Menuju Pribadi yang sempurna

Menuju Pribadi yang sempurna

Umdah.co.id- "Jadilah kamu sebaik-baik manusia disisi Allah, jadilah kamu seburuk-buruk manusia di hadapan dirimu, dan  jadilah kamu mansuia biasa dihadapan manusia." ( Ali bin Abi Thalib)

Untuk menggapai kebahagiaaan akhirat, seseorang harus menjadi orang yang dikasihi Allah, di cintai oleh Allah dengan selalu taat kepada Allah mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangann-Nya, dan dia harus menjadi orang yang jahat disisi dirinya sendiri, sadar akan kekurangannya dalam ketaatan dan banyaknya dalm kemaksiatan. Ia harus menganggap orang lain lebih baik dari dirinnya walaupun orang lain dalah kafir.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailany berkata ;
Jika kamu menjumpai seseorang, kamu lihat akan kelebihannya lebih banyak dari kelebihanmu dan kau berkata diketika itu 'mudah-mudahan, orang itu lebih baik dari diriku disisi Allah, dan derajatnya lebih tinggi',
jika orang itu seorang anak kecil, maka katakanlah 'anak ini tidak bermaksiat, dan aku telah bermaksiat kepada Allah, tidak diragukan lagi anak ini lebih baik dari diriku',
 jika orang itu lebih tua dari dirimu, katakanlah 'orang tua ini telah lebih dulu menyembah Allah sebelum diriku',
jika orang itu oran yang brilmu, katakanlah, ' orang ini telah memberitakn sesuatu yang  tidak saya sampaikan dan mencapai sesuatu yang tidak saya capai dan mengetahui sesuatu yang tidak saya ketahui daripada ilmu , dan orang ini  beramal dengan ilmunya',
 jika orang tiu dalah orang bodoh, katakanlah, 'orang ini bermaksiat kepada Allah karena bodoh, sedangkan aku bermaksiat kepada Allah dengan ilmu, aku tidak tau dengan apa hidupku berakhir, dan dengan apa hidupya berakhir', 
jika orang itu adalah orang kafir, katakanlah, ' saya tidak tau, mudah-mudahan ia masuk islam dan hidupnya berakhir dengan sebaik-baik amalan'.

Dan dia harus menjadi orang yang biasa didepan orang lain, artinya dia tidak merasa sombong dengan menempatkan keilmuannya, kelebihannya dengan cara melecehkan orang lain, menghina orang, membedakan manusia dengan penampilannya, hartanya, dan jabatannya, karena,  bahwa sungguh Allah membeci hamba-Nya yang membedakan diri antara sesamanya.


Wallahu A'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Mutiara Nasehat dari Dzurriyah Rasulullah