umdah

Haramkah Beribadah Di Malam Tahun Baru?

Umdah.Co- Di akhir tahun Masehi, kita melihat banyak beredarnya peraturan Pemerintah yang melarang perayaan tahun baru. Tentu saja larangan ini patut untuk diapresiasi karena banyaknya umat islam terutama generasi muda yang terseret dalam arus westernisasi hingga mereka larut dalam maksiat dan lalai dari mengingat Allah swt pada saat malam pergantian tahun tiba.

Namun haruskah larangan itu mencakup kegiatan-kegiatan kebaikan? Apakah karena malam tahun baru disambut dengan aneka macam kegiatan maksiat oleh sebagian orang, lantas menjadi haram bagi yang lain untuk mengisinya dengan kegiatan kebaikan?

Di saat sebagian orang di malam itu berpesta pora, membunyikan terompet, menyalakan kembang api, hingga mengundang sederet artis papan atas untuk berjoget riya, dan malam itu juga menjadi haram hukumnya bagi umat Islam baca Alquran, shalat sunat atau mengadakan Majelis Zikir atau shalawat, Apakah seperti itu?

Kalau memang begitu, maka akan sangat banyak waktu-waktu tertentu yang perlu dilarang melaksanakan kegiatan ibadah karena bertepatan dengan kegiatan orang kafir. Tidak boleh ada kegiatan kebaikan di hari minggu, karena itu adalah hari umat Kristiani pergi ke gereja. Tidak boleh ada kegiatan ibadah di hari sabtu, karena itu sama saja seperti mengagungkan harinya orang Yahudi. Dan tidak boleh ada acara dakwah di malam Imlek, malam Natal dan waktu-waktu tertentu yang secara kebetulan bertepatan dengan hari-hari khusus bagi orang kafir.

Logika berpikir seperti ini jelas sangat keliru, karena telah mempersempit ruang dan kesempatan bagi melakukan amal kebaikan dan ibadah. Padahal, Jin dan manusia diciptakan oleh Allah hikmahnya adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Itu artinya, setiap waktu, bahkan setiap tarikan nafas kita semuanya harus bernilai ibadah. Bahkan dalam kegiatan duniawi pun, kita dituntut untuk membaguskan niat agar bernilai ibadah.

Jadi, malam tahun baru juga malam yang dituntut kepada kita untuk memperbanyak ibadah, mengikuti dan mengadakan majelis kebaikan sebagaimana pada malam-malam yang lainnya. Apalagi malam ini banyak umat manusia yang larut dalam maksiat, maka perlu lebih banyak hamba-hamba Allah lainnnya yang larut dalam doa, zikir, dan bermunajah kepada-Nya hingga negeri ini dijauhkan oleh Allah dari bala dan bencana.

Apakah mengadakan kegiatan di malam tahun baru tidak dianggap tasyabbuh (menyerupai Orang kafir)? sedangkan tasyabbuh itu haram hukumnya sebagaimana  nabi bersabda: "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka." (HR Abu Daud). Memang benar kita dilarang untuk menyerupai orang-orang kafir (tasyabbuh). Namun, apakah setiap tasyabbuh harus dihukumi haram?

Perlu dipahami bahwa syarat tasyabbuh dihukumi haram ada dua:

Pertama, perbuatan tersebut harus perbuatan tercela dalam kacamata agama. Kedua, orang yang melakukan memang hanya bertujuan tasyabbuh Apabila kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka tasyabbuhnya tidak diharamkan dalam agama kita. Al-Imam Ibnu Nujaim al-Hanafi rahimahullaah berkata:

اعلم أن التشبه بأهل الكتاب لا يكره في كل شيء وإنا نأكل ونشرب كما يفعلون وإنما الحرام هو التشبه فيما كان مذموما وفيما يقصد به التشبه 

Ketahuilah, bahwa menyerupai Ahlul-Kitab (Yahudi-Nasrani) tidak dimakruhkan dalam setiap macam tasyabbuh. Kita makan dan minum seperti mereka lakukan. Tasyabbuh yang haram itu, dalam perbuatan yang memang tercela, dan perbuatan yang memang bertujuan tasyabbuh dengan mereka. (Al-Imam Ibnu Nujaim al-Hanbali, al-Bahr al-Raiq Syarh Kanz al-Daqaiq, juz 2 hlm 11).

Oleh karena itu jangan serta merta saat ada suatu hal yang secara kebetulan serupa dengan orang kafir atau serupa dengan apa yang dilakukan oleh orang kafir, kemudian secara spontan itu dilabelkan haram. Majelis kebaikan di malam tahun baru tidak tercela dalam kacamata agama dan Majelis itu juga tidak dimaksudkan untuk menyerupai orang-orang kafir. Maka majelis seperti ini hukumnya tidak haram.

Mudah-mudahan kita tidak ikut-ikutan dalam tradisinya orang-orang kafir yang larut dalam maksiat di malam pergantian tahun. Bagi umat Islam setiap waktu adalah waktu ibadah. Dan momen pergantian tahun baik qamariyah maupun syamsiyah adalah momen untuk muhasabah akan berkurangnya usia kita, dan itu artinya tidak lama lagi kita akan kembali ke hadhirat Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita di dunia. Wallahu A'lam bis Shawab.

Alfaqir Muhammad Iqbal Jalil

Related

Opini 3469266443638183531

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item