Hikmah Berpoligami Menurut Islam



faedah punya istri banyak

Umdah- Belakangan ini, banyak sekali kritikan terhadap hukum-hukum yang ada dalam islam, seperti Hukum Jinayah dan poligami, mereka berpendapat kalau hukum jinayah bertentangan dengan HAM dan hukum poligami telah menguliti hak-hak perempuan. Dalam islam, setiap hukum yang telah ditetapkan, umat tidak perlu mempertanyakan kenapa, karena apapun yang Syara’ tetapkan itu sudah pasti untuk kemaslahatan umat itu sendiri, walau terkadang secara kasad mata bertentangan dengan akal manusia. Padahal, disaat diteliti lebih jauh, poligami punya hikmah yang cukup besar baik untuk individu umat tersebut atau manfaat untuk agamanya.

Salah satu perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah, laki-laki akan tetap bisa punya keturunan walau umurnya telah sampai delapan puluh tahun, sedangkan  perempuan pada kebiasaan di saat umurnya telah sampai lima puluh atau lima puluh lima tahun, akan putus dari haid, atau tidak akan ber-haid lagi. Oleh karenanya, maka perempuan tidak akan bisa punya anak lagi di saat berumur demikian. Hikmah dari cepatnya perempuan putus asa dari haid adalah karena perempuan lebih lelah dari laki-laki dalam menjalani kehidupan, kalau laki-laki hanya lelah memikirkan bagaimana cara mencari nafkah, maka perempuan lelah karena disamping mereka harus melayani suami, mereka juga mengandung, melahirkan, mendidik anak, mengurus rumah tangga dan lain-lain.

Mendidik anak yang merupakan hal yang menyebabkan lelah dan beratnya perempuan dalam menjalani kehidupan, merupakan suatu rahasia yang umum bagi orang yang berpikir bijaksana.

Kemudian, bukan satu rahasia lagi dalam agama islam kalau islam sangat menganjurkan umatnya untuk punya keturunan dan berlomba-lomba untuk memperbanyaknya, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadis:

                                                                                                تناكحوا تناسلوا تكاثروا فاني مباه بكم الامم يوم القيامة     

Artinya : Menikahlah! punyai keturunan! Dan perbanyaklah! karena aku berbangga-bangga dengan banyaknya umat pada hari kiamat.

[next]
Hikmah dari tuntutan syara’untuk punya banyak keturunan dan berbangga-bangganya nabi pada hari kiamat dengan banyaknya umat adalah kembali kepada umat islam sendiri, yaitu apabila seseorang menikah dan punya banyak keturunan, maka semakin banyak jumlah umat tersebut, semakin banyak jumlah menegaskan kebesaran mereka, karena amalan kebaikan yang di kerjakan oleh orang banyak lebih baik dari amalan kebaikan yang di kerjakan orang dengan jumlah sedikit, semakin banyak jumlah yang mengerjakan, maka semakin bertambahlah kebesaran mereka. Di sini, secara  jelas menegaskan kebesaran pemimpin umat tersebut, yang membawa amalan kebaikan yang di kerjakan umat tersebut, yaitu baginda nabi SAW, maka karena itulah beliau berbangga-bangga di hari kiamat. Sebagian dari amalan kebaikan yang membawaki kepada  semakin banyaknya umat islam, adalah banyak istri, karena dengan  semakin banyaknya istri akan akan mempunyai banyak anak.
   
 Seorang insan, akan menemui kemudharatan apabila hanya diperbolehkan punya satu istri, karena sebagaimana biasanya seorang perempuan akan datang bulan, di mana saat itu seorang suami dilarang untuk mendekatinya, tepatnya tidak boleh bercumbu dari di daerah pusat sampai lutut istri, begitupun sebaliknya, datang bulan atau haid sekurang-kurangnya adalah sehari semalam dan lima belas di tambah lima belas malam, pada kebiasaan enam atau tujuh hari, sedangkan kebutuhan biologis seorang lelaki kepada istrinya tetap seperti biasanya, dia tidak akan bisa menyalurkannya saat istrinya datang bulan, hal tersebut memudharatkan laki-laki, maka terjadilah perselingkuhan, atau lain sebagainya, ini tentunya berlaku bagi sebahagian lelaki yang tidak sanggup menahan kebutuhan biologis tersebut. Hal tersebut tidak akan berlaku apabila dia punya istri lebih dari satu, dia bisa menyalurkannya kepada istri yang lainnya, merupakan hikmah yang luar biasa, karena secara nyata akan menjahui laki-laki dari perzinahan, yang merupakan dosa besar.

Statistik membuktikan bahwa umat dahulu, yang mana karena mengikut undang-undang negara yang tidak membolehkan poligami, kebanyakan dari keturunan mereka dihasilkan dari perzinahan yang tidak terhingga jumlahnya, seperti kejadian beberapa abad yang lalu, sekitar 3000-an anak bayi yang hasil dari perzinahan di negara Perancis, 4000-an di Munich(jerman), 5000-an di Austria dan 6000-an di Brussel (Belgia), saat itu di kota dan negara-negara tersebut tidak diperbolehkan menikahi lebih dari satu perempuan, yang berefek kepada tingginya tingkat perzinahan( Hikmah Tasyri’ wa Falsafah/juz 2,hal 7).

Dari uraian di atas, dipahami bahwa mempunyai banyak istri merupakan tuntutan alam semesta , karena alam semsta dijaga dan dimamfaatkan oleh manusia, lebih tepatnya untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri, siklus alam semesta tersebut tidak akan pernah punya penghabisan, maka itu menjadi sebuah kebutuhan dan keutuhan moral manusia juga, yang keduanya terpenuhi dari pernikahan dan poligami. Dalam sebuah hadis :
                                                                                                            لا رهبانية في الاسلام 
                                                                                                           
Artinya : Tidak ada rahib (pendeta) dalam islam.

Karena rahib dilarang mendekati kaum perempuan, seandainya ini berlaku dalam islam, maka sungguh akan sedikitlah keturunan manusia dari masa ke masa, yang mana akan berimbas kepada rusaknya alam semesta, karena semakin lama, semakin sedikit manusia yang tinggal di dalamnya, maka semakin sedikitlah manusia yang menjaga dan mengambil mamfaat darinya, ini merupakan sebuah kemunduran dan tidak bisa diterima, karena sebagaimana yang telah jadi rahasia umum dan nyata, bahwa di ciptakan alam semesta adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Hikmah poligami lainnya, apabila seorang laki-laki hanya punya satu istri, dan dia orang yang punya kegiatan yang banyak, maka diketika istrinya sakit, akan terbengkalailah urusan rumah tangganya, karena sudah jadi kebiasaan kalau perempuan-lah yang mengurusnya, berbeda jika ia punya istri lebih dari satu, di sini jelas bahwa punya istri lebih dari satu adalah rahmat bagi manusia, di negara jiran, sebuah kisah nyata, ada seorang profesor yang punya tiga istri, itu semua karena kesibukannya yang luar biasa, dia punya sebuah perusahaan besar dan sering bepergian ke luar negeri untuk jadi pembicara di berbagai acara, karena kesibukannya, mengurus perusahaan ia serahkan kepada istri pertamanya, karena kesibuakan istri pertamanya mengurus perusahaan, dia tidak sempat untuk mengurus urusan rumah tangganya terutama anak-anaknya, setelah bermusyawarah, akhirnya profesor tersebut menikah lagi, istri keduanya-lah yang bertugas mengurus rumah tangga dan anak-anak mereka di rumah, kalau ada yang bertanya, mengurus rumah tangga dan anak kan bisa dengan memperkerjakan pembantu dan baby sister? Profesor tersebut punya jawaban, dia tidak memakai jasa baby sitter karena tidak percaya kepada mereka, dia trauma dengan mereka, karena pernah dikecewakan, dengan alasan tertentu. Lalu, karena dia sering bepergian ke luar negeri yang sampai berminggu-minggu, ditambah tidak bisa membawa kedua istrinya, karena sibuk mengurus perusahaan dan rumah tangga, akhirnya setelah bermusyawarah dengan mereka berdua, dia menikah untuk kali yang ketiga, istri yang ketiga bertugas untuk menemaninya bepergian jauh, alasannya? Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, karena takut terjerumus kedalam dosa besar saat bepergian. Subhanallah, ini merupakan kisah nyata yang identitas mereka, ada pada penulis. Penulis pernah berjumpa dengan beliau beberapa tahun lalu saat beliau jadi pemateri dalam sebuah diskusi di salah satu dayah, di Propinsi Aceh.

Dari uraian tersebut, sangat jelaslah hikmah dari berpoligami, maka apa pendapat para ilmuan-ilmuan yang berpengetahuan luas, mereka menjelekkan Agama islam yang membolehkan berpoligami, adakah hukum dan undang-undang pada segala urusan manusia, yang lebih adil dan bijak selain dari yang telah digariskan oleh Islam? Wallahu’alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru