umdah

Beginilah Tawakkal Yang sebenarnya kepada Allah

Beginilah Tawakkal Yang sebenarnya kepada Allah

Sebagai muslim sejati, kita diharuskan untuk bertawakkal kepada allah Ta'ala. Dimana kita diharuskan untuk menyerahkan segenap urusan yang kita lakukan kepada Allah. Namun dalam prakteknya, tawakkal yang harus dilakukan bukan meninggalkan sebab dari sesuatu. Misalnya, seorang yang sakit bukan berarti ia harus menahan sakitnya dan tidak melakukan pengobatan sehingga urusan sakitnya diserahkan kepada Allah. Akan Tetapi sebabnya tetap diambil sedangkan keterbantungan kepada sebab yang ditinggalkan, bukannya malah meninggalkan sebab.

Hal ini sebabgaimana ungkapan seorang ulama tasawwuf mengenai makna dari tawakkal:

التوكل: ترك الإعتماد على الأسباب الى الإعتماد عاى المسبّب

"Tawakkal merupakan meninggalkan ketergantungan kepada sebab dengan berpegang kepada yang memberikan sebab (Allah)".

Dengan demikian jelas bahwa, tawakkal itu tidak meninggalkan sebab sama sekali. Sebabnya tetap diambil namun ketergantungan kepada sebab yang ditinggalkan.

Dari Umar bin Khattab ra, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda :

 لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا 

“Seandainya kalian sungguh-sungguh dalam bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Nasaai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dan Al Hakim. Imam Tirmidzi berkata : hasan shahih)

Dalam hadis Umar di atas terdapat gabungan antara usaha mengambil sebab dengan tawakal kepada Allah. Mengambil sebab dalam hadits tersebut disebutkan dengan perbuatan sang burung, yang pergi dalam keadaan lapar (perutnya dalam kedaan kosong, kemudian pergi untuk mencari rezeki), dan kembali dalam keadaan kenyang (perutnya dalam keadaan terisi). Namun, ketika seseorang mengambil sebab, dia tidak boleh bersandar kepada sebab tersebut, akan tetapi harus tetap bersandar hanya kepada Allah semata. Demikian juga tidak boleh seseorang menelantarkan mengambil sebab kemudian menyangka dirinya telah bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menetapkan sebab dan Allah pula yang menetapakan hasil dari sebab tersebut.

Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata dalam Jaami’ul ’Uluum wal Hikam: ”Hadist ini merupakan pondasi dalam hal tawakal kepada Allah, dan sesungguhnya tawakal merupakan sebab terbesar yang dapat mendatangkan rezeki. Allah Ta’ala berfirman yang artinya :

 وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاًوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

 ”Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan memberikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangaka. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan memberikan kecukupan baginya …” (QS. Ath Thalaaq:2-3).

Hakikat dari tawakal adalah benarnya penyandaran hati kepada Allah Ta'ala dalam mengambil suatu kebaikan dan menghilangkan suatu keburukan dari seluruh urusan dunia maupun akhirat, dan beriman dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada yang dapat memberi dan mencegah, serta memberikan keburukan dan manfaat kecuali hanya Allah semata.

Related

Tafakur 2739998469985063508

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item