Pendapat Imam al Ghazali Tentang Menghina Pemimpin Zalim


Majalahumdah.comSaat ini kita hidup di zaman fitnah. Kebenaran dan kesalahan seakan menjadi samar dan sulit untuk dibedakan. Maka alangkah baiknya kita kembali kepada para ulama yang telah diakui kapasitas keilmuan melalu turast mukhtabar yang telah dikaji ratusan tahun diberbagai belahan bumi untuk kemudian menjadi rujukan dalam menjalani kehidupan yang singkat ini.

Melihat fenomena yang berkembang akhir-akhir ini, tidak ada salahnya kita kembali mengkaji nash kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Imam Ahlussunnah Waljamaah dalam konsep tasawwuf. Apa tanggapan beliau tentang bagaimana sikap seharusnya dalam menghadapi pemimpin yang zalim. Apakah dengan caci maki ? Berikut redaksi dan terjemahannya.

واعلم أن السلطان به قوام الدين فلا ينبغي أن يستحقر وإن كان ظالماً فاسقاً
Ketahuilah, sesungguhnya dengan pemimpin tegaknya agama. Maka tidak sepantasnya pemimpin itu dihina, walaupun ia berbuat zalim dan fasiq.
قال عمرو بن العاص رحمه الله إمام غشوم خير من فتنة تدوم
Amru bin 'Ash rahimahullah berkata: "Imam yang zalim lebih baik dari pada kekacauan yang tidak berpenghujung."

وقال النبي صلى الله عليه وسلم سيكون عليكم أمراء تعرفون منهم وتنكرون ويفسدون وما يصلح الله بهم أكثر فإن أحسنوا فلهم الأجر وعليكم الشكر وإن أساءوا فعليهم الوزر وعليكم الصبر
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan datang kepada Kalian pemimpin-pemimpin dimana kalian mengenal mereka, namun mengingkari (perbuatan mereka). Mereka berbuat kerusakan. Namun kebaikan yang Allah berikan dengan sebab mereka lebih banyak. Jika mereka berbuat baik, mereka mendapatkan pahala dan kalian wajib mensyukurinya. Jika mereka berbuat hal yang buruk, mereka berdosa, dan kalian mesti bersabar."
(Imam Al-Ghazali, Kitab Ihya Ulumiddin, Juz 4 Hal. 96 Cet. Haramain)

Demikian kurang lebih nash Ihya Ulumiddin, silahkan dibaca nash kelanjutannya, Insyaallah nash Ihya akan mencerahkan kita.
Selain itu, kita juga bisa melihat bagaimana perintah Alquran terkait soal interaksi dengan pemimpin yang zalim. Rasanya tidak ada pemimpin yang lebih zalim dari Fir'aun. 

Namun mari perhatikan bagaimana Allah perintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun dalam berinteraksi dengan Firaun.
اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ (44)
"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS Thaha 43-44).

Kalaulah pemimpin zalim sekaliber Fir'aun diperintahkan untuk didakwahkan dengan kelembutan, padahal yang mendakwahinya para Nabi. Bagaimana dengan kita? Kesalahan kita terlalu banyak, zalimnya pemimpin kita tidaklah separah Fir'aun, maka sudah seharusnya kita hindari segala bentuk caci maki, penghinaan apalagi sampai pada tingkatan fitnah.

Mari perbaiki diri kita dan doakan pemimpin kita. Kalau rakyatnya baik dan pemimpin terus dikirimkan doa oleh rakyatnya, Insyaallah negeri ini juga akan semakin baik. Siapapun pemimpin kita, sekarang dan nanti, tugas kita adalah mendoakannya.

Demikian sekilas tulisan ini, semoga bermanfaat agar kita semakin cerdas dalam menjalani kehidupan berbangsa dan beragama. Amin.

Wallahul Muwaffiq!!!

Penulis : Tgk Muhammad Iqbal Jalil


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Mutiara Nasehat dari Dzurriyah Rasulullah