Kesetiaan Abadi


Hari memang indah. kita tertawa dan menangis.
kita sering melakukannya.
namun,di hari yang telah ada,
ada hari yang tiada.seperti mulanya kita tiada,
maka nanti pun kita akan tiada.
hari ini aku tersenyum. karna hadirmu disisiku.
namun nanti, seperti mulanya aku menangis saat awal kali melihat dunia,
maka aku pun akan menangis, menanti sebuah akhir dari dunia.
sakratul maut.
Oh Tuhan . . .
apakah kekasihku masih mencintaiku ?
apakah cintanya menembus batu nisanku ?
atau aku akan dilupakan,
seperti pada mulanya aku tidak dikenal?
kemarin, malam sangat sunyi.
air mata menggambarkan ketakutannya.
bahwa aku akan sendiri lagi dalam suasana yang gelap.
seperti dulu, 
sebelum semua kita dilahirkan.
angin sepoi, telah berubah suasanya. menjadi hening,
sehening ketenangan air
karena diam si pelaku yang tidak bergerak 
sebab,tidak ada lagi yang memanggil angin untuk menyampaikan salam cinta
Dia telah pergi jauh menciptakan jarak yang tak tertembus
Tidak dikenali lagi,
seperti hari-hari tanpa perjumpaan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru