umdah

Musibah Bukan Masalah, Tapi Anugerah

Dalam menjalani kehidupan, memang manusia boleh melakukan apa saja yang baik menurutnya, namun itu bukanlah kebebasan yang mutlak. Makn...

Musibah Bukan Masalah, Tapi Anugerah

Dalam menjalani kehidupan, memang manusia boleh melakukan apa saja yang baik menurutnya, namun itu bukanlah kebebasan yang mutlak. Maknanya, setiap langkah yang kita tuntun tidak akan pernah terlepas dari resiko. Begitu juga ketika seseorang sudah memilih untuk menjalani kehidupan di dunia ini, meskipun kejadian pemilihan tersebut sudah hilang dari ingatannya. So, tidak mengherankan di saat manusia menjalani seluk beluk dunia, mereka di timpa hal-hal yang bertolak belakang dengan keinginan jiwanya.

Tapi tahukah Anda? Ketika manusia merasakan problema dalam hidupnya, baik itu berupa cobaan, kegagalan maupun musibah, itu semua adalah kesempatan yang Allah berikan untuk kita dalam mencapai derajat tertinggi seorang hamba di dunia. Layaknya seseorang yang sedang bersekolah, setiap tahunnya dia akan mengikuti ujian demi ujian untuk kenaikan kelas, hingga akhirnya dia sampai pada jenjang tertinggi  karna telah lulus ujian, yaitu mendapat gelar sarjana.

Namun demikian, tidak semua orang berhasil menghadapi ujian dengan sukses. Sebagian orang ada yang berkeluh kesah dan putus asa, seakan-akan hidupnya sudah tidak bermakna, hanya derita yang di rasa, bahkan ada lagi orang yang rela mengakhiri hidupnya, hanya karena musibah yang seakan-akan seperti kiamat dunia. Na'udzibillah. 

Mengapa demikian? Boleh jadi karena menipisnya keimanan di dalam dada, atau karena minimnya  pengetahuan agama yang terpatri dalam jiwa, sehingga terjadilah hal-hal yang bertentangan dengan agama. Namun kalau kita melihat para pendahulu kita,  mereka adalah teladan nyata dari manusia yang sukses dalam menghadapi musibah, karena mendalamnya perenungan (hikmah) yang mereka ambil di balik  sebuah musibah.

Lihatlah Sayyidina 'Umar Bin Khaththab, perenungan yang beliau lakukan dari sebuah musibah, katanya, ''Demi Allah, tidak di timpakan satu musibahpun bagiku, melainkan Allah menyertakan 4 nikmat untukku dari musibah tersebut. Nikmat pertama adalah ketika musibah tersebut tidak menimpa agamaku, yanhg kedua ketika musibah tersebut tidak lebih besar dari yang sudah terjadi, yang ketiga ketika musibah tersebut tidak menghalangiku untuk mendapatkan ridha-Nya, dan yang keempat aku benar-benar mengharapkan pahala dari musibah tersebut."

Begitulah,  sungguh indah seandainya kita mampu bersikap seperti mereka. Maka tidak berlebihan kalau musibah dikatakan  sebagai anugerah, karena memang ada pahala besar yang menanti kita bersamaan datangnya musibah. Hanya saja, semuanya kembali pada pribadi kita masing-masing. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, semoga apapun yang kita lakukan, bisa berarti di dunia dan bermakna di akhirat. Amin,.

Related

tafakkur 1870561291550313075

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item