Mengenal Tentang Hati, Suara yang Tidak Terdengar Di dalamnya



MajalahUmdah.com.Hati itu sangat hebat. Ia luas dan halus. Perwujudannya seperti lautan yang tak terbaca seberapa deras aliran lautannya, dan seperti angin yang menangis dingin, sangat sulit ditebak darimana datang dan perginya. Di dalamnya terkandung ribuan ungkapan cinta, rindu, sakit dan luka. Di dalamnya pula tersimpan cahaya dan kegelapan.

Mengenal tentang hati adalah sebuah langkah untuk kemudahan menapaki tangga kehidupan ini. Bagaimana cara mengayuh dengan baik dan benar itu diawali dari perintah hati. Tentang siapa yang hendak kita jumpai, apa yang akan kita lakukan, semuanya tak terlepas dari kehendak hati.
Maka hati itu tidaklah bisu. Ia pernah berbicara pelan, berbisik dan memerintah anggota tubuh. Ada suara yang tidak terdengar di dalamnya. Suara hati.

Pribadi yang Baik, Akan muncul Dari Pemilik Hati yang Baik

Hati dapat memunculkan sedih dan bahagia, yang kemudian digambarkan oleh bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan oleh semua indera kita. Segala sesuatu yang tersembunyi di dalam hati akan terbaca jelas tentangnya dari dhahir keadaan manusia. Gerak gerik tubuhnya akan berbicara tentang maksud yang tersembunyi di dalam hati. Tubuhnya dapat bercerita tentang siapa dirinya.

وَمَهْمَا تَكُنْ عِنْدَ امْرِءٍ مِنْ خَلِيْقَةٍ واِنْ حَالُهَا تَخْفَى عَلَى النَّاسِ يُعْلَمُ
“Manakala pada seseorang terdapat suatu akhlak, sekalipun keadaan akhlaknya tersembunyi dari manusia, maka akhlaknya akan dapat diketahui”.
Sesungguhnya tidak ada yang bisa kita sembunyikan. Segala perilaku tubuh itu akan menggambarkan kondisi dari hati. Bila hati mencintai sesuatu, ada begitu banyak anggota tubuh yang sulit ditahan keinginan cintanya. Bila hati telah merasakan rindu, sungguh sangat sulit bagi anggota tubuh untuk terdiam bohong dengan luka rindunya.

Siapa yang pernah mengungkapkan rasa cintanya terhadap Allah ta’ala? Siapa yang tak bosan mengumpulkan kalimat cintanya kepada Rasulullah? Maka sesungguhnya, semua itu dapat ditandai oleh anggota tubuh yang secara terpaksa dan tanpa menyerah menggambarkan segala bukti-bukti cinta.

Dengan ini, kita dapat menilai diri sendiri. Seberapa jauh rasa cinta dan takut yang telah kita curahkan kepada Allah ta’ala. Berapa banyak doa-doa aduan tentang ketakutan dan harapan yang kita langitkan? Berapa banyak air mata yang menetes pelan pada kesendirian yang gulita? Semua ibadah itu adalah tanda dan bentuk cinta dari hati.
دَلَائِلَ الْحُبَّ لَا تُخْفَى عَلَى اَحَدٍ كَحَامِلِ الْمِسْكَ لاَ يَخْفَى اِذَا عَقَبَ
“Tanda cinta di dalam hati, tidak dapat tersembunyi dari seorang pun, laksana pembawa kesturi tidak bisa bersembunyi apabila wewangiannya telah pecah”

Hati seperti cermin

Ibnu Athaillah di dalam kitabnya al-Hikam menganalogikan hati dengan sebuah cermin. Ia dapat memantulkan cahaya yang utuh dan sempurna jika permukaan cermin tersebut bersih dari kotoran-kotoran yang menghalanginya.
كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ الأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِى مِرْآتِهِ
Artinya: “Bagaimana hati bisa bersinar, sementara gambaran-gambaran duniawi/material masih mengotori cermin hati tersebut.”

Ibnu Athaillah menggambarkan kotoran tersebut layaknya wujud material (al-Akwan) yang kerap bersarang di hati para seorang pencari keridhaan Allah ta’ala. Segala sesuatu tentang dunia yang masih memenuhi sebagian atau seluruh hati mereka, akan menjadi penghalang utama bagi hatinya untuk melihat keindahan beribadah serta merasakan kenikmatan di dalamnya.

Menjaga Hati

Hati telah menjadi pusat perhatian Allah SWT terhadap seorang hamba, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.”
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa-rupa kalian juga harta-benda kalian, melainkan Allah melihat hati-hati kalian juga amal-perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

Menjaga hati adalah bagian yang sangat penting demi terjaga segala sesuatu yang dimunculkan dari hati itu. Sikap dan tingkah laku yang baik,  dapat diketahui bahwa hatinya adalah baik pula, begitupun sebaliknya.
أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ
“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, yang jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuhnya, dan jika ia buruk, maka buruklah seluruh anggota tubuhnya, ia adalah ‘qalbun’ (hati).” (HR.Muttafaq alaihi)

Hati merupakan tempat berkumpulnya segala titik fokus manusia. Jika hati kita keruh, dengan berbagai urusan duniawi/material, hal tersebut akan membuat fokus perhatian kita tercerai-berai, yang akan menjadikan hati kita sulit untuk bersinar jernih, layaknya sebuah cermin yang berdebu dan tak terurus.

Sangat perlu memperhatikan hati agar ia terus hidup menjadi cahaya yang memberi petunjuk. Hal ini akan terealisasikan sekaligus dengan tidak membiarkan hati itu mati secara perlahan-lahan. Kita harus menjaga cahayanya agar tetap bersinar.  Sesanggup mungkin.   

مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَىْ مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافِقَاتِ، وَتَرْكُ الْنَّدَمِ عَلَىْ مَا فَعَلَهُ مِنْ وُجُوْدِ الْزَّلَّاتِ
"Di antara tanda-tanda kematian hati (adalah) tidak adanya kesedihan atas apa-apa yang meninggalkanmu berupa (kondisi-kondisi/amalan-amalan) yang sesuai (al-muwafiqati). Dan tidak meninggalkan penyesalan atas apa-apa yang telah engkau lakukan berupa ketergelinciran-ketergelinciran (perbuatan-perbuatan yang menyimpang)."

Jangan membiarkan hati itu mati. Jangan biarkan ia kotor. Setiap satu titik hitam yang mungkin muncul karna perbuatan dosa berusahalah memperbaikinya. Allah tidak pernah menutup pinta kesempatan untuk manusia yang berjijrah dari kegelapan. Di setiap nafas kehidupan yang masih tersisa, pada detik itu pun masih ada kesempatan yang sangat penting.

”Tiada suatu nafas terlepas dari padamu, melainkan di situ pula ada takdir Allah yang berlaku atas dirimu.”
Pertemuan ini tidaklah lama. Kita akan menyerah suatu saat nanti. Berhenti di penggalan waktu yang tertentu, yang tak pernah diketahui kapan masanya.

Setiap satu kunang-kunang pun akan dapat menerangi. Dan jika semua kunang-kunang kebaikan terkumpul banyak dalam kegelapan hati, maka semua kebaikan itu akan menjelma layaknya rembulan. Seperti itu sifatnya taubat. Tidak terkalahkan benderang cahayanya, meskia awalnya kita hanya pendosa, dan bukan siapa-siapa.

#Tgk Riza Rifani



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru