Nak, Ubahlah Do’amu



Majalahumdah.com Pendiri tarikat Naqshabandi Syeikh Bahauddin al-Naqshabandi pada usia 18 dikirim kakeknya ke desa Samas untuk belajar pada seorang syeikh. Di masa awal pendidikannya di bawah Syeikh al-Samasi rahimhu Allah, ia menceritakan:

“Saya selalu bangun pagi-pagi, tiga jam sebelum waktu shalat subuh, mengambil wudhu, dan menghidupkan malam itu dengan shalat sunnah. Setelah itu saya akan bersujud, memohon kepada Allah dengan doa seperti ini:

“Ya Tuhanku, berikanlah aku kekuatan untuk memikul segala kesulitan dan rasa sakit dari cintaMu.”
Kemudian saya akan melakukan shalat subuh berjamaah dengan Syeikh al-Samasi. Suatu hari, dalam perjalanan keluar masjid, Syeikh al-Samasi menatap saya dan berkata—seolah-olah dia mengetahui doa saya setiap selesai shalat sunnah. Dia berkata:

“Wahai putraku, kau harus ubah cara doamu. Sebaiknya kau mengatakan: “Ya Tuhan, berikanlah nikmat dan kesenanganMu kepada hamba yang lemah ini.”

Allah tidak suka hamba-hambaNya berada dalam kesulitan. Meskipun Allah dalam kebijaksanaanNya mungkin memberikan beberapa kesulitan kepada hamba-hambaNya untuk menguji mereka. Tapi tetap saja, seorang hamba tidak boleh meminta berada dalam kesulitan. Itu namanya tidak menghormati Tuhanmu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru