Penjelasan Syaikh Mulla : Langit Adalah Kiblat Doa


Umdah- Asy-Syaikh Mulla Ali al-Qari (w 1014 H) dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, salah satu kitab yang sangat penting untuk memahami risalah al-Fiqh al-Akbar karya al-Imâm Abu Hanifah, menuliskan sebagai berikut:
 "السماء قِبْلة الدعاء بمعنى أنها محل نزول الرحمة التي هي سبب أنواع النعمة، وهو مُوجِب دفع أصناف النقمة، وذكر الشيخ أبو معين النسفي إمام هذا الفن في "التمهيد" له من أن المحقّقين قرّروا أن رفع الأيدي إلى السماء في حال الدعاء تعبّد محض"

 “Langit adalah kiblat dalam berdoa, maksudnya : bahwa langit merupakan tempat bagi turunnya rahmat yang merupakan sebab bagi meraih berbagai macam kenikmatan dan mencegah berbagai keburukan. Asy-Syaikh Abu Mu’ain al-Nasafi dalam kitab at-Tamhîd tentang hal ini menyebutkan bahwa para Muhaqqiq telah menetapkan bahwa mengangkat tangan ke arah langit dalam berdoa adalah murni karena merupakan ibadah” 

Penjelasan.
Karena langit adalah tempat tempat turunnya rahmat, tempat turunnya nikmat dan mencegah terjadinya keburukan, maka karena itulah langit disebut kiblat doa. Bahkan, kita sangat dianjurkan untuk mengangkat tangan ke langit saat berdoa, bukan karena Allah ada di langit, dan bukan pula karena meminta pada langit. Sebagai contoh hujan dan matahari, dengan hujan kita bisa bercocok tanam, bertahan hidup dan bahkan melanjutkan hidup. Air hujan turun dari langit, maka air hujan adalah salah satu nikmat yang ada di langit. Begitu juga dengan matahari, yang sangat banyak manfaatnya bagi manusia, dan ini jelas dan nyata bagi orang yang berakal. Syaikh Abu Mu’ain dalam kitab Tamhid mengatakan kalau mengangkat tangan ke langit adalah ibadah, karena mengangkat tangan ke langit adalah salah satu adab dan tata krama, (bahkan sunat hukumnya) yang harus benar-benar dijaga, dan akan berefek kepada akan lebih cepat diterimanya doa, maka karena itulah disebut Ibadah. Wallahua’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru