Wujud Allah Tidak Terkait Zaman, Tempat dan Arah


MajalahUmdah.comApa itu zaman? Bagaimana maksud wujud Allah tidak ada hubungan dengan zaman? Lalu kapan Allah ada kalau wujudnya tidak terkait dengan zaman? Nah, untuk menjawab hal ini kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan zaman. Adakah ia maujud (ada) atau hanya berupa amr al-i'tibari?

Zaman itu sebenarnya hanya berupa amr al-i'tibari, sama seperti tinggi dan pendek di mana yang wujud adalah benda-benda. Sedangkan tinggi dan pendek hanya perbandingan saja. Misalnya ada 2 benda, benda A lebih tinggi daripada benda B, maka kita katakan benda ini tinggi. Lalu saat dibandingkan dengan benda lain yang lebih tinggi, tinggi yang ada pada benda A menjadi hilang seketika. Itu artinya tinggi atau pendek itu tidak memiliki eksistensi pada dirinya, ia hanya menjadi perbandingan saja. Begitulah zaman. Zaman hanyalah amr al-i'tibari.

Para ulama mutakallimin menafsirkan zaman dengan;
مقارنة متجدد موهوم بمتجدد معلوم ازالة للابهام
"Menghubungkan kejadian yang tidak menentu dengan kejadian yang maklum untuk menghilangkan kesamaran."

Makan misalnya, suatu kejadian yang waktunya tidak teratur, maka kita tautkan dengan terbit matahari yang kejadiannya teratur. Terbit dan terbenamnya matahari adalah mutajaddin maklum, suatu kejadian yang tetap. Oleh karena itu memungkinkan untuk dibuat imsakiyah sepanjang masa yang berpedoman pada waktu terbit dan terbenamnya matahari. Maka kita katakan;
1. Saya makan saat terbit matahari.
2. Saya makan pukul 15.00, artinya saya makan saat bumi berotasi pada posisi 15/24.
3. Saya akan datang ke rumahmu setelah terbenamnya matahari.

Itulah beberapa contoh menautkan kejadian yang tidak tetap (mutajaddid mauhum) dengan kejadian yang tetap (mutajaddid ma'lum), sehingga hilanglah kebingungan. Bayangkan kalau mutajaddin mauhum tidak dikaitkan dengan mutajaddid ma'lum, "Saya datang ke rumahmu saat saya datang ke rumahmu." tentu saja akan membingungkan.
Jadi zaman adalah mengaitkan dua kejadian tersebut. Dengan demikian sebenarnya yang maujud hanya kejadian mauhum dengan kejadian maklum, sedangkan zaman hanya berupa amr al-i'tibari, atau sekedar perbandingan saja.

Arah seperti itu juga, amr al-i'tibari. Arah tidak maujud. Atas, bawah, kiri dan kanan hanya berupa amr al-i'tibari yang digunakan untuk membandingkan antara beberapa benda yang maujud. Dengan demikian saat alam semesta ini belum diciptakan, tidak ada yang dapat dan perlu dibandingkan, sehingga zaman dan arah juga belum ada.
Allah telah ada sebelum alam semesta ini diciptakanNya. Allah ada sebelum adanya langit dan bumi serta segala isinya. Maka adanya Allah sama sekali tidak berkaitan dengan tempat, arah dan zaman yang ke semua itu merupakan ciptaanNya.

Lalu bagaimana mungkin wujudnya Allah tidak bertempat? Pertanyaan ini sama seperti kondisi manusia pada saat belum ditemukan HP, tentu saja akalnya tidak menerima kalau komunikasi jarak jauh itu bisa dilakukan tanpa pita suara. Artinya kita tidak boleh menafikan sesuatu yang tidak mungkin pada kita, di zaman kita dan di tempat kita kepada orang lain. Itu baru sesama manusia. Apalagi antara hamba dengan Sang Pencipta. Maka tentu saja lebih tak berhak lagi kita menganggap sesuatu yang tidak mungkin bagi kita makhluk, hal itu tidak mungkin bagi Allah sebagai Khaliq.
Yakinilah bahwa Allah sangat berbeda dengan makhluknya. Inilah makna dari Mukhlafatuhu Lil hawadis, yaitu Allah sama sekali tidak sedikit pun sama dengan makhlukNya, termasuk pada persoalan butuh kepada tempat.

... لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"... Tidak ada sesuatu apapun yang serupa bagi Allah. Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Syura: 11)

Moga Allah jaga aqidah kita

Penulis: Tgk H Muhammad Iqbal  Jalil

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Mutiara Nasehat dari Dzurriyah Rasulullah