umdah

RASA DAN SASTRA SANTRI SEBAGAI MATA AIR KEHIDUPAN ISLAM

UMDAH.CO.Sastra selalu mudah diterima oleh hati siapa saja. Namun kini, penulis Islam dengan kemampuan sastra yang memikat jiwa sangatl...


UMDAH.CO.Sastra selalu mudah diterima oleh hati siapa saja. Namun kini, penulis Islam dengan kemampuan sastra yang memikat jiwa sangatlah sedikit. Bahkan, masih ada diantara kita, kalangan santri, yang belum mengenalnya. Ah..siapa sih penulis itu? Bisakah kita menjadi bagian dari mereka ?.Tidak asing lagi bagi mereka yang suka menulis, bahwa membaca adalah jendela dunia. Jika demikian, maka penulis adalah pembentuk jendela dunia yang mengajak pembaca menemukan pengetahuan secara cepat dengan jendela itu. 

Jendela dunia ini, akan berbeda bentuk dengan sebab brbeda penulis. Jika seorang penulis islam, maka jendela yang terbentuk bernuansa islam. Sebaliknya, serang penulis barat maka jendela yang terbentuk bernuansa barat.Padahal, dunia penuh persaingan. Begitu pula dengan menulis. Kalau penulis islam redup semangatnya, maka penulis barat akan menguasai negeri kita.

Lantas, pantaskah para pejuang islam membiarkannya. Sungguh tiada pejuang lain lagi bagi kemenangan islam kecuali santri pesantren dengan dakwahnya.Tidak punahnya keilmuan islam di masa sekarang sangat erat kaitannya dengan tulisan-tulisan pendahulu kita. Sehingga pelajar pemula yang mencurahkan semangatnya demi memperoleh keilmuan islam memiliki khazanah tulisan untuk di pelajari.

Sekarang ini, keberadaan tulisan santri sangatlah penting. Karna dengan melihat perkembangan zaman metode dakwah bersifat tulisan ini agaknya cocok menemani kecanggihan media massa seperti facebook, twitter dan lainnya.Di tambah lagi pengetahuan palsu tentang islam, mulai banyak bertebaran melalui tulisan sekelompok orang setengah akal. Mereka mengambil buih-buih dari turunnya hujan dan mengatakan kepada orang-orang “ini adalah kebenaran sebenarnya. Percikkan tetesannya ke tanah mana saja, niscaya tongkat kayu menjadi tumbuhan baru.”

Lucunya, ada juga sebagian orang yang percaya. Padahal kehebata hujan sangatlah kuat. Hujan memberikan manfaat besar kepada manusia dan bersifat lama. Hujan senantiasa mengalir di lembah-lembah. Menyuburkan tanah-tanah, memunculkan tumbuhan hijau yang mengendalikan udara dan ahli sunnah wal jamaah adalah hujan itu.

Menulis itu mudah. Seorang penulis akan berkecimpung dengan pekerjaan memilih kata. Memilih kata adalah rasa, seni dan sastra. Pilihan kata seseorang mampu meninggikan martabat dan kedudukannya. Dengan pilihan kata pula, penulis memperoleh nilai baik atau buruk di mata pembaca. Karna itu, ada seorang bijak yang mengatakan “Pilihan kata adalah mahkota penulis. Besi ataukah emas mahkotamu ???.”Dalam menulis, kita memiliki pilihan kata masing-masing. Tentu pilihan kata ini tidak sekedar terucap tanpa di latari maksud. Melainkan pesan-pesan penggugah jiwa ikut menemaninya.Pilihan kata terencana dan terfikirkan secara matang, adalah aksi seni yang menjawab sebuah pertanyaan “Besi ataukah emas mahkotamu.”

Namun demikian, menulis bukan berarti mengetahui kaidah-kaidah penulisan sehingga pilihan kata bisa terbentuk dengan menarik. Menulis sesederhana goresan hati yang mnuncul atau tertulis dalam lembaran fikiran. Bukankah setiap rasa sakit yang di derita amatlah susah di sembunyikan ?, bukankah setiap rindu yang menggelora selalu sulit di kendalikan ? kalau menulis adalah rasa yang berada di hati, maka gerakan jemari bersama pena akan tersihir oleh rasa itu. Persis seperti rindu dan cinta yang memberikan kekuatan puitis kepada masing-masing pemiliknya.  Lagi-lagi, jika menulis adalah rasa yang berada di hati, bukankah perpaduan  yang sempurna saat bersama dengan kelembutan hati santri ? pasalnya, peradaban islam akan berkembang pesat. Merupakan hal yang tidak mustahil, saat orang-orang telah mengenal bahwa islam adalah air kehidupan.

Sesiapa yang mengetahui  cahaya menerangi, maka cahaya diikuti. Sesiapa yang tidak mengenal cahaya, maka cahaya dibiarkan saja. Sesiapa yang mengenal kemegahan islam. Maka islam diminati. Kalau pengetahuan islam punah keberadaannya mana mungkin islam di kenal mereka.Merperjuangkan keberadaan islam, janganlah menjadi cerita masa lalu saja. Kita harus mampu bersaing. Mengimbangi tulisan-tulisan non muslim, atau bahkan mengalahkannya. Memang tiada mudah. Namun, bukankah kita memiliki 2 kekuatan istimewa. Do’a dan usaha adalah kekuatan kita. Marilah berjuang dengan 2 kekuatan ini !! karna mustahil adanya sebuah hasil tanpa bergerak dan berusaha. Ada seorang bijak mengatakan “ Orang-orang yang pintar di masa sekarang adalah orang-orang yang dulunya mau belajar.”

Mutiara itu indah. Dan adakah keindahan terbentuk begitu saja ? jawabannya tidak. Puluhan tahun ia lalui, tersakiti dan tersiksa oleh tekanan keras dari kerang. Mutiara tidak uncul tiba-tiba, melainkan telah melalui banyak hal hingga akhirnya ia terbaik. Santri-santri terdahulu telah membuktikan kejayaannya. Siapa santri berikutnya yang memiliki rasa dan sastra, sehingga mampu meperkenalkan cahaya islam kepada dunia ?, siapa santri berikutnya yang memiliki do’a dan usaha sehingga sebagian sesuatu menjadi indah di tangannya ?, siapa santri berikutnya yang namanya terkenal namun keeradaannya tersembunyi laksana mutiara ???

Related

Opini 4600247653104895497

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item