Sepenggal Hati Seorang Penghafidh

Rintikan air hujan yang berjatuhan dari atap rumah sakit membuat mata Al-Farisi terus merenung. Sesekali dia menatap wajah ayahanda tercinta yang terbaring kaku di pembaringan. “Sudah sebulan Abi di rumah sakit, kenapa kesehatan beliau belum juga mengalami peningkatan?” sebuah pertanyaan yang dilontarkan al-Farisi kepada seorang perawat yang menangani Abinya. Namun gadis yang berseragam putih itu hanya terdiam menunduk, dipun meninggalkan ruangan itu.
“Akhi alfa..., Abi kapan bisa bangun?”, sebutir air bening jatuh dari dua mata al-Farisi saat mendengar Zahra adiknya menanyakan soal itu. Wajah mungil Zahra terlihat lesu karena semalaman bergadang bersama al-Farisi.

Seoson 1


“Sebentar lagi, Zahra yang sabar ya, Abi akan segera pulih!!”, jawab al-Farisi dengan memaksakan senyumnya. Tiba-tiba Ummi shaleha memasuki ruangan dengan membawa satu rantang yang terlihat jelas di tangannya. Zahrah berlari mendekati Umminya. Al-Farisi hanya memandangi adik kecilnya itu. “makan dulu , nak!!, setelah itu kamu istirahat, biar Ummi yang menjaga Abimu.” Ucap Ummi Sholeha kepada al-Farisi. “Ummi...Zahrah mau disuapin,” mendengar kata-kata manja dari adiknya, al-Farisi tersenyum manis. “tidak apa-apa Ummi, biar al-Farisi saja yang menjaga Abi.” “Kamu sudah semalaman menjaga Abi, sekarang kamu istirahat dan makan dulu,” al-Farisi pun tak mampu menolak permintaan Umminya. “Zahra !!, makan sama akhi Alfa saja ya, nanti akhi Alfa suapin!!!” rayu al-Farisi kepada adiknya. Zahra mengangguk dan tersenyum.

Mereka berdua menuju ke sebuah taman yang ada di depan kamar tempat Abinya dirawat. Al-Farisi membuka rantang yang berisikan makanan dengan dibantu adik kecilnya. Dia sangat bangga dengan Zahra, Zahra yang yang selalu menemaninya menjaga Abi selama satu bulan.

Umur Zahra hampir memasuki 8 tahun. Al-Farisi selalu membingbing adik kecilnya itu. Al-Farisi yang selalu mengantarkan Zahra ke sekolah dan menjemputnya. Ketika sedang makan, Zahra sering melirik perawat-perawat yang berlalu di jalan dekat taman, wajah kecil mungil itu tersenyum riang.
“Zahra kenapa?”, tanya al-Farisi membuyarkan lamunan Zahra. “Akhi, kalau zahra besar nanti, Zahra boleh nngak jadi dokter?” tanya Zahra malu-malu. “Boleh, tapi kenapa zahra pengen jadi dokter?” “Zahra pengen nyembuhin Abi, dan Zahra juga pengen nyembuhin Ummi sama Akhi klo sakit.” Ketulusan yang terpancar dari wajah Zahra membuat hati al-Farisi merasa damai, dia merasa damai, dia mengusap kepala adik kecilnya itu sambil tersenyum.

Setelah selesai makan siang, al-Farisi menuju ke musalla yang ada di rumah sakit untuk melakukan shalat dhuhur. Keluar dari musalla, Al-Farisi kembali menuju kamar tempat Abinya dirawat, dia memandang Abinya dengan penuh harapan. :Abi..., Abi harus bisa membuktikan kepada Alfa bahwa Abi kuat.” Kata hati al-Farisi selalu menjelma. Dia sangat mengharap pemimpinnya berdiri tegar seperti penjihat dalam perang.

Mengingat umurnya yang sudah memasuki 20 tahun, al-Farisi merasa tanggung jawabnya semakin bertambah. Sebagai anak pertama, dia harus menjaga adik kecilnya , dan juga mempersiapkan dirinya untuk menjadi pewaris pesantren yang telah lama dipimpin oleh Abinya. Namun dia tidak ingin stroke yang menyerang Abinya akan merenggut nyawa Abinya begitu saja.
Lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an selalu terdengar dalam ruangan itu, dia terus melantunkan ayat-ayat al-Qur’an sampai matanya mengatup dan rohnya menyentuh relung mimpi.
Sapaan sepertinya malam membangunkan al-Farisi dari mimpinya. “Astaghfirullahal ‘adzim...Abi...!!! Ya Allah, kenapa kejadian itu kembali terngiang dalam mimpiku?” Al-Farisi melirik foto almarhum Abinya yang terpajang di dinding kamarnya. Lima tahun yang lalu ayahanda tercinta menghadap Sang Khaliq karena penyakit stroke. Al-Farisi segera membasahi wajahnya dengan basuhan air wudhu’, dua rakaat shalat malam telah didirikannya. Al-Faarisi memanjatkan doa dengan deraian air mata. Teringat masa kecilnya bersama ayahanda trcinta, sekaligus pesan-pesan Abi kepadanya. Abinya sangat menginginkan al-Farisi menjadi seorang penghafidh dan menuntut kepadanya sebelum al-Farisi menikah dia harus bisa menghafal 5 juz al-Qur’an. Pesan-pesan itu selalu terngiang dalam benaknya. “Apa aku sanggup ya Allah..??”

Waktu telah berputar, hari demi hari al-Farisi sibuk dengan hafalnnya. Setiap saat tangannya selalu menggenggam mushaf kecil hadiah dari Abinya. “5 juz..., Insyaallah akan aku tepati janjiku kepada Abi...”, kata al-Farisi dalam hati. Tiba-tiba saja Zahra memasuki kamar al-Farisi sambil menangis. Al-Farisi beranjak dari kursi dan menatap Zahra penuh tanya. “Zahra nggak mau tinggalin akhi sama Ummi di sini.” Isakan tangis Zahra tidak tertahankan, al-Farisi terdiam sejenak. “Jika itu amanah, maka kita harus melaksanakannya, Abi sangat ingin melihat Zahara berhasil, bukannya Zahra ingin sekolah ke Jawa dari dulu?”

“Dulu masih ada Abi yang jagain ummi dan temani akhi, tapi sekarang Abi sudah tidak ada, Zahra mau di sini saja.” Tetesan air mata Zahra membasahi kerudungnya.
“Jangan kecewakan Abi, Zahra nggak usah khawatir, akhi akan selalu jagain ummi.” Al-Farisi mengusapkan tangannya ke kepala adik satu-satunya.
Sebenarnya al-Farisi juga tidak ingin Zahra sekolah ke Jawa. Dia pasti akan merasa sendirian. Al-Farisi menunduk sambil memandang mushaf kecil di tangannya.
Pagi yang sangat cerah, namun tak secerah hati al-Farisi yang sebentar lagi akan mengantarkan adik kesayangannya ke sebuah pesantren yang terkenal di Jawa. Al-Farisi menghampiri Zahra yang berdiri menghadap ke luar jendela. Al-farisi menyentuh pundak Zahra, namun Zahra tidak menghiraukannya.

“Zahra, ayo kita berangkat!!!, semua barang-barang Zahra sudah disiapkan...”
Zahra menoleh ke belakang dan menatap al-Farisi dalam-dalam. Tiba-tiba saja air mata al-Farisi menetes saat melihat Zahra memeluk foto almarhum abinya.
“Apa bisa diundurin lagi keberangkatannya?”, tanya Zahra lembut. Al-Farisi menggeleng, “Paman sudah menunggu kedatangan kita.” “Zahra boleh bawa ini, ya!!”, Zahra memandang foto almarhum Abinya yang sedari tadi ada dalam pelukannya. Al-Farisi hanya memandang wajah polos adiknya itu.
Ketika dalam perjalanan, Zahra menuliskan sesuatu di sebuah notebooknya sambil menangis. Gadis kecil itu memandang wajah umminya.
“Ummi, sering-sering ke tempat paman ya, jenguk Zahra!!”
“Insyaallah, kalau Allah mengizinkan.”

Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka pun tiba di sebuah pesantren yang terkenal milik pamannya di Jawa. Rasanya berat bagi Zahra untuk melangkah kakinya. Al-farisi melihat pemandangan yang ada di sekitar pesantren. Dia berjalan kaki menuju pondok-pondok yang ada di pesantren itu. Sementara Zahra dan umminya telah memasuki rumah pamannya. Langkahnya terhenti saat melihat sosok gadis muslimah yang berlalu di hadapannya. Gadis itu sama sekali tidak melihat al-Farisi.
“Subhanallah, dia...:, ucap al-Farisi dalam hati. Al-Farisi tidak sadar, dia terus memandang gadis itu sampai hilang di pelupuk mata.
“Astaghfirullah...” al-Farisi memalingkan pandangannya. Dia pun terus berjalan menuju mushalla. Setelah berwudhu al-Farisi melantunkan ayat-ayat al-Qur’an yang telah dihafalnya. Suaranya terdengar sayup- sayup.

Setelah beberapa menit, al-Farisi mengaklhiri bacaanya. Dia beranjak dari tempat duduknya. Dia terkejut melihat gadis yang dilihatnya tadi ada dalam mushalla dan memandangnya. Gadis itu tersenyum melihat al-Farisi.
“Akhi seorang penghafidh ya?”
Mendengar suaranya saja al-Farisi sudah terkesima.
“Akhi bukan orang di sini kan?”
“Bukan, ana Cuma mengantarkan adik ke pesantren ini, kalau anti sendiri?”
Gadis itu pun tersenyum manis di hadapan al-Farisi.
“Ana juga mengantarkan adik!! Ismi Hafifah.” Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan mengangguk tanpa menghulurkan tangannya.
“Ana al-Farisi.” Sahut al-Farisi dengan cara yang sama.
“Ukhti Iffah..., Ummi sama Abi sudah nunggu di depan..” mereka dikejutkan dengan panggilan dari adiknya Hafifah dari luar mushalla. Hafifah berpamitan kepada al-Farisi dan meninggalkan al-Farisi di dalam mushalla, sesaat gadis itu pun telah hilang dari pandangannya.
“Hafifah...” gumam al-Farisi.

Tidak lam kemudian, al-Farisi melangkah kaki memasuki rumah pamannya. Dia melihat Zahra. Zahra memandang wajah al-Farisi dengan linangan air mata.
Zahra tidak mampu membendung isak tangisnya saat memeluk umminya. Sekarang ummi dan akhinya telah meninggalkannya di pesantren itu. Selalu teringat perkataan al-Farisi ketika hendak pulang. “Akhi Alfa tidak mungkin lupa sama Zahra. Zahra adalah adik akhi satu-satunya, Zahra jangan khawatir, akhi akan selalu jagain ummi, lagian ummi nggak akan pernah sendirian, santri di pesantren kita akan selalu temani ummi di rumah. Jaga amanah Abi baik-baik ya!!!”
Keseharian al-Farisi terasa sepi, tanpa canda dan tawa Zahra di sisinya. Tiba-tiba dia teringat dengan Hafifah, gadis yang dilihatnya waktu di Jawa. Hampir setiap hari dia selalu mengingat gadis itu, sampai-sampai mengganggu hafalanya.
“Astaghfirullah...”ucapnya.
“Kalau kamu sudah menaruh hati terhadap seorang gadis, kamu akan terasa sulit menghafal ayat-ayatnya.” Kata-kata itu selalu menghantui pikirannya. Teringat pesan almarhum Abinya sebelum meninggal. Dia sangat dituntut untuk bisa menghafal al-Qur’an sebelum menikah. Dia hanya kagum kepada Hafifah, seorang gadis muslimah yang lemah lembut, terbayang saat di Jawa, saat pertama kali dia bertemu dengan Hafifah.

“Bismillahirrahmanirrahim...”. AL-Farisi mulai menghafal surat an-Nisa’, tiba-tiba tetesan air mata jatuh membasahi pipinya, terasa lidahnya kaku. “Astaghfirullah..., ada apa ini?” ucap al-Farisi dalam hati. Dalam rintihannya, al-Farisi terbayang wajah Hafifah.
“Ya Allah, berilah hidayah untukku, agar aku khusyu’ menghafal ayat-ayatMu...” Dadanya teraasa sesak, badannya terasa lunglai, mushaf kecil yang sedari tadi digenggamnya jatuh dari tangannya. “Ummi...”, panggil al-Farisi. Sesaat kemudian, ummi Sholeha memasuki kamar al-Farisi. “Astaghfirullah... Alfa, apa yang terjadi Nak?” ummi sholeha mendapati al-Farisi tergeletak di lantai. “Ummi... badan Alfa trasa kaku, kaki Alfa tidak bisa merasakan apa-apa” jawab al-Farisi terbata-bata.
Pada saat itu juga al-Farisi dilarikan ke rumah sakit.
**
“Assalamualaikum, ummi!!!”, sapa zahra di balik telpon.
“waalaikum salam”, jawab ummi.
Sebelum ummi sholeha menghabiskan salamnya, zahra segera menyambung pembicaraannya.
“Ummi, akhi Alfa gimana kabarnya?”, tanya zahra khawatir.
“Akhi Alfa baik-baik saja!!!, Zahra tau dari mana kalau akhi Alfa sakit?”
“tadi salah seorang santri telpon kesini, dan memberitahukan kabar akhi, memangnya akhi sakit apa ummi?”
“Ummi nggak tau akhimu sakit apa.”
“Ummi... Zahra boleh ya ngomong sama akhi bentar!!!
Ummi sholeha lalu menyerahkan telponnya kepada al-Farisi. Dalam keadaan terbaring al-Farisi menerima telepon dari adiknya, Zahra.
“Assalamualaikum...”. Al-Farisi memulai pembicaraannya.
“Akhi, akhi kok nggak kasih tau Zahra kalu akhi masuk rumah sakit?”, tanya Zahra buru-buru.
“Walaupun akhi nggak kasih tau, tapi Zahra kan sudah tau!!!” jawab al-Farisi tenang.
“memangnya akhi sakit apa sih?”
“Akhi nggak apa-apa kok, Zahra nggak perlu khawatir.” Sahut al-Farisi
“Akhi sama Ummi sama saja, nggak mau jujur sama Zahra...”
“Bukan begitu, tapi memang akhi nggak apa-apa, rajin-rajin belajar ya di sana, akhi baik-baik saja.”
Setelah beberapa menit, pembicaraan merekapun berakhir. Al-Farisi memandang wajah umminya.
“Ada apa, Nak? Apa yang Alfa fikirkan?”
“Tidak apa- apa ummi,” jawab al-Farisi.
“Ada yang kamu sembunyikan dari ummi, ummi tau itu...”
Al-Farisi terdiam sambil terus memandang umminya.
“Ummi, kenapa sekarang Alfa tersa sulit menghafal al-Qur’an?”
“Apa yang ada dalam fikiran Alfa sekarang?”
“Alfa Cuma....”. Al-Farisi kembali membisu dalam pembaringannya.
Ummi Sholeha menatap Al-Farisi penuh tanya.
“Ummi, waktu ke Jawa, Alfa bertemu dengan seorang gadis, dan sekarang gadis selalu menghantui pikiran Alfa.”
“Apa yang Alfa lihat dari gadis zaman sekarang?” sambung Ummi Sholeha.
“Gadis itu memakai jilbab Ummi!!! Dia gadis muslimah.” Jawan al-Farisi lantang. Ummi Sholeha terdiam.
“Ummi...” panggil al-Farisi.
Ummi Sholeha lalu pergi meninggalkan al-Farisi sendirian.
“Kenapa dengan Ummi?”, pertanyaan itu selalu terpikirkan olehnya.
“Ummi..!!!, sedang apa ummi di sini?” sapa Asma, salah seorang santri yang mengaji di pesantren al-Farisi.
“Asma...” sahut UmmiSholeha sambil mengusap airmata yang sempat terjatuh.
“Ummi kenapa?” tanya Asma sambil memegang tanggan Ummi Sholeha. Gadis itu memang sangat akrab dengan keluarga al-Farisi. Dia yang selalu membantu pekerjaan Ummi Sholeha dan dia juga yang sering menemani Ummi Sholeha menjaga al-Farisi di rumah sakit.
“Alfa..”. ummi Sholeha kembali menangis saat menyebut nama al-Farisi.

“Ada apa dengan akhi Alfa?” tanya Asma mengerutkan keningnya. Ummi Sholeha menangis dalam pelukan Asma. Setelah itu Ummi Sholeha menceritakan semuanya kepada Asma, bahwa al-Farisi mengalami lumpuh sebagian badannya. Ummi Sholeha sangat khawatir dengan kondisi al-Farisi, teringat seorang gadis yang diceritakan oleh al-Farisi, dan mengingat umur al-Farisi yang sudah memasuki 27 tahun, al-Farisi sudah pantas meminang seoarang gadis, namun apa harapan itu akan terwujud? Mengingat kondisi al-Farisi sekarang ini??

Al-Farisi terus menghafal ayat-ayat al-Qur’an, tak ayal mushaf kecil sering jatuh dari tangannya. Al-Farisi telah mengetahui apa yang terjadi dengannya. Selembar kertas keterangan dari rumah sakit, yang selama ini disembunyikan oleh Ummi Sholeha sudah dibaca olehnya saat Ummi Sholeha keluar dari ruangan tempat dia dirawat. Tetesan airmatanya perlahan- lahan jatuh secara bergantian.
Terakhir saat al-farisi melafadhkan surat an-Nisa, jantungnya terasa berdegup kencang. Kakinya terasa kaku, lidahnya terasa berat mengucapkan ayat-ayat-Nya. Brukkkk... al-Farisi terjatuh dari ranjang tempat tidurnya saat dia berusaha mengambil mushaf yang ada di meja di sampingnya.


Bersambung...

Created By:
Enny Een Annuzu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru