SEPERTI APAKAH PARA WANITA DI SYURGA?

SEPERTI APAKAH PARA WANITA DI SYURGA?

1. Di Syurga Tidak Ada Wanita Tua
Pertama sekali perlu dipahami bahwa di syurga tidak ada wanita tua. Semuanya akan dikembalikan oleh Allah kepada keadaan muda dalam usia 30 atau 33 tahun.
Dikisahkan ada seorang nenek tua mendatangi Nabi untuk minta didoakan masuk syurga. Wanita tua ini bernama Shafiyyah binti Abd al-Muthallib, ibunda dari Zubair bin Awwam, atau bibi dari Rasulullah Saw. (Al-Bajuri, Mawahib Al-Laduniiyah)
Beliau berkata: "Ya Rasulallah, doakan kepada Allah agar aku dimasukkan ke syurga." Maka Rasul berkata: "Wahai ibunda fulan, sesungguhnya syurga tidak dimasuki oleh perempuan tua." Maka wanita tua inipun berbalik arah dalam keadaan menangis. Nabi berkata: "Beritahukan kepadanya bahwa dia tidak masuk syurga dalam kondisi tua seperti itu." (Imam Tirmizi, Syamail Muhammadiyyah)
Rasulullah ternyata hanya bercanda dengan bibinya. Bukan ini saja, Rasulullah juga pernah bercanda dengan sahabatnya yang lain seperti Anas bin Malik yang dipanggil, "Ya Shahib al-Uzunain (Wahai pemilik dua telinga)". Demikian juga dengan anak-anak seperti ucapan beliau saat menemukan anak kecil yang kehilangan burung kesayangannya. Rasulullah berkata, "Ya Aba Umair, ma fa'ala an-Nughair?". Hadis yang singkat ini mengandung banyak makna dan pesan fiqhiyyah yang dipahami para ulama.
Di samping itu, semua sifat kekurangan selama di dunia seperti hitam, juling, buta, dan lainnya akan dihilangkan oleh Allah saat seseorang masuk ke syurga. Penduduk syurga semuanya dalam keadaan tampan, cantik dan menarik untuk dipandang. Hal ini bisa dipahami seperti apa yang tertera dalam hadis riwayat Bukhari (6227) dan hadis riwayat Muslim (2841) bahwa semua umat manusia akan masuk ke syurga dalam bentuk nabi Adam, artinya bentuk nabi Adam pada keindahan dan terlepas dari kekurangan. (Abd al-Fattah Abu Ghuddah, Shahafaat min Shabr al-Ulama 'ala Syadaid al-Ilm wa al-Tahshil)

2. Wanita Syurga Tidak Pernah Hilang Perawannya
 Di antara keutamaan para wanita di syurga adalah tidak pernah hilang perawannya walau berhubungan badan berkali-kali. Setiap kali berhubungan dengan suaminya, Allah akan kembalikan perawannya seperti semula. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran, Surat Al-Waqiah 35-37:
إِنَّا أَنشَأْنَاهُنَّ إِنشَاءً (35) فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (36) عُرُبًا أَتْرَابًا (37)
Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita yang masuk syurga) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 35- 37).
Dhamir هُنَّ pada ayat ini kembali kepada para wanita. Pendapat yang menyatakan dhamir itu kembali kepada bidadari tertolak dengan hadis candaan Rasulullah yang kami tulis pada bagian sebelumnya. Maksudnya adalah Allah akan menjadikan para wanita dengan penciptaan yang baru, tanpa proses kelahiran yang lebih sesuai dengan kondisinya akan dikekalkan. (Al-Bajuri, Al-Mawahib Al-Laduniyyah)
Wanita syurga akan dijadikan oleh Allah dalam keadaan abkara (perawan) yang uzara. Uzara artinya uzur (tidak mampu) seorang suami menghilangkan keperawannya meskipun menyetubuhinya berkali-kali. Setiap kali sang suami mendatangi isterinya, ia akan mendapati isterinya dalam keadaan perawan. (Al-Bajuri, Al-Mawahib Al-Laduniyyah)
Wanita syurga juga penuh cinta dan selalu merindukan suaminya. Ia tidak pernah bermasam muka atau kasar dalam bertutur kata. Inilah yang dimaksudkan dari kata عُرُبًا . Maka itu bermakna, kalau ada wanita di dunia yang begitu mencintai suaminya, menjaga diri dengan baik, menjaga kehormatan suaminya, itu adalah adalah wanita syurga yang kebetulan duluan ada di dunia dan sang suami telah mendapatkan syurga sebelum syurga yang sesungguhnya. 😃

3. Lebih hebat mana antara wanita dunia yang masuk syurga dengan bidadari?
Wanita syurga kedudukannya lebih tinggi dari bidadari. Sebelumnya kami pernah membaca di salah satu kitab disebutkan bahwa wanita syurga adalah pemimpinnya bidadari.
Dalam kitab Al-Mawahib Al-Luduniyyah, Syaikh Ibrahim Al-Bajuri mengatakan, "wanita syurga lebih utama dari bidadari sama seperti keutamaan pakaian bagian luar dengan pakaian bagian dalam."
Sebagaimana dimaklumi, pakaian bagian dalam tentu tidaklah semahal pakaian luar. Orang-orang pun biasanya tidak mepermasalahkan kalau misalnya pakaian dalamnya terkena sedikit kotoran. Hal ini berbeda dengan pakaian luar yang terkena sedikit debu pun akan ditanggalkan. Beginilah perbedaan yang sangat kontras antara para wanita dunia yang masuk syurga dengan bidadari.

