Kisah Seorang Ulama yang melupakan Guru Alifba



Majalahumdah.comBanyak salah menjalankan teori adab kepada guru, ketika dimuliakan oleh banyak orang kita lupa kepada guru yang mengajarkan kita dari dasar di desa dahulu guru yang telah mengajarkan kan kita Huruf Hijaiyah Alif, Ba, Ta, Tsa dan seterusnya maka saat itu sebenarnya kita sedang tidak beradab.

Dikisahkan ada satu ulama yang bernama Tgk.Syik Dicucum beliau salah satu waliyullah dan salah seorang ulama yang hidup masa kesultanan aceh, selain aktif dalam membimbing umat belau juga sempat mengarang satu kitab yang diberi nama Abwaburrahim.

Dalam kitab itu, diceritakan ada seorang yang keilmuannya sangat luar biasa, seperti sinar mentari dikegelapan banyak orang yang bertanya permasalahan agama kepada, kealimannya diketahui digala penjuru daerah tersebut, maka saat itu belua dimuliakan oleh murid murid dan masyarakat luas. Sampai suatu hari beliau punya sikap yang tidak elok kepada guru yang telah mengajarkan huruf Hijaiyah saat dahulu dikampung halaman, sebelum meniti rihlah ilmiah disalah satu dayah ditempat lain.


Suatu hari ulama itu, datang kesebuah acara yang kebetulan jalan yang dilewati harus melewati pematang sawah, dipertengahan jalan yang sempit berpaspasan dengan guru yang mengajarkannya huruf Hijayyah. Akan tetapi ulama itu tidak bergeser sedikitpun, dia tetap berjalan dipematang sawah bersama beberapa orang pengkhadamnya. Adapan sang guru dialah yang tawadhu merendah kepada muridnya denagn mengeserkan murid agar dia lewat denagan leluasa sembari melihat ulama yang dia kenal merupakan muridnya dahulu.

Wajar saja guru yang mengajarkan dia ketika masih kecil masih seperti biasa keilmuannya, ditambah lagi balai tempat dia mentrasfer ilmu juga tidak bertambah besar,sedangkan muridnya sudah menjadi ulama besar , memiliki pesantrennya besar dengan jumlah murid yang banyak.

Ulama itu juga tadi tidak mengatakan kepada murid muridnya bahwa itu gurunya.

Sesaat kemudian.
Khadam berkata  : “siapa itu wahai guruku ?” 
Ulama : “ooh itu sifulan bin fulan yang rumahnya disana”

Khadam “saya dengar beliau guru yang mengajarkan
membaca alquran dikampung ini dulunya , apa benar wahai guru? “


Ulama : “oh kurang tahu saya, ada atau tidak mengajar
dulunya”


Terdengar ucapan ulama tadi oleh guru nya,dengan hati yang sedih beliau berjalan kembali setelah dilewati ulama sembari berkata “yaa Allah, ilmu Alquran yang saya ajarkan padanya tidak berkat, bukan pada tempatnya, semua ilmu yang telah saya berikan tarik kembali ya ALLAH tidak cocok Alquran duduk pada jiwa yang didalmnya ada kesombongan”. Kemudian guru nya tadi kembali pulang setelah selesai melakukan pekerjaannya disawah.

Hendak meneruskan perjalanan Ulama besar dan khadamnya pergi kesebuah acara dirumah salah satu warga, ternyata ribuan warga sudah menunggu kedatangannya,  hujan kemulian dia raih. Ada yang mencium tangannya,  dan memeluknya.

Tibalah sampai waktu nya ulama itu diminta oleh khalayak ramai untuk berdoa, Tetapi alangkah terkejutnya, jangankan untuk berdoa untuk membaca Bismillah pun dia tidak bisa, huruf demi huruf yang dahulu hilang tak berbekas. Huruf yang pernah dieja oleh guru alif ba dahulu hilang bagai debu yang dihembus angin kencang.

Dari kisah ini setidaknya kita sebagi ahli ilmu yang kian bertambah ilmu utuk selalu khadam kepada guru alifba, karena ilmu ilmu itulah yang menhantarkan kita kepada tafaqquh seperti sekarang. Adakah perbendeahraan ilmu itu tidak diawali dengan ilmu ilmu dasar dahulu ? dan bukankah ilmu itu Nurullah dan dia tidak duduk dalam jiwa jiwa yang angkuh.


Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata :
مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ
“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru