Ilmu yang Bermanfaat

ilmu yang bermammfaat di akhirat

اِعْمَلْ لِدُنيَاكَ بِقَدْرِ مَقَا مِكَ فِيهَا وَاعْمَلْ لِأ خِرَتِكَ بِقَدْرِ بَقَاءِكَ فِيْهَا وَاعْمِلِ اللهِ بِقَدْرِ حَاجَا تِكَ اِلَيْهِ وْاعْمَلْ لِلنَّارِ بِقَدْرِ صُبْرِكَ عَلَيْهَا

Bekerjalah untuk duniamu, sesuai lamanya engkau bertempat tinggal di dalamnya, dan beramallah untuk akhiratmu sesuai keabadianmu di dalamnya, dan beramallah untuk Allah sesuai kebutuhan mu padaNya, dan beramallah karena neraka sesuai kemampuanmu menahan panasnya

Syaqiq Al balkhi adalah seorang ulama sufi yang ternama pada masanya,    Namanya Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim Al-balkhi, wafat pada tahun 149 H / 810 msehi dan termasuk guru besar sufi khurasan, beliau adalah guru dari Hatim Al-Asham,  murid yang sangat respek dan loyal terhadap gurunya ini. Nama lengkapnya, Abu Abdurrahman Hatim ibn Alwan al-Asham. Adalah seorang yang zuhud dan piawi dalam memberi nasihat. Karena saking bijaknya ia dalam memberi petuah, ia dijuluki “Lukman Hakim-nya umat ini”. Suatu hari, setelah mereka bersama selama 30 tahun, Maka Syaqiq Al-Balkhi bertanya kepada muridnya tersebut: “Engkau telah mendampingi diriku bertahun-tahun lamanya, apa yang telah engkau hasilkan dariku?”. Maka Hatim Al-Asham menjawab: “Aku telah menghasilkan 8 faedah dari ilmu, dan hal itu sudah mencukupi bagiku, karena seseungguhnya aku berharap keselamatanku di dalam 8 faidah tersebut”.

Lalu Syaqiq Al Balkhi bertanya :

“Apakah 8 faedah tersebut ?”

Hatim AL Ashom menjawab :

Faedah pertama :    Aku telah melihat semua makhluk, setiap dari mereka memiliki mahbub (kekasih), yang dicintai dan dirindukan, sebagian dari kekasih itu ada yang menemaninya hanya sampai ketika sakit menjelang ajal, sebagian lagi ada yang mengantarkan sampai di pinggir kubur, kemudian kembali dan meninggalkannya dalam kesepian dan kesendirian, dan tidak ada seorang pun yang menyertainya masuk kedalam kubur.

 Lalu aku berfikir dan berkata : Sebaik-baik kekasih adalah yang bisa ikut masuk di dalam kubur dan menjadi  pendampingku disana, dan aku tidak menemukannya kecuali al a’maalussholihah (amal-amal yang baik), maka aku menjadikannya sebagai kekasih agar bisa menjadi lampu penerang di dalam kuburku dan selalu akan menjadi  kekasih sejati yang tidak akan meninnggalkanku seorang diri.

Faedah kedua :
    “Aku telah melihat semua makhluk mengikuti hawa nafsu dan kesenangannya, lalu aku ta’ammul (angan-angan dan memikirkan)Firmannya  Allah : “ Sedangkan orang yang takut pada Tuhannya dan mencegah dari hawa nafsu, maka sesungguhnya surga adalah tempatnya.” (QS. An Nazi’at :40-41)
    Aku yakin Al-quran adalah haq dan benar, kemudian diriku melawannya dan menekannya dengan sekuat tenaga supaya mengikutiku,  memeranginya dan mencegah kesenangannya, sehingga nafsuku ridho dan menurut untuk ta’at kepada Allah.

Faedah ketiga :
    Aku telah melihat setiap manusia berusaha mengumpulkan harta dunia dan menyimpannya, lalu aku merenungkan firman Allah ; “Sesungguhnya yang ada di sisimu akan habis, dan sesuatu yang di sisi Allah itu kekal abadi, Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan ”. (QS. An Nahl :96)
    Kemudian aku menyerahkan semua harta yang telah aku hasilkan untuk memperoleh keridhaan Allah, lalu aku bagikan pada orang-orang miskin sebagai simpananku di saat aku kembali kepadan-NYA.   

Faedah keempat :
    Aku telah melihat sebagian manusia beranggapan bahwa kemuliaan dan kemasyhuran ada di tengah banyaknya kaum dan keluarga, sebagian yang lain beranggapan bahwa kemuliaan dan keluhuran itu di dalam banyaknya harta benda dan keturunan, lalu bisa membanggakanya, sebagian yang lain beranggapan bahwa kemuliaan itu jika bisa mengambil harta orang lain, berbuat zalim/aniaya, dan melakukan pembunuhan, sebagian yang lain di dalam merusak harta hidup mewah dan berfoya-foya.
    Lalu aku merenungkan Firman Allah : “Sesungguhnya yang paling mulianya orang disisi Allah adalah orang yang paling taqwa” (QS. Al Hujurat :13). Lalu aku memilih taqwa (melakukan perintah Allah dan menjauhi larangannya) dan aku berkeyakinan bahwa Al-quran adalah haq dan benar, sedangkan persangkaan dan anggapan mereka semua adalah batal dan menyimpang.

Faedah kelima :
    Aku telah melihat sebagian manusia saling mencela dan menggunjing di antara sesama dan aku menemukan penyebabnya adalah hasud (kedengkian) dalam harta, pangkat dan ilmu. Lalu aku merenungkan Firman Allah : “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”(QS. Az Zukhruf :43:32). Maka aku mengetahui bahwa penghidupan dunia adalah dari Allah sejak zaman azali, maka aku tidak hasud pada seseorang dan aku ridho dengan qismatillah (pembagian Allah).

Faedah keenam :
    Aku telah melihat sebagian manusia saling bemusuhan dengan yang lain karena suatu tujuan dan sebab. Lalu aku merenungkan Firmannya Allah : “Sesungguhnya setan bagi kalian adalah musuh yang nyata, maka jadikanlah setan sebagai musuh”. (QS. Fathir :6)
    Maka aku mengetahui bahwa manusia tidak boleh bermusuhan dengan yang lain selain dengan setan.

ilmu yang bermamfaat dikubur
Faedah ketujuh :
    Aku telah melihat setiap manusia berusaha dengan sungguh-sungguh dan mereka bekerja dengan keras untuk memperoleh makan dan mata pencaharian hingga ada yang terjatuh dalam syubhat (perkara yang tidak jelas halal dan haramnya) dan terjatuh dalam keharaman, menghinakan diri dan mengurangi derajatnya. Lalu aku merenungkan Firmannya Allah : “Tiada satupun hewan di muka bumi, kecuali Allah telah menanggung rezekinya” (QS.Huud :6)
    Maka aku mengetahui bahwa rizqiku telah ditanggung oleh Allah, lalu aku menghabiskan seluruh waktuku untuk beribadah dan memutuskan harapanku dari selain Allah.

Faedah kedelapan :
    Aku melihat setiap orang I’timad  (mengandalkan) dengan sesuatu selain Allah, sebagian dari mereka mengandalkan dirham dan dinar, sebagian yang lain mengandalkan harta dan kekuasaan, sebagian lagi mengandalkan pada pekerjaan dan keahlian, sedangkan sebagian yang lain mengandalkan makhluk sesamanya.
    Lalu aku merenungkan Firmannya Allah : “Barang siapa yang tawakkal (berserah diri) pada Allah, maka Allah akan mencukupinya, sesungguhnya Allah yang membuat sampai perkaranya sesuatu, dan Allah telah menjadikan atas qodho’ (ketentuan) atas setiap perkara”. (QS. Ath Thalaq :3)
    Maka aku berserah diri pada Allah dzat yang mencukupiku, dan sebaik-baik dzat yang dipasrahi.

  Kemudian wali Allah Syaqiq Al Balkhi berkata kepada murindnya Hatim Al Ashom : “Semoga Allah memberimu taufiq, aku telah melihat seluruh isi kitab Taurat, Zabur, Injil, Dan Al-qu’ran, dan aku menemukan isi  pokoknya keempat kitab tersebut adalah delapan faedah tadi, barang siapa yang telah mengamalkan delapan faedah tersebut maka ia telah mengamalkan empat kitab itu”.

By :Ibnu Amina

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru