Mengenal Karamah dan para Waliyullah

UMDAH-Definisi Karamah : adalah suatu perbuatan yang menyalahi adat (kebiasaan) pada tangan wali-wali Allah dengan tidak mendakwakan dirinya sebagai nabi.
karamah
ilustrasi para wali allah

 Karamah ini adalah sebagi penolong seseorang wali untuk berbuat ta’at, memperkuat kayakinan membawanya kepada istiqamah yang baik, membenarkan atas kebenaran dirinya sebagai wali jika memeng dibutuhkan.

 Allah berhak memberi kekeramatan bagi seseorang wali karena Allah bisa saja melakukan apa yang dikehendaknya dan tiada penegah baginya untuk menampakkan kekaramaha-an bagi wali-walinya. 


Mengenal Waliyullah.

 Pendapat Imam Ar-razi :
1. Adalah kalimat isem fai’l orang-orang yang banyak taa’atnya dan sangat sedikit kemaksiatannya

2. Adalah isem maf’ul orang-orang yang diberikah hak oleh Allah ta’ala, yang terhindar dari segala maksiat dana selalu dalam taufiq Allah ta’ala Pendapat Imam Taftazani 1. Wali adalah orang yang mengenal Allah dan sifatnya dan berkekalan dalam ta’at serta menjauhkan dari perbuatan maksiat yang merobaek dari kalazatan dan syahwat


Referensi: Kitab Syarah Kabir Ala Aqidah Thahawiyah Juz II hal,1394-1395


Kisah Karamah Petani yang Wali Allah

Kisah wali Allah kali ini adalah seorang petani salih dari negeri Syiria. Pada Zaman Al-Faqh Al-Muthahhar Muhammad bin Al-sham terjadi sebuah kisah yang aneh dan menakjubkan tepatnya di daerah Al-Humrah negeri Syiria. Di sana tinggal seorang petani yang shalih dan suka berderma.

Ia membangun sebuah masjid. Bila malam tiba ia senantiasa pergi ke masjidnya untuk sholat dan selalu membawa lampu dan berbekal santap malam. Jika Allah mentaqdirkan ada orang yang membutuhkan sedekah, ia berikan bekal santap malamnya. Jika tidak ada, ia makan sendiri, baru kemudian melakukan sholat. Setiap hari demikian berlangsung terus.

Pada suatu saat Allah takdirkan di daerah ini terjadi krisis air. Banyak sumur yang kering, termasuk sumur miliknya. Petani itu dibantu oleh anak-anaknya bermaksud memperdalam sumurnya agar memperoleh air. Ketika ia sedang berada di dalam sumur tiba-tiba bibir sumur ambrol, sebongkah bibir sumur jatuh dan menguburnya.

Anak-anaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak berani melakukan penggalian mencari jasad ayahnya yang tertimbun, karena resikonya adalah nyawa mereka sendiri. Mereka pasrah, dan menjadikan disitulah kuburan ayahnya.

Enam tahun kemudian… Anak-anaknya sedang memperbaiki sumur tersebut. Ketika penggalian sampai di bagian bawah, antara percaya dan tidak, mereka mendapati ayahnya masih hidup. Berceritalah ayahnya, “Di dalam sumur itu ternyata ada goa, ketika dulu jatuh aku masuk ke dalam goa itu, aku tidak terkubur karena sebatang kayu mendahului jatuh di depan mulut goa sehingga menghalangi bongkahan–bongkahan bibir sumur yang ambruk.

Di dalam goa amat gelap, beberapa saat kemudian Allah memberi pertolongan berupa munculnya sebuah lampu dan makanan yang biasa aku bawa ke masjid setiap malam, sehingga aku bisa bertahan hidup selama enam tahun”.

Tersiarlah peristiwa ini dan menjadi pelajaran yang berharga dan ramai diperbincangkan oleh manusia di pasar-pasar negeri Syiria. Imam Muhammad bin Ali Asy-Syakani dalam Kitab Al-Badru Ath-Tholi’ (I/492) dalam biografi Ali bin Muhammad Al-Bakri berkata, “Penulis Kitab Mathla’ Al-Budur”. Di antara orang yang pernah mengunjungi Petani tersebut ialah Muhammad bin Al-Asham. wallahua'lam.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Mutiara Nasehat dari Dzurriyah Rasulullah