Manuver Ala Wahabi

Parade ASWAJA yang berlangsung beberapa hari yang lalu (10-9-2015) dapat dikatakan sukses. Walaupun hanya menurunkan massa sebagian kecil dari para pecinta ASWAJA di Aceh, namun cukup untuk membuat kalangan wahabi 'kebakaran jenggot'nya.

Pernyataan ini bukan hanya sebagai Asbunlips servis, tapi memang benar adanya. Hasil amatan penulis di jejaring sosial, yaitu tempat yang menjadi sarang bagi agen wahabi untuk melancarkan provokasinya, parade tersebut membuat mereka beringas dan buas. Hal itu tercermin dari sikap mereka yang menebar propaganda-propaganda murahan (bahkan tidak laku lagi) terhadap pelaksanaan parade tersebut. Mulai dari penyebutan parade tersebut dengan istilah gerak jalan, kepentingan segelintir orang, kepentingan politik untuk mencari kekuasaan, sampai pada tahap memperkeruh suasana damai.

Bukan wahabi namanya kalau tidak jago menebar propaganda, manuver mereka tidak berhenti disitu saja, mereka pun menulis serta menyoroti setiap kekurangan atau kealpaan parade tersebut, mulai dari memotret tumpukan sampah (walau sudah dibersihkan), sampai pada tahap rombongan parade tidak shalat berjamaah. Wahabi memang jago dalam hal propaganda. Mereka jenius dalam memutarbalikkan fakta. Namun semakin hebat mereka dalam hal itu, semakin nampaklah kebodohan mereka, semakin lahirlah kejumudan mereka, dan semakin layak untuk diambil kesimpulan oleh masyarakat bahwa keberadaan mereka harus diakhiri.

Kita harus cerdas dalam menyiasati kebodohan wahabi, manuver mereka hanya sebatas propaganda, dari dulu propaganda dan memutar fakta adalah senjata ampuh wahabi dalam menyebarkan misinya tersebut. Di saat mereka tidak berhasil untuk menggagalkan sebuah acara, mereka akan memulai dengan mencari setiap kekurangan dari setiap hal yang kecil, namun Alhamdulillah panitia parade kemaren sangatlah siap dalam hal ini, jauh hari sebelum itu bahkan telah membuat serta memikirkan hal-hal yang tidak bisa disorot oleh wahabi ketika parade, mulai dari tidak anarkis, menjaga ketertiban publik, sampai pada tahap membersihkan sampah setelah parade oleh tim banser.

Sekarang kita dapat melihat kegerahan wahabi, mereka berteriak-teriak kepanasan, seperti cacing di siang bolong, dan masyarakat pun tahu siapa mereka, kenapa mereka dibenci, kenapa mereka esktrim, kenapa mereka profokatif, dan 1001 pertanyaan lainya.

Kita ASWAJA bukan membenci mereka, tapi membenci kebodohan mereka, kejumudan mereka, serta membenci sikap mereka yang terus menyebarkan paham yang menyalahi akidah ahlussunnah wal jamaah, kita hanya bisa berdoa semoga pemahaman wahabi ini lenyap dari bumi aceh, dan saudara-saudara kita yang sekarang mungkin masih bertahan dengan prinsip wahabismenya, semoga Allah memberi petunjuk untuk kembali kepada ASWAJA. Semoga ASWAJA semakin kokoh di bumi Aceh.

By. Zahrul Tangse

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru