Muwafakat adalah Solusi Persoalan Bangsa


Muwafakat adalah Solusi Persoalan Bangsa

 Indonesia secara khusus, setahun belakangan ini semenjak meletusnya api kemarahan sebagian masyarakat Muslim disebabkan oleh tuduhan telah terjadi penistaan agama yang dilakukan oleh seorang Gubernur DKI pada saat itu, rasa-rasanya pertikain dan saling berbalas pantun diantara anak bangsa itu terus bergulir sampai sekarang dimana pemerintah sendiri nampak kewalahan mengatasi arus perang opini tersebut yang terus dilancarkan oleh piak-pihak yang mempunyai kepentingan sendiri atas isu yang berkembang.

 Ditambah lagi dengan tudingan-tudingan yang ditujukan kepada pemerintah, seolah-olah pemerintah tidak berlaku adil dan dianggap timbang pilih untuk duduk berdiskusi dengan satu ormas tidak dengan ormas lainnya, yang notabennya sama-sama anak bangsa. 

Oleh karena itu, padahal Islam telah lama mencanangkan satu pendekatan menarik untuk menjawab berbagai persoalan bangsa, dimana persoalan itu sendiri semakin hari semakin tambah liar sehingga muncullah persepsi seakan-seakan perselisihan itu ialah sebagai “perang” rakyat dengan pemerintah. Kendatipun metode ini telah banyak diadakan atau diselengarakan oleh beberapa stasiun TV, katakanlah misalnya TV one dengan program spektakulernya ILC (Indonesia Lawyer Club) juga telah banyak mengangkat berbagai tema isu-isu terbaru, serta mengundang beberapa pakar untuk memberikan tanggapan atas isu yang liar di masyarakat sesuai menurut keahlian masing-masing. 

Namun, disini saya bukan megkritik acaranya, menurut amatan saya pribadi, para finalis yang diundang tersebut hanya saling mempertahankan argumen pribadi yang menurut persepsi masing-masing mereka adalah sesuatu yang mutlak betul dan fakta tanpa mau mempertimbangkan kritikan lawan yang bertuuan untuk mengasilkan satu solusi bagi isu yang diangkat. 

Pendekatan yang ditawarkan oleh islam itu ialah metode musywarah, muwafakat, dan duduk bersama membahas dan memilih langkah apa yang perlu diambil. Mari kita lihat satu message (pesan) Alquran dimana Allah berfirman dalm Surah Ali Imran ayat 159 yang artinya: ” Dan musyawarahlah kamu (Muhammad) bersama mereka”. Dan juga pada tempat lain Allah berfirman dengan gaya bahasa berbeda, namun tetap memberi maksud dan tujuan yang sama yakni sepatutnya umat Islam memutuskan suatu masalah melalui pendekatan syura (muwafakat), surah al-Syura ayat 38 Allah berfirman yang bermaksud: “Dan urusan mereka, mereka putuskan diantara mereka melalui musyawarah dan sebagian apa yang kami rezekikan maka mereka berinfak”. 

Dr. Mohd Daud Bakar dalam bukunya “Membumikan Syari’ah: Menjelajahi Dimensi Syari’ah Secara 360 Darjah” halaman 75-78 memberi satu penjelasan sangat menarik terkait pendekatan syura, dimana syura merupakan satu pesan Al-Qur’an dan Hadis, jelaslah ia adalah bagian dari set syari’ah yang telah menajdi landasan kukuh bagi komonitas masyarakat Muslim sejak 1,400 tahun lalu tentang bagaimana mestinya Muslim menangani dan menjawab segala probelamtika yang berkembang di dalam masyarakat muslim itu sendiri. 

Ini menunjukan bahwa metode syura ini merupakan salah satu approach (pendekatan) yang tidak seharusnya dianggap kecil oleh kita, jika Nabi sendiri diperintahkan mengambil pendekatan ini demi mencapai satu solusi yang disepekati bersama (shabat). Selanjutnya, Dr. Mohd. Daud Bakar menambah pada uraian berikutnya bahwa keputusan kolektif atau jama’i merupakan cara terbaik yang harus digelorakan bagi mengelakkan berbagai perselsihan yang akan muncul dikemudian hari dan pendekatan ini bertujuan untuk memilih satu pandangan solutif agar permasalahan ummat bisa terjawab. Kemudian, kembali pada textual ayat di atas sangat jelas makna dan maksud yang dikehendaki, dimana Allah SWT tidak mensasarkan perintahnya secara perorangan namun Allah menginginkan suatu dinamika perlu didiskusikan secara kolektif. 

Dan juga Allah menghendaki kita duduk bersama untuk menyelesaikan suatu problematika yang tidak bisa dilakukan secara individu dalam sebuah komunitas, institusi atau organisasi baik organisasi resmi pemerintah maupun non-pemerintah. Sebaliknya, resolusi akan dicapai pada tahap kesimpulannya jika para petinggi yang berperan dalam setiap organisasi tersebut mampu mencari punca permasalahan dan duduk bersama untuk mendiskusikan jalan keluar. 

Tetapi fakta yang ada malah sebaliknya, mereka saling "lempar batu sembunyi tangan" seolah-seolah perseolan bangsa sekarang yang terjepit hampir segala aspek kehidupan adalah perseolan pribadi ataupun kelompok organisasi tertentu, dimana mereka tidak mau ambil peduli untuk menyelesaikan. Apalagi sekarang yang dipertontonkan setiap hari baik dimedia sosial maupun media elektronik lainnya ialah caci maki, sumpah-serapah bahkan penghinaan, pelecehan satu komunitas kepada komunitas lain dimana ini sangat jauh melenceng dari nilai filosofi bangsa Indonesia itu sendiri. Kata-kata yang menjangkit bibit permusuhan diantara sesama anak bangsa dan saling tuduh-menuduh dewasa ini pun kerap menjadi asupan pelengkap pada wall media sosial. 

Ini diperparah lagi dengan mendekatnya tahun Pemilu dan Pileg, dimana rakyat yang pro atas satu pasangan tertentu akan mengkritik bahkan mencaci pihak lawannya tanpa melihat konseweksi yang timbul bagi hidupnya sendiri. 

Begitu sebaliknya bagi pihak lawan, mereka juga akan mencari celah untuk menghantam balik. Diakui memang indonesia adalah sebuah negara yang menganut sistem demokrasi, perselisihan opini dan cara pandang msayarakat merupakan sesuatu yang lumrah dan tidak dilarang ole konstitusi. 

Tetapi jika melihat kepada sila yang ke 5, disana sangat jelas tertuang mengenai metode musyawarah atau muwafakat sebagai standar untuk menghasilkan kemaslahatan bersama tanpa melihat suku dan kelompok, tetapi yang dilihat adalah satu-kesatuan sebuah bangsa yang tidak terpisah oleh komonitas tertentu. Kenapa musyawarah ini perlu dilakukan oleh semua instansi untuk menghasilkan sebuah tujuan yang komplek bagi kemakmuran masyarakat dan menghindari benih-benih permusuhan diantara anak bangsa, karena: 

1. Pola pikir antara satu institusi dengan institusi lain itu tidak sama, apalagi persepsi-persepsi liar yang berkembang dalam masyarakat. Maka pendekatan ini hadir untuk menyatukan atau mempertemukan pola tersebut dalam satu wadah tertentu. 

2. Dalam konteks mencapai matlamat yang tepat, apalagi korelasinya dengan sebuah negara, tujuan ini tidak mampu diraih jika yang melakukannya hanya sekelompok orang sementara satu kelompok lain berupaya untuk menjatuhkan dan menggalangi-halangi, apatah lagi sampai tahapan ancam mengancam. 

3. Paling penting yaiut pendekatan syura (mufakat) itu sendiri merupakan ajaran Islam yang sangat bijak, mampu menyelesaikan berbagai persoalan umat ketika perselihan tidak lagi dapat dihindari, maka jalan satu-satunya ialah dengan duduk bersama. 

Kesimpulannya, perselisihan dan kesalahpahaman sesama anak bangsa baik itu ditingkat instansi pemerintah maupun organisasi non-pemerintah itu sangat wajar disebabkan oleh watak yang berbeda-beda. Namun tatkala masyarakatnya mengalami dinamika demikian maka agama Islam menawarkan satu konsep bijak yaitu berupa musyawarah. Inipun merupakan ciri dan filosi masyarakat Indonesia yang diambil dari sila pancasila. Sekian semoga bermanfaat.
 Muhammad Razi, SH.I, MCL

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Mutiara Nasehat dari Dzurriyah Rasulullah