Lembaran Baru Untuk Kehidupan Baru


UMDAH.CO. Ukiran kelam masa lalu, memang sulit untuk melupakannya apakah itu kenangan, pengalaman, bahan kegagalan. Sekalipun ia merupakan bahan perbaikan untuk esok hari, ukiran kesalahan merupakan pembangkit semangat baru, tiada keberhasilan tanpa kesalahan kita selalu menganggap kalah di awal percobaan dengan kata-kata “gue nyerah” padahal titik keberhasilan cuma sedikit lagi. Little more sob.

    Sedemikian banyak harapan gambaran kesuksesan menuju pintu masa depan yang terpenuhi pula oleh seluruh angan-angan dan cita-cita yang tersimpan di taman harapan kita semua, banyak bungan yang akan mekar jika kita ingin menyiramnya. Begitu banyak lembaran baru yang mesti kita gambar ukiran seindah mungkin. Hidup ini hanya angan-angan yang kepastiannya hanya fatamorgana. Tiada kekuatan yang akan mewujudkan harapan yang kita dambakan sekalipun keyakinan yang amat memastikan, cuma usaha dan tawakallah yang akan mebimbing kita untuk meraihkemenangan. Kita selalu menyia-nyiakan kesempatan emas hanya dengan bergumam dengan hal-hal yang sia-sia, menghiasi mimpi-mimpi dengan harapan konyol, hanyut dalam buaian cinta yang tiada kepastiannya.

Mugkin sirah perjalanan cinta yang di sutradarai oleh Zainiuddin dan Hayati mampu membuat kita bangkit sebagaimana Zainuddin bangkit dari kegagalan cinta mengembangkan karya novelnya hingga bunga kesuksesan mekar menghiasi taman keberhasilannya, maka tanpa di duga-duga cinta pun kembali untuknya(hayati).

”Kita jatuh untuk bangun”
“ Kita menangis untuk bahagia”

    Kegagalan biasanya akan menghadang orang yang hampir berhasil meraih keberhasilan, oleh karena itu teruslah bertahan betapa pun cobaan yang akan mesti kita terima. Sobat santri, kegagalan dan kesuksesan tidak dilihat dari hasil akhir. Tapi, bagaimana perjuangannya sehingga ia sukses menikmati keberhasilannya. So, jika anda ingin mengisi lembaran baru dengan tinta kebahagian maka persiapkan diri anda untuk menghadapi kesulitan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru