Menulis adalah Jalan Menuju keabadian

Menulis adalah sebuah kata yang tidak asing bagi kita, namun banyak orang menyepelekannya, padahal kita tau, menulis adalah jalan menuju keabadian, bagaimana tidak orang yang jasadnya telah terkubur, namun seolah­-olah ia masih hidup, berkat tetesan tinta yang di tinggalkannya, tulisan itulah membuat kehidupan menjadi abadi. Seorang ulama besar di abad ke 6 Hijriah, Imam Ghazali berpesan jika anda ingin hidup selamanya, maka menulislah. Sebagaimana dikatakan syair Arab:

ذُو العِلمِ حَيُّ خَالِدُ بَعْدَ مَوتِهِ وَعِظَا مُهُ تَحتَ تُرَابٍ رَمِيْمٍ :

"Orang yang berilmu hidup abadi, meskipun tulangnya di bawah tanah yang telah hancur."

Menulis
Siapa yang tidak kenal Imam Mazhab yang 4 : (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali) begitu juga ulama lainnya yang telah sukses dalam berkarya. Di dunia Islam, nama mereka terukir dengan tinta emas dan tersohor keseluruh penjuru dunia, lebih-lebih di kalangan pasantren, nama mereka terpatri dan berhembus harum seiring keindahan karya-karya mereka, sebut saja (Abu suja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad), dengan karyanya matan taqrib, dan (Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud), dengan karyanya Aj-jarumiyah, dan (Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-bajuri) dengan karyanya kitab bajuri, mayoritas karya mereka menjadi kurikulum pasantren di Indonesia, khususnya di Aceh, karya-karya merekalah sebagai saksi abadi yang berperan mengabadikan nama-nama mereka, mereka telah lama wafat tetapi seolah-olah mereka masih hidup abadi bersama kita.



Menulis bukanlah hal yang baru dalam ranah pendidikan islam, semenjak zaman sahabat, tabi’-tabi’in, hingga para ulama, mereka telah menghasilkan ribuaan karya ilmiah, yang menjadi pedoman bagi umat. Salah satu hal nyata adalah Al-Qur’an yang merupakan pokok ajaran Islam, masih terdengar senada, selaras dalam satu bacaan, yakni bacaan yang benar, berkat penulisan dan pembukaan yang dilakukan pada masa pemerintahan Usman bin Affan.

Tidak dapat di bayangkan bagaimana perjalanan umat islam, jika Al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup, tidak di bukukan, begitu pula bila kita melihat kedalam Agama tercinta, Kita sekarang bisa membaca dan memahami hadist-hadist Rasulullah saw, itu juga karena penulisan dan pembukaan. Terlebih penting kita sekarang bisa beribadah sesuai dengan anjuran Rasul, hanya semata-mata lewat ijtihat para mujtahid, yang mereka tuangkan dalam bentuk tulisan.


Sekarang kita bisa mengenal orang-orang yang mendahului kita, juga karena mereka pernah menulis, berkat tetesan tinta mereka, kita memiliki pedoman dan patron dalam mengarungi alur kehidupan, tulisan merekalah yang menjadi jawaban dan rujukan dari setiap problematika yang terjadi.

Ya ikhwan,,,,,,,,,,,?

Mari menulis untuk mengikat, mengendalikan ilmu yang telah kita miliki, karena ilmu yang sedikit bila di tulis akan menjadi banyak sebab dibaca generasi selanjutnya, sebaliknya ilmu yang banyak bila tidak ditulis akan hilang bersama pemiliknya ditelan masa.

Imam malik juga perna berkata :

العِلمُ صَيْدٌ والكِتَبَةُ قَيدُهُ قَيِّدْ صُيُودَكَ بالحِبالِ الوَاثِقَةِ:

Ilmu bagaikan binatang buruan yang liar dan tulisan adalah pengendalinya

Maka ikatkanlah binatang buruanmu dengan kendali yang kuat.


Ya ikhwan,,,,,,,,,,,?

Tulisan adalah warisan yang paling berhaga bagi generasi penerus, karena menulis dapat menggerakkan yang telah berhenti, dapat menghidupkan yang telah mati. Karena itu maka menulislah untuk berbagi, berbagi ilmu, bebagi pengalaman yang sulit untuk dilafatkan, menulis juga salah satu media dakwah dan ibadah yang paling mudah, tanpa harus berhadapan dengan para audiens, tanpa harus mengeluarkan tenaga untuk mencontohkan, mempraktekkan kepada orang-orang, hanya dengan meluang sedikit waktu saja, disetiap harinya untuk menulis ilmu, kajian, nasehat, pengalaman, yang bisa dibaca dan di aplikasikan oleh banyak orang, sungguh itu tak ternilai harganya, tak terhitung berapa banyak manfaat nya.

Mari menulis menulis dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, mari monoreh sejarah untuk kita sendiri.Wallaua'lam.


Razali, Merdu, Santriwan Mudi Mesra.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Mutiara Nasehat dari Dzurriyah Rasulullah