Kisah Seorang Laki-Laki dan Ahli Kubur


Umdah.co.id- Di riwayatkan oleh bebrapa ahli ilmu bahwa sanya ada seorang laki-laki yang bermimpi, di dalam mimpinya ia melihat penghuni kuburan di perkarangan kuburan keluar dari kubur mereka dan berada di ataskuburnya masing-masing.

Di kala itu si laki-laki itu melihat meraka ahli kubur berebutan untuk mendapatkan sesuatu. Ia tidak tahu apa yang mereka rebutkan. Lalu ia berkata : Aku heran dengan mereka. Dan aku melihat seorang laki-laki diantara mereka hanya duduk berdiam diri tidak ikut merebutkan apa yang di lakukan oleh ahli kubur yang lain.

Maka aku hampiri dia, lalu aku bertanya padanya,
"Apa yang direbutkan oleh meraka?"
Kemudian ia menjawab,
"Mereka merebutkan sesuatu yang dihadiahkan oleh ummat islam berupa bacaan qur`an, sedekah, dan do`a.
Aku melanjutkan,
"Kenapa engkau tidak ikut berebutan dengan mereka?"
Ia menjawab,
"Aku ini orang kaya."
"Dengan apa kamu bisa menjadi kaya?" tanyaku.
Ia berkata, "Aku menjadi kaya dengan sebab satu khatamah yang di baca oleh anakku dan kemudian ia hadiahkan kepadaku setiap hari. Ia seorang pedaganag roti yang berjualan di pasar."

Maka ketika aku terjaga aku langsung pergi kepasar untuk melihat si anka itu. Maka aku melihat seorang pemyuda yang sedang berjualan roti dan ia tidak henti-hentinya menggerakkan kedua bibirnya.

Lalu aku bertanya padanya "Apa yang kamu baca saat bibirmu engkau gerakkan?"
Ia menjawab, "Aku membaca qur`an, kemudian aku hadiahkan bacaanku ini kepada ayahku yang sudah berada di alam kubur."

Waktu kian berganti, dan kemudian aku pun bermimpi lagi melihat hal semula. Namun dalam mimpi itu ada hal yang berbeda. Laki-laki yang tadinya tidak ikut berebut hadiah dari orang islam, kini ia juga ikut rebutan. Aku terjaga, dan aku heran tentang hal itu.

Aku pun pergi ke pasar untuk mencari tahu kabar si anak yang berjualan roti itu. Dan aku mendapat kabar bahwa anak itu telah meninggal dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru