Tanah Para Mayat

Kini tanah kita adalah tanah para mayat
Mati menjadi mayat
Hidup pun tak lebih dari seorang mayat
Semangat t’lah koyak
Menyeraknyerak
Di hamparan donya berluka sayat

Ibuibu perkasa bahkan telah mengurai air mata sekian abad
Menyaksikan maha poranda melanda balad
Entah berapa kati sudah tumpah air mata Dhien
Keumala, Nahrisyah, Safiatuddin hingga Inayat
Padahal sirah mengkatab
puisi
Tangis mereka nyaris tiada walau sesaat

Eee hai walad dan banat!
Apalah gerangan yang telah gata perbuat
Negeri ini hampir sudah kepada wafat
Sedang gata didayakan dengan af’al yang laknat

Hai segala tikai yang membingkai
Hai segala tamak yang menyalaknyalak
Hai segala maksiat yang giat menggeliat
Lumatlah mereka wahai air pekat!

Ooi…
Henti henti lukaluki
Tak sanggup lagi tanah akan darah yang diresapi
Kecupi saja luka itu layaknya anak tak berummi

Kan kulihat
Seberapa lama kita sanggup menjadi mayat
Sebab kita samasama telah berniat
Mengulangkan sejarah Darmawangsa Tun PangkatItu impian kuat
Atau bualan kosong di  dalam jeurat?

Peureulak, 24 Desember 2014
Ket:
1.    Donya                : Dunia
2.    Balad                : Negeri
3.    Katab                : Menulis
4.    Walad                : Anak laki-laki
5.    Banat                : Anak perempuan
6.    Gata                : Kamu
7.    Af’al                : Perbuatan
8.    Darmawangsa Tun Pangkat    : Iskandar Muda
9.    Jeurat                : Kuburan


BIODATA PENULIS
Intan Sri Hartati  adalah pemula yang sedang belajar dan berusaha istiqamah untuk menulis. Lahir di Peureulak, tanggal 18 Juni 1996. Menyelesaikan pendidikan terakhir di SMA 1 Peureulak tahun 2014.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru