umdah

Mencium Makam Nabi Muhammad SAW

UMDAH.CO-Menguji Kejujuran Wahabi Ada yang beranggapan bahwa ulama Wahabi itu orang-orang yang jujur dan dapat dipercaya. Berikut ini ...

Mencium Makam Nabi SAW

UMDAH.CO-Menguji Kejujuran Wahabi

Ada yang beranggapan bahwa ulama Wahabi itu orang-orang yang jujur dan dapat dipercaya. Berikut ini sebagian bukti ketidakjujuran mereka.
WAHABI: Mengusap dan mencium makam para wali, termasuk makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan tabaruk itu haram dan syirik. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Ziyarah al-Qubur wa al-Istinjad bil-Maqbur, kitab kecil yang dibagi-bagikan secara gratis, sebagai berikut:

بَيَانُ حُكْمِ التَّمَسُّحِ بِالْقَبْرِ وَتَقْبِيْلِهِ وَتَمْرِيْغِ الْخَدِّ عَلَيْهِ وَأَمَّا التَّمَسُّحُ بِالْقَبْرِ أَيَّ قَبْرٍ كَانَ وَتَقْبِيْلُهُ وَتَمْرِيْغُ الْخَدِّ عَلَيْهِ فَمَنْهِيٌّ عَنْهُ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِيْنَ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ مِنْ قُبُوْرِ اْلأَنْبِيَاءِ وَلَمْ يَفْعَلْ هَذَا أَحَدٌ مِنَ سَلَفِ اْلأُمَّةِ وَأَئِمَّتِهَا بَلْ هَذَا مِنَ الشِّرْكِ اهـ زيارة القبور والاستنجاد بالمقبور (٥٤).
“Penjelasan hukum mengusap makam, mencium dan mengusapkan pipi kepadanya. Adapun mengusap makam, makam manapun, menciumnya dan mengusapkan pipi kepadanya, maka hukumnya dilarang oleh kesepakatan kaum Muslimin, meskipun makam tersebut makam para nabi. Ini belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kaum Salaf umat Islam serta para imamnya. Bahkan ini termasuk syirik”.
Dalam pernyataan di atas, Syaikh Ibnu Taimiyah menegaskan, bahwa mengusap, mencium dan mengusapkan pipi ke makam siapapun, termasuk makam para nabi, adalah dilarang, termasuk perbuatan syirik dan belum pernah dilakukan oleh generasi Salaf dan para imam mereka.
SUNNI: Tentu saja pernyataan tersebut tidak benar, ngawur, bohong dan bertolak belakang dengan fakta dan realita. Terdapat banyak riwayat dari kaum Salaf yang saleh, yang mencium makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1) Sahabat Abu Ayyub al-Anshari radhiyallaahu ‘anhu, telah diriwayatkan mencium makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِيْ صَالِحٍ قَالَ: أَقْبَلَ مَرْوَانُ يَوْمًا فَوَجَدَ رَجُلاً وَاضِعًا وَجْهَهُ عَلىَ الْقَبْرِ فَقَالَ أَتَدْرِيْ مَا تَصْنَعُ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ فَإِذًا هُوَ أَبُوْ أَيُّوْبَ رضي الله عنه فَقَالَ نَعَمْ جِئْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَلَمْ آَتِ الْحَجَرَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ لاَ تَبْكُوْا عَلىَ الدِّيْنِ إِذَا وَلِيَهُ أَهْلُهُ وَلَكِنْ اِبْكُوْا عَلَيْهِ إِذَا وَلِيَهُ غَيْرُ أَهْلِهِ. (َروَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَابْنُ أَبِيْ خَيْثَمَةَ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ وَالذَّهَبِيُّ والسُّيُوْطِيُّ).

“Dawud bin Abi Shalih berkata: “Pada suatu hari Marwan datang, lalu menemukan seorang laki-laki menaruh wajahnya di atas makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Marwan berkata: “Tahukah kamu, apa yang kamu perbuat?” Lalu laki-laki tersebut menghadapnya, ternyata ia sahabat Abu Ayyub radhiyallaahu ‘anhu. Lalu ia menjawab: “Ya, aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan mendatangi batu. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan tangisi agama apabila diurus oleh ahlinya. Akan tetapi tangisilah agama apabila diurus oleh bukan ahlinya.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad [23633], al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/560 [8571]), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (57/249) dari Dawud bin Abi Shalih. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir (4/158 [3999]) dan al-Mu’jam al-Ausath (1/94 [284]), Ibnu Abi Khaitsamah dalam al-Tarikh al-Kabir (1/444), dan Ibnu Asakir (57/250) dari al-Muththalib bin Abdullah bin Hanthab. Hadits tersebut setidaknya bernilai hasan. Hadits tersebut telah dishahihkan oleh al-Hakim, al-Dzahabi dan al-Suyuthi dalam al-Jami’ al-Shaghir.

2) Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallaahu ‘anhuma meletakkan tangan kanannya ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap datang dari perjalanan.

عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رضي الله عنهما ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ صَلَّى سَجْدَتَيْنِ فِي الْمَسْجِدِ، ثُمَّ يَأْتِي النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَيَضَعُ يَدَهُ الْيَمِينَ عَلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيَسْتَدْبِرُ الْقِبْلَةَ ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رضي الله عنهما. (رَوَاهُ الْقَاضِيْ فِيْ فَضْلِ الصَّلاَةِ عَلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ).

“Dari Nafi’, bahwa apabila Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma datang dari suatu perjalanan, ia menunaikan shalat dua raka’at di Masjid, lalu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu meletakkan tangan kanannya ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membelakangi kiblat, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallaahu ‘anhuma”. (Al-Qadhi Ismail al-Baghdadi, Fadhl al-Shalat ‘ala al-Nabi hal. 84.)

3) Sahabat Bilal radhiyallaahu ‘anhu, muadzdzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengusapkan wajahnya ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ إِنَّ بِلاَلاً رَأَى فِي مَنَامِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَقُولُ مَا هَذِهِ الْجَفْوَةُ يَا بِلاَلُ أَمَا آَنَ أَنْ تَزُوْرَنِيْ فَانْتَبَهَ حَزِينًا وَجِلاً خَائِفًا فَرَكِبَ رَاحِلَتَهُ وَقَصَدَ الْمَدِينَةَ فَأَتَى قَبْرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَجَعَلَ يَبْكِي عِنْدَهُ وَجَعَلَ يُمَرِّغُ وَجْهَهُ عَلَيْهِ وَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ صلوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمَا فَجَعَلَ يَضُمُّهُمَا وَيُقَبِّلُهُمَا فَقَالاَ لَهُ يَا بِلاَلُ نَشْتَهِي نَسْمَعُ أَذَانَكَ الَّذِي كُنْتَ تُؤَذِّنُهُ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي السَّحَرِ فَفَعَلَ فَعَلَا سَطْحَ المَسْجِد فَوَقَفَ مَوْقِفَهُ الَّذِي كَانَ يَقِفُ فِيهِ فَلَمَّا أَنْ قَالَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ ارْتَجَّتِ الْمَدِينَةُ فَلَمَّا أَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاّ اللهُ زَادَ تَعَاجِيجُهَا فَلَمَّا أَنْ قَالَ أَشْهَدُ أمُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ خَرَجَ الْعَوَاتِقُ من خُدُوْرِهِنَّ فَقَالُوا أَبُعِثَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَمَا رُؤِيَ يَوْمٌ أَكْثَرُ بَاكِيًا وَلاَ بَاكِيَةً بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ. (رَوَاهُ الغَسَّانِيُّ فِيْ أَخْبَارِهِ، وَاْبنُ عَسَاكِرَ فِيْ تَارِيْخِ دِمَشْقَ، قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِيْ نَيْلِ اْلأَوْطَارِ، سَنَدُهُ جَيِّدٌ. وَقَالَ الذَّهَبِيُّ فِي السِّيَرِ، سَنَدُهُ لَيِّنٌ وَهُوَ مُنْكَرٌ).

“Dari Abu al-Darda’ radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Bilal radhiyallaahu ‘anhu bermimpi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau bersabda kepadanya: “Mengapa kamu menjauh dariku wahai Bilal? Belum tibakah waktumu berziarah kepadaku wahai Bilal?” Lalu Bilal terbangun dengan rasa gelisah dan takut. Lalu ia menaiki kendaraannya menuju Madinah. Lalu ia mendatangi makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menangis di sampingnya dan mengusapkan wajahnya kepadanya. Lalu Hasan dan Husain mendatanginya. Ia merangkul dan mencium mereka. Lalu keduanya berkata kepada Bilal: “Wahai Bilal, kami ingin mendengar adzanmu yang dulu kamu adzan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam”. Lalu Bilal melakukannya. Ia menaiki loteng Masjid tempat ia adzan dulu. Ketika Bilal mengucapkan Allahu akbar Allahu akbar, Kota Madinah menjadi gempar. Setelah ia berkata asyhadu an laa ilaaha illallaah, Madinah semakin gempar. Setelah ia berkata asyhadu anna muhammadan rasulullah, maka kaum wanita keluar dari kamarnya, dan mereka berkata: “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dibangkitkan kembali?” Sehingga sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah terlihat suatu hari yang lebih banyak orang-orang yang menangis, laki-laki maupun perempuan, dari pada hari tersebut”.
(Diriwayatkan oleh al-Ghassani dalam Akhbar wa Hikayat hal. 45-46 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (7/137). Al-Syaukani berkata dalam Nail al-Authar (5/180): “Sanad hadits ini jayyid (bagus)”. Al-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lam al-Nubala’ (1/358): “Sanadnya lemah, dan haditsnya munkar”. Kisah tersebut juga disebutkan oleh al-Nawawi dalam Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat dan al-Mizzi dalam Tahdzib al-Kamal dan lain-lain.)

4) Muhammad bin al-Munkadir radhiyallaahu ‘anhu, ulama terkemuka generasi tabi’in meletakkan pipinya ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tidak bisa berkata-kata. Al-Hafizh Ibnu Asakir dan al-Dzahabi meriwayatkan:

عَنْ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ يَعْقُوْبَ التَّيْمِيِّ قَالَ كَانَ مُحَمَّدُ بْنِ الْمُنْكَدِرِ يَجْلِسُ مَعَ أَصْحَابِهِ قَالَ فَكاَنَ يُصِيْبُهُ صُمَاتٌ فَكَان يَقُوْمُ كَمَا هُوَ حَتَّى يَضَعَ خَدَّهُ عَلىَ قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يَرْجِعُ فَعُوْتِبَ فِيْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّهُ يُصِيْبُنِيْ خَطْرَةٌ فَإِذَا وَجَدْتُ ذَلِكَ اِسْتَغَثْتُ بِقَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَكَانَ يَأْتِيْ مَوْضِعًا مِنَ الْمَسْجِدِ فِي السَّحَرِ يَتَمَرَّغُ فِيْهِ وَيَضْطَجِعُ فَقِيْلَ لَهُ فِيْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنِّيْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْ هَذَا الْمَوْضِعِ أُرَاهُ قَالَ فِي النَّوْمِ.

“Ismail bin Ya’qub al-Taimi berkata: “Muhammad bin al-Munkadir duduk bersama murid-muridnya. Lalu ia tidak bisa berbicara. Lalu ia berdiri, sehingga menaruh pipinya ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia kembali. Lalu ia ditegur karena perbuatannya itu. Ia berkata: “Aku terkena penyakit yang berbahaya. Apabila aku rasakan hal itu, aku beristighatsah dengan makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Ia sering mendatangi suatu tempat di Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu sahur, berguling-guling dan tidur miring di situ. Lalu ditanya tentang hal tersebut. Ia menjawab: “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat ini.” Aku mengira, ia melihatnya dalam mimpi”. (Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq (56/50-51) dan al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’ (5/358-359).

5) Al-Husain bin Abdullah bin Abdullah bin al-Husain radhiyallaahu ‘anhum, tokoh ahlul-bait dari generasi Salaf. Al-Hafizh al-Sakhawi meriwayatkan:

قَالَ يَحْيَى بْنُ الْحَسَنِ بْنِ جَعْفَرٍ فِيْ كِتَابِهِ أَخْبَارِ الْمَدِيْنَةِ وَلَمْ أَرَ فِيْنَا رَجُلاً أَفْضَلَ مِنْهُ، كَانَ إِذَا اشْتَكَى شَيْئاً مِنْ جَسَدِهِ: كَشَفَ الْحَصَى عَنِ الْحَجَرِ الَّذِيْ كَانَ بِبَيْتِ فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ يُلاَصِقُ جِدَارَ الْقَبْرِ الشَّرِيْفِ، فَيَمْسَحُ بِهِ.

“Yahya bin al-Hasan bin Ja’far berkata dalam kitabnya Akhbar al-Madinah: “Aku belum pernah melihat orang yang lebih utama dari al-Husain bin Abdullah di antara kami ahlul-bait. Kebiasaannya, apabila ia merasakan sakit pada sebagian tubuhnya, ia membuka kerikil dari batu yang ada di rumah Fathimah al-Zahra yang menempel ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Lalu ia mengusapkannya.” (Al-Hafizh al-Sakhawi, al-Tuhfah al-Lathifah fi Tarikh al-Madinah al-Syarifah (1/292).

6) Al-Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallaahu ‘anhu, pendiri madzhab Hanbali yang diakui oleh Salafi-Wahabi sebagai madzhab mereka dan madzhab Ibnu Taimiyah, telah berfatwa bolehnya bertabaruk dengan cara menyentuh dan mencium mimbar atau makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan taqarub kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Abdullah, putra al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan:

سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمَسُّ مِنْبَرَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ وَيَفْعَلُ بِالْقَبْرِ مِثْلَ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَ هَذَا يُرِيْدُ بِذَلِكَ التَّقَرُّبَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَزَّ فَقَالَ لَا بَأْسَ بِذَلِكَ

“Aku bertanya kepada ayahku tentang laki-laki yang menyentuh mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bertabaruk dengan menyentuhnya dan menciumnya, dan ia melakukan hal yang sama ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang sesamanya, ia bertujuan mendekatkan diri kepada Allah  dengan hal tersebut. Beliau menjawab: “Tidak apa-apa”. (Abdullah bin al-Imam Ahmad, al-‘Ilal wa Ma’rifah al-Rijal (2/492).)

7) Al-Imam Ibrahim al-Harbi radhiyallaahu ‘anhu, ulama terkemuka di antara murid-murid al-Imam Ahmad bin Hanbal, menganjurkan mencium kamar tempat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab-kitab fiqih madzhab Hanbali.

8) Al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi al-Hanbali radhiyallaahu ‘anhu, bertabaruk dengan menyentuh makam al-Imam Ahmad bin Hanbal, ketika tangannya terkena penyakit yang lama tidak dapat sembuh.

Paparan di atas menyimpulkan, bahwa kaum Salaf yang saleh dan ahli hadits tidak melarang bertabaruk dengan cara mengusap atau mencium makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang shaleh, apalagi menganggapnya sebagai perbuatan syirik. Bahkan sebagian kaum Salaf dari generasi sahabat dan tabi’in melakukannya, dan al-Imam Ahmad bin Hanbal telah berfatwa tentang kebolehannya. Sedangkan fatwa Ibnu Taimiyah, bahwa mencium dan mengusap makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang shaleh, dilarang dan dianggap syirik oleh kaum Salaf, jelas tidak sesuai dengan fakta dan realita yang ada. Itu fatwa radikal dan ekstresm yang tidak boleh diikuti karena berpotensi mengkafirkan para ulama salaf sejak generasi sahabat. Wallahu a’lam.

Related

Tauhid 213845257741653047

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item