umdah

Santri Di Mata Mereka

UMDAH-Berbicara tentang santri pasti tidak terpisahkan dengan lingkungan hidup pesantren yang masih terbilang kuno dan jadul. Namun, ...


UMDAH-Berbicara tentang santri pasti tidak terpisahkan dengan lingkungan hidup pesantren yang masih terbilang kuno dan jadul. Namun, di balik itu semua tersimpan hal-hal yang tidak kita temukan di tempat lain.

Kiprah santri dalam segala bidang tak pernah ketinggalan zaman. Mulai dari urusan mengajar, sosial, bahkan sampai kepada jenjang politik. Namun, sayangnya masih ada yang belum mengakui bahwa santri sudah mengepakkan sayapnya lebih lebar dari mereka.

Kehidupan seorang santri yang dihiasi dengan warna dan jadul tak pernah lekang. Karena itu, merupakan ciri khas seorang santri yang tidak akan pernah hilang di telan masa. Faktor inilah menjadi suatu alasan mengapa kebanyakan orang lebih memilih menjadi mahasiswa ketimbang menjadi santri yang di kenal dengan kaum sarungan.

Semua itu bukanlah faktor yang dapat menyurutkan semangat santri dalam menuntut ilmu, menuntun ridha sang khaliq. Sering kali kaum santri menghadapi tantangan kehidupan yang sulit di hadapi. Namun, kesabaranlah sebagai senjata ampuh menghadapi segala hal yang menghalangi arah menuju surga. Jalan yang berliku dengan tanjakan yang berduri tidaklah berarti apapun demi meraih impian yang menjulang tinggi di angkasa raya.

Dipandang sebelah mata

Kehadiran santri dalam sebahagian masyarakatnya kadang kala kurang mendapat perhatian dan dukungan. Mengapa demikian ? ini merupakan suatu hal yang lazim dalam sebahagian santri ketika mereka menggeluti dunia pesantren. Kolot, kuno, dan tidak memiliki masa depan merupakan bisikan yang  selalu menghantui sebahagian orang ketika mereka mendengar kata-kata pesantren.

Namun, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Justru kehadiran santri merupakan suatu hal yang patut di syukuri dan di hargai. Karena demikian, rasanya tidak berlebihan bila penulis menyatakan”Tanpa santri indonesia tidak akan merdeka”. Kemerdekaan bukan hanya hasil dari urusan para bangsawan, tokoh nasionalis terpelajar, dan tentara. Namun, juga hasil besar dari usaha para ulama dan santri. Kemerdekaan bukan hanya hasil perundingan, tulisan, orasi dan organisasi para tokoh nasionalis. Para ulama dan santri telah mengawali dan mendukung perjuangan itu dengan mengorbankan semangat berjihad mengusir para penjajah.

Sayangnya, segala kobaran semangat para santri dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan sudah di lupakan bak di telan bumi. Menurut sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara”Setelah indonesia merdeka ada dua kekuatan yang di sepelekan masyarakat yaitu ulama dan militer yang tidak di anggap berperan dalam menegakkan NKRI”. Ketika proklamasi kekuatan militer dari islam itu luar biasa besarnya. Bung Karno sendiri ketika berpidato proklamasi tanggal 9 Ramadhan 1364/17 agustus 1945 berkata kalau tidak ada ulama tidakan akan berani”. Dan Hasyim Asy’ari waktu itu juga bilang bahwa presiden pertamanya adalah Bung Karno dan itu di setujui oleh angkatan laut Jepang.

Related

Life Style 9060249779433209762

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item