4. Tidakkah Mereka Cemburu Dengan Bidadari?
Seperti yang kami jelaskan sebelumnya bahwa wanita syurga lebih hebat dari bidadari. Namun ada satu pertanyaan yang mengganjal bagi sebagian orang. Pertanyaan itu adalah, tidakkah wanita merasa cemburu tatkala melihat suaminya bersama bidadari.
Nah, dalam hal ini kita perlu memahami bahwa salah satu keistimewaan penghuni syurga adalah di dalamnya ada lagi sifat kedengkian atau rasa dendam yang membuat seseorang merasa cemburu tatkala suaminya bersama yang lain. Apalagi dengan bidadari yang memang kelasnya di bawah mereka.
Allah SWT berfirman;
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ
"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan." (Al-Ĥijr:47)
Karena di surga tidak ada rasa dendam, maka istri di dunia tidak akan marah ketika suaminya memiliki bidadari. Beda dengan di dunia, istri akan marah bila dimadu karena masih ada rasa dendam di hatinya.
Mengutip candaan Kiay Ma'ruf Khozin, Maka jika ada seorang isteri yang ikhlas suaminya menikah lagi, wanita ini sebenarnya adalah wanita surgawi yang lebih dulu hidup di dunia sebelum di surga yang sesungguhnya. Kaburrrr!!! 😃😀

5. Pernikahan Dalam Syurga
Kalau memang derajat wanita dunia yang masuk ke syurga lebih tinggi dan lebih hebat dari bidadari, bagaimana dengan seorang pria yang saat hidupnya tidak sempat berkeluarga, tidak mungkinkah mereka memiliki wanita syurga? Demikian juga bagi wanita yang saat hidupnya tak sempat menikmati indahnya membangun cinta, karena ajal lebih dulu menjemputnya, tak adakah peluang baginya untuk mendapatkan suami saat di syurga?
Pertanyaan seperti mungkin tidak terlalu penting bagi mereka yang sudah memiliki pasangan hidupnya, namun tentu saja berbeda bagi mereka yang sampai saat ini masih setia dengan status jomblonya, hehe...
Perlu dipahami bahwa pernkahan adalah suatu hal yang awal pensyariatannya di syurga dan juga akan terus dilangsungkan sampai nantinya di syurga. Di syurga seseorang masih dibolehkan untuk memiliki pasangannya dengan menikah. Bahkan uniknya, di syurga seseorang boleh menikah dengan mahramnya selain asal dan furu' (selaian orang tua dan anaknya). Adapun adik kandung atau mahram yang lain yang bukan termasuk ashal dan furu', boleh dinikahi saat di syurga. (Al-Bajuri, hasyiah 'ala Fath al-Qarib)
Semoga saja jawaban ini bisa melegakan kepada Sahabat-sahabat yang sampai sekarang masih men-jombo.

 6. Siapa suami mereka, jika di dunia suaminya lebih dari satu?
Bagi wanita yang saat hidup di dunia memiliki beberapa orang suami, tentu mereka tidak mungkin dapat hidup bersama seluruh suaminya saat di syurga. Ada wanita yang suaminya meninggal misalnya, dan ia masih sangat cinta kepada suaminya. Namun di sisi lain, ia tidak mungkin membiarkan dirinya terus dalam kesendirian. Banyak hal dalam agama yang tidak boleh dikerjakan oleh wanita bila tanpa didampingi oleh mahram atau suaminya. Seandainya ia menikah lagi, masih mungkinkah mereka bersama saat di syurga?
Dalam hal ini, salah seorang dari Sayyidatut Tabi'at, pemimpinnya para wanita di masa tabi'in, Ummu Dardah As-Sughra pernah meminta kepada suaminya Abu Darda' agar mereka dapat terus bersama sampai di syurga nanti. Maka Abu Darda' berpesan, kalau kamu ingin bersama denganku di syurga nanti, jangan menikah lagi bila aku meninggal lebih dulu. Pesan ini benar-benar dijaga oleh Ummu darda', sampai sekaliber Muawiyah meminangnya, ia tetap menolaknya. (Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Manhallul Lathif fii Ushul al-Hadis as-Syarif)
Kisah ini menunjukkan bahwa suami yang akan bersama dengan wanita di syurga nanti adalah suami yang terakhir baginya.
Namun di tempat yang lain, Syaikh Ibrahim Al-bajuri mengatakan, "para wanita yang memiliki beberapa orang suami di masa hidupnya, ia akan memilih sosok suami yang paling bagus akhlaknya. (Al-bajuri, Mawahib Al-Laduniyyah)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru