Pria AS Buka Kebun Bunga Matahari Sepanjang 7 Kilometer untuk Mengenang Istri

UMDAH- Cinta tak pernah berhenti melahirkan keunikan, keanehan dan keajaiban. Kali ini diberitakan seorang pria yang berduka atas kematian istrinya menanam bunga favorit istrinya sepanjang lebih dari 7 kilometer. Don Jaquish menanam bunga matahari, dalam petak berukuran lebar 18 meter, sepanjang 7 kilometer di sisi kiri dan kanan jalan raya 85 di negara bagian Wisconsin, AS.
Aksi menanam bunga berwarna kuning cerah itu adalah upaya Don untuk mengenang Babbette, sang istri yang meninggal dunia pada November tahun lalu setelah sembilan tahun bertarung melawan kanker.

Kebun Bunga Matahari

"Dia sangat mencintai bunga. Namun, bunga matahari yang selalu menjadi favoritnya. Bunga itu sangat sesuai dengan kepribadiannya," kata Don kepada ABC News.

Upaya Don untuk mengenang sang istri ini tentunya tak mudah. Keinginannya menanam bunga matahari sepanjang 7 kilometer itu harus melitasi lima kebun milik para tetangganya.

Beruntung, para tetangga mengizinkan Don melakukan keinginannya dan mempersilakan pria itu membayar sewa tanah sesuai dengan harga yang dianggapnya pantas.

Nantinya, biji bunga matahari ini akan dipanen dan dijual untuk mendukung para penderita kanker lainnya. Hal itulah yang diinginkan Babbette sebelum dia meninggal dunia.

Wajah Babbette nantinya akan muncul dalam bungkus biji bunga matahari yang akan diberi merek "Babbette's Seeds of Hope" itu.

"Dia (Babbette) adalah orang yang sangat sederhana dan saya tak yakin dia mau wajahnya dimunculkan dalam bungkus plastik itu. Namun dia adalah wanita yang sangat cantik," ujar Don.
"Dia bahkan tak menyadari betapa cantik dirinya, luar dan dalam," tambah Don.

Don melanjutkan, empat bulan setelah istrinya meninggal dunia, dia menemukan sebuah surat yang tersimpan dalam sebuah map. Saat dibuka surat itu hanya berisi sebuah pesan singkat untuk Don.
"Berbahagialah dan nikmati hari-harimu. Rasakan saya di udara pagi, di saat kau bangun pagi dan membuat kopi. Saya selalu hadir di sana," ujar Don mengenang isi surat mendiang istrinya itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru