Sejarah lahirnya Qawaid Fiqhiyah dalam Mazhab Syafii



Majalahumdah.comImam As-Suyuthi menceritakan bahwa ada seorang ulama dalam mazhab Hanafi yang bernama Imam Abu Thahir Ad-Dibas merangkum fiqih Hanafi dalam 17 qaedah. Beliau berada di Waraan Nahar (Transoxiana), sebuah wilayah kuno yang terletak di Asia Tengah , antara Sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya.

 Saat ini wilayah itu sebagian besarnya berada di negara Uzbekistan (Wikipedia). Berita ini sampai kepada sebagian ulama yang berada di Herat (salah satu kota di Afganistan) sehingga mereka melakukan perjalanan untuk menemui Abu Thahir.

Abu Thahir adalah seorang yang buta. Setiap malam ia mengulangi qaedah-qaedah tersebut di mesjid saat orang-orang sudah keluar. Pada suatu malam, Abu Said Al-Harawi As-Syafi'i melihat ada satu tikar tempat bersembunyi. Abu Thahir menganggap mesjid sudah kosong. Beliau segera mengunci pintu dan mengulangi qaedahnya. Baru 7 qaedah beliau ulangi, tiba-tiba ada suara batuk. Abu Thahir baru menyadari ternyata masih ada yang bersembunyi di dalam Mesjid. Lalu Al-Harawi dipukulnya dan dikeluarkan dari mesjid. Mulai malam itu, Abu Thahir tidak pernah lagi mengulangi qaedah di Mesjid.

Al-Hawari kemudian pulang dan membaca qaedah-qaedah tersebut kepada murid-muridnya. Saat Qadhi Husain mengetahui kejadian ini, beliau terinspirasi untuk segera merangkum mazhab Syafii dalam 4 qaedah kubra, yaitu :
اليقين لا يزول بالشك
المشقة تجلب التيسير
الضرر يزال
العادة محكمة
Demikianlah latar belakang lahirnya qaedah kubra dalam mazhab syafii hingga kemudian digenapkan oleh sebagian ulama menjadi 5 qaedah dengan tambahan,
 
الامور بمقاصدها
(Asybah wan Nazhair fil Furu' hal 5 Cet. Haramain dan Fawaid al-Janiyyah, Jilid I Hal 70 cet. Dar Ar-Rasyid)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Mutiara Nasehat dari Dzurriyah Rasulullah