Hubungan Antara Berusaha dan Bertawakkal, Manakah yang Harus Didahulukan?




Usaha dan doa, merupakan dua perkara yang selalu dikerjakan oleh orang yang beriman. Berdoa sebagai wujud minta tolong kepada pencipta, dan usaha sebagai realisasi dari permintaanya.
Antara usaha dan doa saling melengkapi. Sehingga ada pepatah yang mengatakan “berdoa tanpa usaha bohong, usaha tanpa doa sombong”.
Namun, bagaimanakah hubungan keduanya dalam kacamata agama, apakah keduanya saling berkaitan atau saling menentang? Bagaimanakah hubungan antara usaha dan tawakkal menurut agama Islam?
Syaikh Ibrahim bajuri dalam kitabnya Tuhfatul Murid menjelaskan, terjadi perbedaan pendapat ulama antara keutamaan usaha dan tawakkal, sebagian ulama berpendapat, usaha lebih baik dari tawakkal, karena dengan berusaha kita tidak mengharap pemberian manusia, tidak merendahkan diri dikalangan manusia untuk memperoleh pemberian mereka, sehingga lebih fokus dalam beribadah kepada Allah.
Pengertian usaha disini adalah :

مباشرة الاسباب بالاختيار

Artinya melakukan sebab secara ikhtiar

Sedangkan sebagian ulama berpendapat, tawakkal lebih baik dari bekerja. Karena dengan bertawakkal kita lebih luang waktu untuk beribadah kepadanya. Lebih kuat harapan kepada Allah dalam memenuhi kebutuhan, dan lebih aman dari fitnah harta dan perhitungan di hari kiamat.
Tawakkal adalah Berpegang teguh kepada Allah tanpa mempedulikan segala sebab namun mungkin untuk melakukannya.  Misalnya, seseorang yang mungkin untuk berdagang, ia punya modal dan dan tempat untuk berdagang, namun ia tidak berdagang, lebih memilih untuk beribadah sambil meyakini bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhannya, maka orang yang seperti ini lebih baik menurut sebagian ulama.

Sedangkan pendapat yang kuat adalah, lebih utama bertawakkal dan berusaha ditinjau dari pribadi seseorang. Jika ia mampu bersabar dalam kesulitan hidup, tidak terikat hatinya dengan harta orang lain, dan senantiasa bisa damai tanpa adanya rasa cemas, tetap fokus beribadah, maka tawakkal lebih baik baginya. Namun jika hatinya was was saat tidak bekerja, akan terjerumus kedalam mencuri dan meminta-minta, maka baginya lebih baik bekerja daripada tawakkal, bahkan terkadang tawakkal hukumnya wajib baginya.

Perbedaan pandangan ini terjadi jika antara bekerja dan tawakkal adalah hal yang kontradiktif. Namun jika kita beranggapan tawakkal dan berusaha adalah dua hal yang tidak menentang, bahkan saling melengkapi satu sama lain, maka tidak ada yang lebih unggul antara keduanya, karena berbeda sudut pandang.

- Ibrahim Al Bajuri,Tuhfatul Murid Ala Jauharah Tauhid Hal 127 Cet, Haramain

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru