Nasionalisme Dalam Perspektif Islam



Majalahumdah.comNasionalisme adalah paham kebangsaan (persatuan bangsa) dan hub al wathan. Nasionalisme semestisnya terpatri dalam jiwa setiap anak anak bangsa agar tumbuh rasa tanggung jawab akan keutuhan serta terjaganya  stabilitas kemanan dalam bangsanya. Rasa nasionalisme juga memotivasi setiap warga negara untuk terus berkarya memajukan bangsanya. Jiwa yang ada didalamnya sikap cinta tanah air akan menjadikan menghidupkan identitas dan rasa bangga sekalipun dia sedang berada dalam sudut bumi yang lain.

Dalam sirah Nabawiyah dikisahkan tatkala Rasulullah SAW tengah perjalan hijrah menuju Madinah, Rasulullah sangat merindukan Mekah tanah kelahirannya dan awal dari semua ceritanya dalam memulai menyiarkan agam Islam, Mekah sangat melekat dalam jiwa Rasulullah.

Suatu ketika saat Rasa rindu itu memuncak Jibril bertanya “Apakah engkau merindukan negerimu ? “ “Ya” kata Nabi lalu turunlah surat al Qasash 85 “Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk menerapkan hukum hukum Alquran dan akan mengembalikanmu ke Mekah” (Tafsir al-Khazin juz VI)
Menurut Ismail Haqqi dalam tafsir Ruh al Bayan pada ayat tersebut mengisyarah bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Dalam sahih Bukhari Nabi SAW bersabda :
كان اذا قدم من سفر فنظر الى جدران المدينة اوضع راحلته وان كان على دابة من حبها.
 رواه البخارى
“Ketika Rasulullah pulang dari bepergina dan melihat dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju untanya dan bila mengendarai tunggangan (seperti Kuda), maka beliau gerak gerakan karena cinta pada Madinah”

Al Hafizh Ibn Hajar al Asqalani  dalam Fathul Barri juz III, menegaskan
وَفِي الْحَدِيثِ دِلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِيْنُ إِلَيْهِ
“dalam hadist itu terdapat petunjuk keutamaan Madinah dan disyariatkan mencintai tanah air serta merindukannya”

Saidina Umar ibn Khatab RA pernah berkata “ Seandainya tidak ada rasa cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur seuatu negeri yang terpuruk, maka dengan cinta tanah air negeri negeri termakmurkan” (tafsir Ruh al bayan)

riz.ar



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Mutiara Nasehat dari Dzurriyah Rasulullah