Derajat Perempuan dalam Mahabbah Rasulullah SAW



MajalahUmdah.com Pada abad ke 6 sebelum Rasulullah lahir, derajat para wanita sangat-sangat tidak dihargai oleh hampir dari semua bangsa-bangsa.
Di Arabia
Mereka sangat membenci bayi perempuan, jika yang mereka dapati bayi perempuan, maka mereka akan menguburkannya hidup-hidup.
Di India
Ada tradisi Sute, yaitu seorang istri harus ikut dibakar bersama mayat suaminya, jika suaminya yang lebih dahulu meninggal.

Di Persia
Pernah muncul seorang tokoh bernama Mazdak, ia mengeluatkan pendapat yang sangat aneh. Menurutnya, kekayaan dan wanita harus dikolektifkan dan dijadikan milik publik. Akaran ini mendapat dukungan dari para pemuda yang tak bermoral. Bahkan raja Qubads ikut mendukung ajaran tersebut.

Lihatlah...!!!
Sebegitu hinanya para wanita, sehingga ia hanya bisa membisu dengan apa yang terjadi diatasnya. Ia mampu bersuara, namun apa suatanya akan didengar ?

Seluruh dunia, bukan hanya negara Arab saja, benar-benar berada dalam kegelapan yang sangat pekat pada saat itu. Kemudian beliau muncur dan membawa obor baru peradaban dunia. Kegelapan itu  srta-merta berbalik menjadi cahaya yang merembet kesegenap penjuru dunia.

Bel;iaulah Rasulullah yang dengan mahabbahnya beliau mampu menata pola pikir manusia. Beliau angkat derajat para wanita, diwajibkannya mahar kepada para laki-laki apabila ingion memiliki wanita yang ia kehendaki. Beliau perbolehkan fasakh bagi wanita apabila suaminya tidak mampu menjalankan hak-haknya sesuai hukum Islam.
Bahkan..!

Seorang satrawan dan filsuf Prancis Lamartine (1790-1869) pernah berkata;”kalu kebenaran tujuan dan kecilnya alat serta hasil-hasil yang menakjubkan merupakan 3 ukuran kebesaran dunia, siapakh yang berani membandingkan Muhammad dengan orang-orang besar dalam seajarah modern ?”

Rasulullah SAW adalah sosok idola yang patut kita kagumi, patut serta diikuti. Rasulullah adalah orang paling bagus rupanya, paling menarik perawakannya, paling lembut budi bahasanya, paling mulia akhlaknya, paling dipercaya kata-kata dan perbuatannya, paling kokoh pendiriannya, paling kuat keyakinaannya, dan paling sabar menghadapi ujian.

Beliau adalah seorang pemimpin yang sangat berhasil, seorang kepala keluarga yang ideal, seorang guru yang mencetak murid-murid terbaik, seorang negarawan yang sangat kapabel mengatur negaranya, seorang panglima militer yang luar biasa efektif, seorang ahli ibdah yang paling khukyuk dan paling banyak ibadahnya dan seorang yang paling luas dan bermanfaat ilmunya.
Subhanallah..

Adakah orang yang mampu menggabungkan semua kehebatan diatas dalam satu sisi saja ? tidak..! Hanya Rasulullah yang memiliki semua itu dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaannya beliau dan para pengikiutnya telah mengguncang dunia dan memmbangun tatanan peradaban dunia yang baru yaitu tatanan peradaban yang manusiawi dan bertauhid.
Ingatkah..!

Bagaimana  dalamnya mahbbah Rasulullah SAW terhadap penduduk Thaif, mereka yang mencaci maki Rasulullah, menimpuki Rasulullah dengan batu sampai darah mengucur dari badan dan kaki beliau. Namun apa jawaban Rasulullah ketika beliau ditanya oleh Malaikat Jibril yang datang bersama Malaikat penjaga gunung  di Qarn Almanazil ?
“wahai Rasulullah, apa perlu aku timpakan gunung keatas mereka ?”
Rasulullah menjawab

“jangan wahai Jibril, sesungguhnya mereka termasuk kaum yang tidak mengetahui”
Kalau kita berada di posisi Rasulullah, tentu kita akan langsung menerima twaran itu. Tidak dengan Rasulullah, beliau malah berdoa agar penduduk tahif mendapat hidayah.
Subhanallah..!

Saat detik-detik akhir hayat Rasulullah, beliau bertanya kepda malaikat Jibril
“wahai Jibril, apa hakku nanti dihadapan Allah?”
“wahai Rasulullah, pintu-pintu langit telah terbuka lebar, para malaikat telah menunggu ruh engkau dan surga-surga telah menanti jasad engkau yang mulia.”

Namun raut wajah beliau menunjukkan  bahwa bukan jawaban itu yang ingin beliau dengar dari malaikat Jibril, Jibril yang mengerti akan raut wajah Rasulullah pun bertanya “Wahai rasulullah, apa engakau tidak senang dengan mendengar berita ini?”

“wahai Jbril beritakanlah, bagaimana keadaan ummatku diakhirak kelak!”
Jibril pun menjawab

“jangan gelisah wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman “diharamkan surga bagi ummat lain kecuali ummat Muhammad telah memasukinya”
Ketika tiba aatnya Izrail mencabut lembut ruh Rasulullah, jasad beliau pun dipenuhi keringat dan Rasulullah berkata

”Wahai Jibril, betapa sakitnya  sakaratul maut ini, Yaallah... berikanlah semua rasa sakit sakaratul maut ini kepadaku, jangan kepada umat ku.”
Saat itu...

Rasulullah merasakan sakit disekujur tubuhnya, beliau merasakan sakit sakaratul maut yang sangat luar biasa, karena rasa sakit itu telah bertambah, beliau ingin meringankan rasa sakit ummatnya kelak. Tidak peduli bagaimana ummatnya memperlakukannya. Bak kisah kasih Romeo dan Juliet, jika si Romeo si pecinta sejati rela mati demi kekasihnya juliet. Maka Rasulullah lebih dari itu..! Beliau bahkan rela menanggung sebagian dari rasa sakit sakaratul maut ummatnya.
Siapapun anda yang membaca karya tulisan ini !!

Siapa yang akan anda pilih ?
Seorang yang rela mati untuk anda ?
Atau seseorang yang rela merasakan sakitnya kematian anda ?
Kemudian ...

Dipenghujung nyawa, Rasulullah berusaha menggerakkan bibjrnya dengan sangat lemah. Ali Ra yang berada ditempat kejadian mendekatkan telinganya kebibir Rasulullah SAW.
Rasulullah berbisik ;
Setelah itu...

Lama terdiam, semua orang berada disana sempat menyangka bahwa Rasulullah telah tiada. Namun ternyata tidak.!!

Beliau kembali berusaha menggerakkan bibirnya dan Ali pun mendekatkantelinganya kebibir Rasulullah SAW. Rasulullah berbisik dengan sangat lirih “Ummatku...ummatku...ummatku...”
Bukan istrinya, bukan anaknya, apalagi hartnyanya. Hanya ummatnya. Sebegitu dalam rasa cinta Rasulullah kepaada ummatnya.
Bagaimanakah dengan kita ?

Sebagai perewmpuan yang ditinggikan derajat oleh Rasulullah SAW. Adakah kita mengingat jasa-jasa beliau? Sudahkah kita mencintai dan mengikuti  beliau sebagimana yang seharusnya ? Tidakkah kita merasa rugi terhadap cinta yang terkadang salah kita pergunakan? Pernahkan kita merasa rindu untuk bertemu beliau? Tanyakan pada hatimu...!!!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Mutiara Nasehat dari Dzurriyah Rasulullah