Jazakallah Khaira Guru.




Majalah Umdah.com Coretan ini terinspirasi pada suatu kejadian di dalam masjid Photemorehom ,  seorang santri yang  tertidur ketika  Yasin Fadhilah, lalu ada dua tangan yang berlabuh dan mengurut santri tersebut sambil terseyum. Duhai,  bagaimana mungkin beliau bisa melihat santri tertidur padahal saat ini jumlah mereka tidaklah sedikit ? Bagaimana mungkin mereka melakukannya itu sepanjang hari dan malam ?

Ini adalah sekerumit potret yang sering kita lupakan betapa hebatnya perhatian seorang guru kepada muridnya. dan pena yakin ada lebih banyak kejadian serupa yang membuat perasaan ini luluh lantak, dan lisan harus mentasbihkan " Jazakallah Khaira Guru" .

Berangkat dari empati layaknya pewaris ambiya mengajak kepada  kebaikan bersama sama. Sadar atau tidak, ditiap detik murid ada sosok yang selalu takut tenang apa dan bagaimana keadaan muridnya. Jika ada pilihan kata yang lebih hebat dari "takut" maka itulah kata kata yang cocok dalam masalah ini, "takut" bila muridnya tidak berhasil, sebab guru merasa bahwa mereka tutut menjadi sebab kegagalan murid muridnya,  walaupun sebenarnya rasa takut tidaklah benar. 

Selanjutnya, adakah Ayah yang ingin anaknya masuk dalam dalam kubang buaya yang kotor dan mematian, pastlah tidak jangankan mati dimangsa buaya, kotor saja adalah aib baginya.
Barterimakasihlah !! sebab terimaksih adalah hal yang paling sederhana dari lisan murid. Memilih diam dan mengambil hikmah dari kajadian dan tindakan lebih menyenangkan dari pada menabur kata benci yang bermuarakan dari hitamnya hati.

Jika hari ini kita bukanlah Saydina  Ali RA yang siap dengan jiwa raganya untuk sang Guru SAW maka masuklah dalam barisan Tabiin seperti Hasan Basri yang ta'zim kepada  Sayyidah Aisyah RA, jika tidak?  masuklah dalam barisan Imam Syafii ketika berkidmat kepada Imam Malik, jika tidak juga ? masuklah pada shaf shaf dibelakang mereka, dan jangan berlawan arah.

 “Man lam yasykurinnâs lam yasykurillâh”, kata Nabi Muhammad saw., sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia tidak bersyukur kepada Allah.Allah tidak menghadirkan anugerah ilmu secara langsung kepada manusia biasa seperti kita. Ada perantara penyampaian karunia Allah kepada manusia. Perantara itu antara lain adalah manusia lain.

Menjadi seorang pelajar tidak terlepas dari peran seorag guru, maka jika hari ini kita masuk dalam penuntut  yang tidak berterimasih kepada guru maka secara lazim kita adalah bagian yang  enggan berterimakasih kepada Allah. 

“Siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memuji orang tersebut, karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya. Jika dia menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkari kebaikannya. Seorang yang berhias terhadap suatu (kebaikan) yang tidak dia kerjakan atau miliki, seakan-akan ia memakai dua helai pakaian kepalsuan.” (HR Tirmizi)

"Guru.. Alifmu telah mengantarkanku mengenal Sang Maha Guru"

#Kun Qawiyan



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru