Indonesia dan Filipina Keluarkan Surat Utang Syariah

yang pertama
indonesia dan filipina jadi yang pertama
Negara di kawasan Asia Tenggara dilaporkan telah menjual sukuk bernilai US$ 5 miliar dalam empat tahun terakhir. Malaysia yang sudah menebitkan US$ 3,25 miliar dan Qatar US$ 2 miliar.Indonesia sendiri terus berusaha mengejar ketertinggalan dari Malaysia dalam bisnis keuangan syariah. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengungkapkan keunggulan Indonesia setidaknya terlihat dari rutinitas penerbitan surat utang syariah (sukuk) global.

Meski diakui, Indonesia memang masih tertinggal jauh dalam hal aset bank syariah dan penjualan sukuk lokal. Bambang mengklaim Indonesia kini setidaknya sudah mulai mengungguli Negeri Jiran ini. Masih menurut Bambang, pemerintah berencana menerbitkan sukuk global pada paruh pertama 2015. Penerbitan sukuk ini merupakan yang kelima kalinya berturut-turut dilakukan Indonesia. "Indonesia secara konsisten telah menerbitkan sukuk setiap tahunnya guna membangun pasar dan kepercayaan pelaku pasar," kata Fund Manager dari PT MNC Asset Management, Akbar Syarif seperti dikutip Dream dari laman Bloomberg, Rabu, 14 Januari 2015. Ernst & Young LLP yang memprediksi minimnya produk sukuk bakal bertambah dua kali lipat pada 2018, membuat lembaga konsultan Amanah Capital Group Ltd cuku yakin sukuk Indonesia bakal terserap pasar. Malaysia mencatat batas jatuh tempu sukuk terlama pada 2021, sedangkan Indonesia tercatat memiliki outstanding Sukuk yang bakal jatuh tempo antara 2018 hingga 2024.

Menurut Akbar, Indonesia sanggup menyerap dana dengan berbagai strategi. "Apakah dengan tenor pendek atau panjang, sehingga basis investor menjadi lebih luas dan menambah volume transaksi," katanya. Dari catatan Bloomberg, dari semua negara yang ada di asia tenggara Indonesia bersama Filipina merupakan negara pertama yang menerbitkan sukuk pada 2015.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prediksi Malam Lailatur Qadar Menurut Pengalaman Para Sufi

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernita

Kepribadian Seorang Guru