Motivasi Wanita Shaleha Untuk Hijrah


Motivasi Wanita Shaleha Untuk Hijrah


Cut tidurmu sudah cukup tak ada lagi waktumu untuk meraup. Acehmu tak lagi sama seperti Serambi Mekkah. Negeri tak lagi sama seperti negeri Islam yang cerah. Hanya kegelapa yang tersisa dibalik luapan beribu pulau. Hanya kemaksiatan yang tertancap ditanah surga Rencong. Pedih hati ini tersiram raksa bencana, melihat engkau bermesra padu denagn mereka para Teuku. Seakan engkau dan maksiat hanya bertabir selapis sutra tipis. Oh tidak sewaktu waktu dia juga akaN terbang bersama angin buaian. Hingga kau juga akan terikat mesra dengan kemaksiatan.Tertawalah Cut, karena aku akan menangis.

Cut dimana jilbabmu ?Dimana rokmu? Dimana gamismu??  Dan dimanakah harga dirimu. Aku rasa dahulu kau tak begitu. sebelum arus  gelombang muncul 14 tahun yang lalu,  kau masih melekatkannya dalam ragamu, harga dirimu masih kau junjung tinggi dalam balutan keimanan, kau jaga dirmu layaknya permata dalam berangkas taqwa. Mungkin, pakaian syari dan harga diri kini telah dibawa hanyut oleh air hitam. Miris hanya pilu yang kutau.

Cut, tangisan malam ini kurasakan untukmu. Mungkin bukan hanya malam ini tapi sejak 14 tahun sialam, tiap teteasan air mata langit selalu tertuju padamu jika kau melihat matahari terseyum. Itu  hanyalah senyum ejekan. Aku yakin itu. Tak usah berbangga dengan gelar bangsawan yan telah tiada, karena bagiku Cut Nyak Dien dan Cut Mutia telah tiada. Tak ada lagi Cut yang perlu kusanjung mesra.

Cut bangunlah sudah cukup kau terbuai dalam nikmat kefanaan. Cut Mutia menunggumu bangkit. Cut Nyak Dien menunggumu berperaang. Tak perlu kau pegang rencong ditangan. Tak perlu jua kau runcingkan bambu sebagai tusukan. Kau hanya perlu memegang selembaran putih kehidupan. Dan kau hanya meruncingkan penamu untuk melukiskan kehidupan keislaman dalam lembaran. Perangmu bukan unuk meruntuhkan darah. Karena perangmu sekarang adalah meruntuhkan bencana kejahilan ilmu agama. Coba kau tanya denagn temanmu ! masihkah dia menghapal rukun rukun agama ? jika  jawabnya tidak ? itu tugasmu Cut !

Cut kau sudah bangunkan ? bangunlah karena aku punya sebuah ungkapan yang akan kusampaikan ! Ungkapan ini dari saudara kita yang tinggal ditanah Syaikh Yusuf al Naqassary. Kata mereka"Siri' na pacce". Kehormatan itu penebusnya rasa perih yang ditahan. Asalkan iman tidak hilang dan kasih sayang Allah tidak dicabut. Sudahkah kau dengar ? Ayolah cuci wajah mu dengan wudhu yang meneyegarkan agar bagunmu tak sementara, tapi bertahan hingga tidurmu diperbaringan nyata.
Cut tolong rekatkan kembali sendi sendi peradaban yang telah hancur. Karena dulu kita bersatu dalam perdaban Islam yang nyata, yang kurindui sejak tak lagi ada. Kulepaskan tanggung jawab ini pada kita bersama, membimbing Aceh kita pada keharuman dan kekokohan Islam yang sempurna. Bangunlah Cut ! Gerakan langkahmu ! Insya Allah setiap langkah itu akan terbayar. Jadi bangunlah dan lakukanlah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru