Buang Air Kecil Ala Rasulullah Saw

Islam sebagai agama yang sempurna selalu mengawasi umatnya dengan berbagai aturan yang menyelamatkan dari bahaya-bahaya yang bisa saja akan ditimbulkan oleh akibat perbuatannya.

Dalam hal ini tidak hanya pada aspek-aspek besar yang diatur , tapi Islam memang agama yang universal yang menjnagkau semua lini kehidupan umutnya,
Salah satu aturan  yang diperhatikan adalah buang air kecil yang benar yang sesuai tuntunan syar’i. Nah, mari kia intip bagaimana Rasulullah Saw melakukannya.
Berikut ini sebahagian kecil dari tata cara buang air yang diajarkan Nabi Muhammad SAW
1. Buang Air Dengan Jongkok
Dianjurkan buang air dalam keadaan jongkok.
Aisyah RA berkata, “Barangsiapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Nabi SAW buang air kecil sambil berdiri, maka janganlah kalian percaya. Beliau tidak pernah buang air kecil kecuali sambil duduk.” (HR. Tirmidzi).
“Sambil Duduk,” maksudnya yaitu dengan jongkok. Jongkoknya nabi ketika buang air kecil ini, tidak terlepas dari kondisi zaman itu dan dari pakaian yang beliau pakai. Pada zaman nabi, WC terletak di dalam tanah yang ditutup dengan besi berlubang. Meskipun buang air kecil dengan jongkok lebih baik, namun pada prinsipnya adalah bagaimana cara agar tidak terkena najis. Namun boleh saja kencing sambil berdiri denagn beberapa alasan diantaranya badan dan pakaiannya aman dari percikan air kencing dan aman dari pandangan orang lain. Apalagi kondisi ini sangat dibutuhkan karena sempitnya pakaian atau karena ada penyakit di tubuh kita, namun hukumnya makruh kalau tidak ada kebutuhan.
2. Manfaat Buang Air Besar Sambil Jongkok
Secara medis, buang air besar (BAB) dengan posisi jongkok dapat mencegah terjadinya kanker usus besar. Saat posisi duduk, usus bagian bawah akan tertekuk sehingga proses pembuangan tidak dapat berlangsung efektif tanpa bantuan mengejan. Padahal, mengejan sambil menahan napas akan meningkatkan tekanan dalam usus bagian bawah serta menyebabkan regangan dan pembengkakan pembuluh darah balik membentuk wasir, terutama jika kebiasaan ini dilakukan secara kontinyu dalam jangka lama.
3. Tidak Menghadap Kiblat
Dari Abu Ayyub Al-Anshari dia berkata: Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
 “Jika kalian mendatangi tempat buang air maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Akan tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya.“
Abu Ayyub berkata, “Ketika kami datang ke Syam, kami dapati WC rumah-rumah di sana dibangun menghadap kiblat. Maka kami beralih darinya (kiblat) dan kami memohon ampun kepada Allah Taala.” (HR. Al-Bukhari no. 245 dan Muslim no. 264)
Sabda Nabi, “Akan tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya,” berlaku bagi negara-negara yang kiblatnya di utara atau di selatan. Sedangkan bagi yang kiblatnya di timur atau di barat (seperti Indonesia) maka dianjurkan menghadap ke utara atau ke selatan.
4. Tidak Berbicara Saat Buang Air
Makruh berbicara di saat buang hajat kecuali darurat. Berdasarkan hadits yang bersumber dari Ibnu Umar diriwayatkan: “Bahwa sesungguhnya ada seorang lelaki lewat, sedangkan Rasulullah SAW sedang buang air kecil. Lalu orang itu memberi salam (kepada Nabi), namun beliau tidak menjawabnya.” (HR. Muslim)
5. Masuk Dengan Kaki Kiri, Keluar dengan Kaki Kanan
Disunnahkan masuk ke WC dengan mendahulukan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan berbarengan dengan doanya masing-masing.
Dari Anas bin Malik Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia berkata: “Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam apabila masuk ke WC mengucapkan :
 “Allaahumma inni audzubika minal khubusi wal khabaaits”
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari pada syetan jantan dan setan betina“.
Dan apabila keluar, mendahulukan kaki kanan sambil mengucapkan:
“Gufraanaka”
Artinya: “Ampunan-Mu ya Allah“.
6. Bersegera Membuang Hajat
Jiak kita merasa akan buang air maka hendaknya bersegera melakukannya, karena hal tersebut dianjurkani agama dan bagi kesehatan jasmani.
Menurut ahli medis, menahan keinginan untuk buang air kecil dapat mengakibatkan infeksi saluran kemih. Gejala infeksi saluran kemih di antaranya, waktu buang air, air seni terasa panas, air seni kerap keluar setiap kita melakukan gerakan-gerakan ringan seperti duduk atau terasa nyeri di lubang tempat keluar air seninya. Kalau masih dibiarkan, bisa menyebabkan penyakit ginjal.
Setiap ada keinginan buang air, jangan ditahan. Dalam keadaan normal, kita harusnya buang air kecil setiap lima jam sekali. Jika kita termasuk orang yang banyak minum, frekuensi tadi bisa lebih sering dan itu normal. Wallahu’alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru