Lilin

Gambar terkait

Majalahumdah.comLilin adalah penerang dalam kegelapan, kehadirannya dalam suasana itu mengembirakan. Dengan lilin literasi ulama kembali bisa dibaca ketika lampu seolah sedang tidak setia, wajah yang telah lama dirindu terlihat sekalipun dalam gelap. Namun siapa sangka dalam menerangi  sekitar  lilin mencelakai dirinya, dalam sadar atau tidak lilin membakar diri, membuatnya mencair lalu tak lagi berdaya apalagi berharga.

 Bagi kaum sarungan lilin memiliki nilai filosofi yang mendalam, konon lagi santri adalah tombak yang di siapkan bisa menerangi sekitar baik saat gelap atau pada susana bisa. Namun ada lautan kekhawatiran ketika santri bercahaya bak lilin dalam kegelapan saperti tadi “melelah tak berdaya”.  Menerangi,  mengembirakan tapi kosong manfaat baginya sendiri.

Kadang acap kali kita layaknya lilin, menerangi lingkungan sekitar baik keluarga atau masyarakat umum, ditambah di zaman milenial ada banyak rekan dunia maya di Whatshap, Instagram yang bisa setiap waktu menerima vitamin keimanan tapi sayang jika benar sang akun ternyata  gelap, gelap sekali. Kini cahaya  yang disebarnya tak seiindah story sosmed yang saban hari menghiasi. Ya begitulah prilaku lilin dia terpatri dengan sebuah pencitraan saja, jika benar  pencitraan itu terjadi namun sayang sifatnya semu.

Bagi pendukung sifat lilin sebenarnya ada alibi yang  kadang meraka gunakan  yaitu Sabda Rasul SAW, “ Sampaikan dariku walau hanya satu ayat” perlu dikatahui bahwa hadis ini merupakan motivasi untuk menyampaikan pesan agama dan tidak menafikan bahwa si Dai hanya diam, cukup sampaikan ilmu lalu lupa dengan dimana posisinya dihadapan Allah dan RasulNya. Bagaimana amaliah dirinya, masihkah hatinya seperti saat baru dilahirkan? Ingatkah kisah Iblis Azazil saat menjadi guru malaikat , Iblis yang lupa medoakan dirinya agar selamat dari kalangan yang pada ilmu Allah adalah hamba durhaka, sedangkan para malaikat bersimpuh agar Azazil mendoakan para malaikat agar terlepas dari golongan yang dimurkai tersebut.

Benar memang, dalam menyampaikan nasihat tidak harus menunggu sipemberi nasihat sempurna dan terlepas dari dosa sebab jika demikian hanya Nabi SAW yang layak menyampaikannya,  namun hal ini juga di imbangi dengan kebaikan dan perbaikan pada diri sendiri. Ada Ilmu dan Nasyru tapi tapi jangan lupakan pengaplikasian ilmu itu harus dimulai dari diri sendiri Ibda’ binafsih ! bukankah Lisanul hal ahsanul min lisanil maqal  (bahasa tubuh lebih baik dari perkataan). Allah berfiman "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (As Shaff:2-3)

Terakhir, coretan ini bukan dimaksudkan untuk memvonis cercahna cahaya lilin yang telah menerangi lantaran hati menduga duga mereka yang berusaha bercahaya  adalah lilin semata, atau bahkan kita yang mengundurkan diri dari perjuangan memberikan cahaya, tapi ini adalah pesan singkat agar terus dan kuatlah para kaum sarungan memberikan cahaya demi cahaya sebab sekecil apapun cahaya tetaplah dia bermanfaat. Bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain. Cahaya yang sanggup menyongsong kemangan yang dijanjikanNya. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (Muhammad:7)

riz.ar


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru