Tips Memotong Kuku Ala Rasul

Tips Potong Kuku Ala Rasul

Tips Potong Kuku Ala Rasul - Memotong kuku adalah hal yang sangat sering kita lakukan, dalam seminggu sekali tentunya kita akan memotong kuku baik laki-laki maupun perempuan , disamping memotong kuku adalah perbuatan sunnah dia juga dapat menjadikan tangan tampak bersih. Dan sudah seharusnya sebagai muslim kita wajib menjaga kebersihan badan dan lingkungan. Nah..! kalau memang sunnah, gimana sich cara potong kuku yang benar? Alhamdulillah pada edisi kali ini kami mau memberikan tips buat para ikhwan dan akhwat tentang cara potong kuku Ala Rasulullah.

Syeikh Zainuddin Al-Malibarri dalam kitabnya fathul Mu’in Jilid 2 pada bab Shalat Jum’at tepatnya pada pembahasan sunnah-sunnah sebelum Jum’at menjelaskan bahwa:

  1.  Cara potong kuku yang benar itu dimulai dari telunjuk kanan hingga kelingking kanan, kemudian ibu jari kanan, setelah itu baru di sambung ke kelingking kiri hingga sampai ke ibu jari kiri. Memang sunnahnya berselang-seling. Sesuai dengan hadis nabi من قص اظفاره مخالفا لم ير فى عينه رمد “Barang siapa yang memotong kukunya dengan cara berselang-seling niscaya tidak diperdapatkan pada matanya penyakit mata” 
  2. Berbeda dengan kuku kaki, kalau kuku kaki dimulai dari kelingking kanan hingga kelingking kiri secara berturut-turut. Nah, mudahkan? Lalu kapan sunnah memotongnya? Disunnahkan pada hari kamis dan pagi jum’at, 
  3. Selain sunnah, bila memotong kuku pada sore kamis juga dapat menjauhkan kita dari penyakit sesuai dengan hadis Rasul yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah من اراد أن يأمنّ الفقر و شكاية العمى والبصر والجنون فليقلّم أظفاره يوم الخميس بعد العصر  “Barang siapa yang ingin jauh dari kefakiran, buta, supak (vitiligo), dan gila hendaklah memotong kuku pada hari kamis sesudah ‘Ashar” 
  4. Jagan lupa cuci tangan sehabis potong kuku karena dapat menyebabkan penyakit supak. Sekarang sudah tau kan, jangan lupa mengamalkannya ya! Mengikuti jejak Rasul membuktikan kita cinta Rasul.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru