Cinta Yang Takkan Pernah Berakhir

Cerpen

Cinta Yang Takkan Pernah Berakhir
“Hanya do’a yang bisa ku panjatkan untuk mereka insan yang kukasihi, kapanpun, di manapun mereka berada
Semoga Allah selalau melindungi dan menyayangi mereka , , Aamiiin”

Oleh : Amrina Rasyada Nurdin, 3 f

Manakala hidup harus ada pilihan, mungkin saat itulah masa-masa yang paling sulit untuk kita lewati, bahkan ketika harus berpisah dari orang-orang yang kita cintai, menapaki jalan lurus sendiri, tanpa mereka di sisi. Jarak mungkin memang memisahkan kita, tapi ikatan cinta dan kasih sayang takkan bisa menghalangi kehidupan kita, bahkan waktu sekalipun. Karena ikatan batin di antara kitalah yang membuat kita mengerti arti setetes cinta dan harapan...

Sayup-sayup pagi mulai terasa, saat dingin semakin menyelinap masuk dalam selimutku, ach setan seakan menggoda untuk tidak bangkit dari tidurku. Ku coba membuka dua mata dengan pelan, ku lirik weakerku jarum jam menunjukan angka 05.15... terfikir olehku, adzan masih lama sekitar 10 menit lagi... setidaknya masih punya waktu untuk meneruskan mimpi yang barusan terpotong oleh suara ayahku... “Nak, bangun ... ayo ke surau kita shalat shubuh...” Dengan berat aku menjawab “iya sebentar lagi, dingin nhi.” Terdengar suara langkah kaki ayah dan bundaku semakin redup, kutarik kembali selimutku.. he he dengan pasti aku coba pejamkan mata, tapi ada sesuatu yang mengganjal dari otakku, ”setiap pagi ayah dan bunda selalu membangunkanku untuk shalat subuh berjama’ah di surau, tak pernah aku hiraukan, bahkan dengan enaknya aku selalu shalat di rumah ketika mereka kembali dari surau. Ach , anak macam apa aku ini, tak berterima kasih...”

Suara adzan terdengar merdu dari surau yang memang tak jauh dari rumahku. Hanya berjalan kaki sekitrar lima menit sudah bisa menginjakkan kaki di surau. Suara itu sudah sering aku dengar, bahkan hampir setiap subuh, tapi subuh kali ini berbeda. Apakah karena aku tidak pernah mencoba untuk tafakkur ketika setiap kali ayahku adzan. Suara azdannya pagi ini terdengar sedih, apa karena aku? Aku bangkit dari lamunanku sesaat, bergegas ke sumur untuk wudhu’, selesai wudhu’ langsung aku memakai mukena. Saat aku mengikat kedua tali mukenaku, kudengar lagi suara ayahku “ashshalatu khairum minan nauum....2x”. dalam suaranya trdengar banyak harapan yang ia tanam dalam jiwaku. Bergegas aku berlari untuk mencapai surau, sesampai di surau, aku langsung mengambil tempat di dekat bundaku. Seketika kulirik wajahnya yang tersenyum manis padaku. Ach betapa gembiranya hati ini, “coba saja dari hari-hari yang lalu aku begini,” fikirku.

Sepulang dari surau, aku bergegas ke kamar, mengganti mukena. Ayah dan bundaku dibawah sibuk mempersiapkan keperluan mereka untuk ke kebun. Ketika aku menuruni tangga, tak sengaja aku mendengar pembicaraan mereka, “kita harus cepat sampai ke kebun, ma, sebelum matahari terbit”. “sepagi buta inikah mereka harus pergi?” fikirku. Memang setiap pagi mereka pergi ke kebun, karena memang sudah menjadi pekerjaan orangtuaku dari dulu,”bertani”... ku ingat selalu nasehat mereka untuk kami anak-anak mereka, “sudah cukup ayah dan bunda saja yang merasakan hidup susah, tapi kalian anak-anak bunda dan ayah harus bahagia, harus sukses semuanya, biar ayah dan bunda saja yang merasakan pendidikan hanya sampai sekolah dasar, kalian harus lebih dari itu, kalian harus sarjana....”tegas ayahku.
Betapa sedih ketika aku mendengar kata-kata itu keluar dari bibir 2 insan yang kukasihi, betapa mereka membuktikan kata-kata yang pernah mereka ucap, sekarang dua kakakku sudah sukses menjadi sarjana, bahagia rasanya. Aku bangga punya ayah dan bunda. Aku bangga ayah dan bundaku “petani”, meski di luar sana mereka lebih bangga punya orangtua “pejabat”, tapi tidak denganku..tidak sama sekali... tidak pernah sekalipun ada rasa penyesalan dalam benakku, aku terlahir sebagai anak petani... ayah dan bundaku adalah petani sukses, aku dengan bangga selalu bercerita demikian kepada kawan-kawan, kalian tau kenapa aku mengatakan orang tuaku sebagai “petani sukses”? karena ayahku sudah mempersarjanakan 2 putrinya sekaligus...

Dan kalian tau, apa yang membuatku lebih bangga lagi kepada mereka? 2 anaknya lagi diberi bekal pendidikan agama yang lebih kuat. Dengan memberi mereka pendidikan agama di “dayah”... mereka tidak pernah menghiraukan apa kata orang di luar sana. Orang tuaku membuktikan pada dunia, bahwa kerja keras mereka, banting tulang mereka, keringat kering, basah mereka, sekarang menuai hasil. Karena seperti kata pepatah, “apa yang ditanam itulah yang dipetik”...Aku bangga kepada ayah dan bundaku, bangga menjadi anak mereka, bangga telah hadir dalam kehidupan mereka, yang dengan mereka , aku mengerti arti sebuah kehidupan..!!!

Semakin hari ayah dan bundaku semakin tua, semakin lemah, sekali-kali ku perhatikan rambut mereka, yang mulai beruban, kulihat langkah mereka yang semakin lelah, raut wajah yang dulu kekar kini mulai keriput, kulit yang dulu putih, kini mulai kelam, semua itu mereka lakukan untuk kami, anak-anak mereka... kerja keras mereka tak pernah sia-sia... coba saja aku bisa menggantikan mereka, menjadi air mata ketika kesedihan melanda mereka, menjadi kaki ketika mereka berjalan... karena betapa sedih, ketika aku melihat kaki bundaku saat ia menapaki tanah untuk berjalan, penuh dengan luka, bahkan mungkin, kuku kaki yang dulunya bagus, sekarang sudah tidak terlihat lagi, hanya sedikit kuku yang tertinggal di setiap jari kakinya.. semua itu mereka lakukan untuk kami... betapa aku harus berpikir keras, harus bekerja keras untuk bisa membahagiakan mereka...”suatu saat nanti”..

Terkadang aku pernah berfikir, aku harus pergi jauh untuk bisa menghasilkan uang banyak, supaya aku bisa membuat setetes senyuman dari bibir mereka, senyuman yang lebih lebar dari biasanya... tetapi di sisi lain aku harus berjuang di sini, demi mereka dan untuk mereka, menjadi anak yang bisa mereka banggakan, seperti halnnya kak-kakakku...
Ayah, bunda... satu hal yang harus kalian tau.. di sini ananda dan adinda selalu berusaha untuk bisa membahagiakan ayah dan bunda kelak... menjadi anak-anak yang berbakti, menjadi anak-anak yang mengerti dan mendalami ilmu agama.. demi kalian dan untuk kalian, apapun akan kami lakukan. Walaupun permata yang kami berikan, takkan cukup untuk membalas ASI yang kau berikan untuk kami... Tapi setidaknya Kami bisa membuat engkau bahagia di hari-hari yang engkau lalui, bahkan di hari-hari tuamu nanti... engkau bisa merasakan hasil keringat yang dulu pernah keluar dari tubuh kekarmu...
Aku sedih ketika melihat orang-orang di luar sana yang kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua mereka, orang tua mereka sibuk mencari uang siang dan malam, seakan tak ada waktu untuk anak-anak mereka... ach, mereka terlantar, terbuang, terasing, seakan tak ada yang menghiraukan. Anak adalah titipan ilahi...untuk dilindungi dan di ayomi, bukan untuk diterlantarkan...

Itulah kisah segelintir orang-orang yang kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya...betapa kita harus bersyukur, karena kita mempunyai orang tua yang menyayangi kita...

Tapi kesedihan menyelimuti hari-hari kami, ketika kami harus berpisah dari mereka, 2 kakak-kakaku yang telah menyelesaikan kuliahnya, kini menetap di sana, jauh dari orang tuaku. Sedangkan aku dan adikku pergi menjelajah ilmu agama di pondok tercinta ini. Kakakku yang pertama sudah berkeluarga mempunyai anak yang sangat lucu... ayah dan bundaku sekarang mempunyai panggilan baru dari cucu-cucu kesayangannya, yang dulu hanya mendengar panggilan ayah dan bunda, sekarang sudah menjadi kakek dan nenek.. bahagia rasanya. Kakakku yang kedua sudah bekerja di sebuah perusahaan, yang gajinya lumayan besar...

Aku dan adikku, banyak cerita yang kami dapatkan di sini.., sedih, bahagia, kecewa, sakit, senang, semuanya terasa indah. Karena kebersamaan kami, sekarang semuanya telah berbeda, harus merasakan jauh dari kedua orang tua, bukanlah hal yang mudah untuk kita jalani, tapi karena doa dan harapan orang tualah membuat kami bertahan... bertahan dalam sulitnya hidup, ketika ekonomi keluarga semakin merosot, tapi bersyukur karena Allah masih menyayangi kita... sehingga kami hidup di dayah dalam keadaan yang aman dan sejahtera...

Bahagia ketika sesekali menginjak kaki di rumah, untuk menjenguk kedua orang tua yang kami kasihi, bahagia ketika bisa berkumpul bersama, seakan saat-saat yang dulu, kini kembali untuk sesaat... orang tua bahagia ketika melihatanak-anakny bahagia...ketika berkumpul bersama banyak cerita yang mengalir, seakan takkan pernah habis, mulai dari kisah hidup masing-masing yang sedang dijalani sekarang sampai mengenang kembali kerja keras ayah dan bunda, banting tulang mereka, keringat mereka, bahkan darah yang pernah mengalir di sisi tubuh mereka, ach, betapa semua itu takkan ada akhirnya...cerita ketika bunda harus menjual kangkung dari rumah ke rumah, ayah yang harus bekerja sendiri di kebun dan di sawah, semua itu adalah cerita kehidupan, yang mempunyai banyak halangan dan hambatan, tapi dengan doa dan kerja keras, semua akan memiliki akhir yang istimewa. “berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan...”, begitulah firman Allah... sekian dan terima kasih...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru