryam yang mengasuh Nabi Isa sendirian tanpa didampingi oleh seorang Ayah. Kalau syariat Nabi Musa lebih memperhatikan maslahat laki-laki dan syariat Nabi Isa lebih memperhatikan maslahat wanita, maka syariat Nabi Muhammad mempertimbangkan maslahat keduanya, boleh lebih dari satu namun terbatas pada 4 saja.

Demikian juga dengan konsep tauhid Asy'ari, tidak ifrath seperti kalangan qadariyyah yang menganggap qudrah haditsah memiliki ta'tsiir, juga tidak tafrith seperti kalangan Jabbariyyah yang menganggap manusia majbur bagaikan kapas yang berterbangan. Konsep Asy'ari menganggap manusia memiliki ikhtiyar, namun ikhtiyar itu tidak memiliki ta'tsiir.
وعندنا للعبد كسب كلف # به ولكن لم يؤثر فاعرفا
فليس مجبورا ولا اختيارا # وليس كلا يفعل اختيارا

Lalu bagaimana dengan mazhab Syafii dan kitab fikih karya An-Nawawi?
Mazhab Syafii adalah perpaduan dari Mazhab Maliki dan Hanafi. Mazhab Maliki lebih mendahulukan manqul sehingga mereka dikenal dengan ahlul hadis. Sedangkan Mazhab Hanafi lebih menonjolkan ma'qul (logika) sehingga mereka dikenal ahlu ra'yi. Imam Syafii berguru kepada Imam Malik dan murid dari Abu Hanifah, sehingga beliau berhasil memadukan 2 manhaj ushul fiqh yang berbeda, sehingga lahirlah satu mazhab yang sangat moderat, yang memberi porsi yang seimbang bagi dalil nash dan penggunaan logika.

Awalnya mazhab Syafii terbagi kepada 2 aliran, yaitu aliran Iraq (Iraqiyyun) dan Khurasan (Khurasaniyyun). Maka muncullah Abu Ali Husein bin Syu’ib bin Muhammad As-Sinji yang berhasil meluruskan dan memadukan dua aliran ini. Ini disebabkan beliau berguru kpd Ulama Iraq Abu Hamid Al-Marwazi dan Ulama Khurasan Abu Bakar Al-Qaffal. Namun perpaduan itu belum sempurna. Perpaduan ini akhirnya disempurnakan oleh Imam Rafii dan dilanjutkan oleh Imam Nawawi. Sehingga tidak ada lagi perbedaan aliran dalam mazhab Syafii karena Imam Nawawi berhasil menyatukan perbedaan itu dengan cara yang sangat sempurna. Ini menunjukkan bahwa kitab Imam Nawawi adalah kitab yang sangat moderat dan hasil perpaduan dari berbagai manhaj yang berbeda.

Di samping itu, kenapa karya Imam Nawawi yang dijadikan rujukan, padahal sebelumnya banyak para ulama yang lebih alim darinya? Ini dikarenakan ulama sebelumnya tidak terlalu fokus dalam menyeleksi pendapat sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Nawawi, sementara masyarakat awam sangat membutuhkan seleksi pendapat itu agar dapat mengamalkan dengan pendapat rajih (kuat). Imam Nawawi mengambil peran dalam seleksi pendapat ini serta membuat simbol-simbol tertentu sehingga dapat dipahami konteks khilaf antara qaulain atau wajhain, mudrak muqabil dan lainnya. Hal ini tentu saja sangat bermanfaat bagi kaum Muslimin yang bermazhab Syafi'i, baik ulama atau kalangan awam.

Dari uraian ini setidaknya kita memahami betapa luar biasanya hadiah yang diwariskan oleh para Ulama kepada kita, tentang konsep hidup dan konsep beragama yang paling moderat, perpaduan dari berbagai perpaduan sebelumnya, untuk menjadi rujukan amalan kita dalam menapaki jalan menuju keridhaan Allah SWT.

Penulis : Tgk H Muhammad Iqbal Jalil


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru