Menyikapi berita media

UMDAH.CO-- Seekor kambing yang sedang menyusui anaknya, tinggal di dalam kandang di pinggiran sungai, seketika anaknya berlari dan hanyut terbawa arus sungai, dan tinggalah kambing sendirian dengan perasaan terpukul. Bukankah itu berita bodoh? Apa gunanya berita itu? Benar adanya, namun dia akan menjadi berita penting, berbobot, bahkan fenomenal ketika semua media memuat, bahkan mengulang-mengulang pemberitaan konyol seperti itu.

Itu hanya sebuah gambaran tentang bagaimana media dengan kekuatannya bisa saja membuat orang terkenal dalam hitungan menit. Orang hebat bisa dipandang hina dalam hitungan jam, hanya  karena faktor menjadikannya sebagai topik trending. Kita tidak bisa menutup mata dalam arus informasi seperti ini, dan yang terpenting harus bisa memaklumi bahwa dengan menguasai arus informasi maka kita tidak akan tersesat di dalamnya.

Di satu sisi memang gencarnya arus informasi dari media, memberi energi positif bagi setiap individu manusia, kita akan sangat mudah meresapi berbagai ragam informasi hanya dengan memindai layar kaca dengan ujung jari. Katakan sebagai misal, jatuhnya crane di Masjidil Haram dua menit yang lalu, informasinya sudah kita dapatkan hanya dua menit ke depan. Apalagi dengan pesatnya media sosial sekarang, apakah itu facebook, BBM, Twitter, Line, dan lain sebagainya, justru akan sangat mudah bagi kita untuk melangsungkan komunikasi antar sesama.

Namun dengan demikian gencarnya arus informasi, demikian pengaruhnya media ditatanan masyarakat, membuat kita harus lebih waspada atau melakukan (tabayyun) dalam meresapi dan mensensor setiap berita yang kita temukan. Hal ini penting mengingat semua orang sekarang ingin menguasai arus informasi ini, dan kita tentunya tahu, semua orang punya kemauan dan keinginan terselebung dalam melakukan setiap hal, bisa saja dia menyerang lawan dengan memanfaatkan media, atau sebaliknya mencari dukungan dengan perantara media.

Kita yang masih sebatas pengguna (user) harus cerdas dalam hal ini, menyikapi dan meresapi setiap berita harus melewati filter yang benar dan tajam, kita tidak bisa melihat dunia nyata dari dunia maya. Dunia maya adalah dunia maya, dunia nyata juga dunia nyata, bisa saja dia menjelma madu di dunia maya namun dia adalah racun di Dunia nyata. Waspadalah.(zf)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Mutiara Nasehat dari Dzurriyah Rasulullah