umdah

Cinta Dalam Cermin

Pagi itu Bela duduk terpaku menatap keindahan wajahnya di depan cermin kesayangannya. Hari itu menjadi hari yang bersejarah baginya, ha...


Cinta Dalam Cermin

Pagi itu Bela duduk terpaku menatap keindahan wajahnya di depan cermin kesayangannya. Hari itu menjadi hari yang bersejarah baginya, hari dimana ia akan dipertemukan dengan pendamping hidupnya. Hati Bela bercampur aduk antara bahagia dan kecewa, ia akan dinikahkan dengan orang yang bahkan ia belum pernah mengenalnya, namun ia yakin pasti orang tuanya akan memilik yang terbaik untuk buah hati mereka.

“Bela..! kamu dah siap belum? Sayang!” panggil sang mama dari luar kamar. “Udah ma, bentar! lagi pakai jilbab ni,,” sahut bela. “Cepat sayang, udah jam 9, bentar lagi keluarga paK Abdullah datang lo,,!” “Ia ma, Udah ni!” Bela langsung keluar dari kamarnya lalu memeluk mamanya.

“Ma, aku deg-degkan,,!” Bela memeluk mamanya erat. “Ah, biasa  aja, dulu kan mama gitu juga pas mau dilamar sama abimu” mama meyakinkan Bela. “Ganteng gak orangnya ma?” tanya Bela sambil tersenyum. “Insya Allah mama gak slah pilih buat kamu” jawab mamanya tersenyum.

“Subhanallah, cantiknya anak abi!” sapa abi Bela. “Ah abi ini, jelek tau!” sahut Bela sambil tersenyum malu.

Dibalik senyum manisnya Bela menyimpan perasaan duka, ia terus membayangkan sosok Ustadz Yusuf yang diam-diam ia kagumi. Selama ini Bela jatuh cinta padanya, dosen yang mengajar mata kuliah Ilmu Tafsir di kelasnya itu adalah sosok suami yang diidam-idamkan Bela. Lulusan Jami’ah Al-Azhar yang ganteng, shaleh, dan juga hafiz qur’an. Namun perasaan itu hanya Bela yang tau, ia tak berani untuk berterus terang dengan Ustadz Yusuf, ia sadar kalau wanita itu dipinang bukan meminang. Ia menyerahkan semuanya pada Allah, ia yakin pasti Allah akan memberikan yang terbaik baginya. Meski ia mengagumi ustadz Yusuf namun Bela tidak berani menolak pinangan dari calon suami pilihan orang tuanya. Ia sangat mencintai orang tuanya, ia tak ingin orang tuanya kecewa.

Semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang tamu, mulai dari kakek, nenek, bibi Ani, paman Rudi, Kak Rika, bang Ardi juga Nila, sepupu yang sangat akrab dengannya.

“Selamat ya Bibil,,!” sapa nila dengan sapaan akrabnya. “Ah kamu, kan belum tentu jadi, mana tau nanti pas abang tu liat aku dah gak suka dia” cetus Bela. “Masak ada pula laki-laki yang gak suka sama cucu nenek yang secantik ini!” jawab nenek bercanda. “Nenek ni, ada-ada aja!” Bela tersipu malu. “uda nek, dah merah mukanya tu!” tambah kak Rika sambil tertawa. Yang lainpun ikut tertawa, semua tampak bahagia kecuali Bela.

“Teet, tet, tettttt,,,,,!” terdengar suara klekson mobil. “Tamunya dah datang tu bi!” “Ia ma, ayo kita sambut” mama dan abi Bela langsung bersigap menyambut calon menantu. “Assalamu’alaikum pak Joel” “Wa’alaikumsalam pak Abdul” Keduanya menyapa akrab sambil berpelukan. Pak Joel dan Pak Abdullah bagaikan sejoli yang tak terpisahkan sejak SMA, keduanya begitu akrab, begitu banyak suka dan duka yang dilalui bersama karenanya mereka sangat bahagia bila anak mereka juga ikut bersatu, pastinya ikatan kekeluargaan mereka akan semakin erat.

“Lama tak jumpa ya pak Joel!” “Ia, apa kabar sekarang pak Doel?” “Alhamdulillah sehat pak Joel” “Alhamdulillah, ayo masuk kita cerita-cerita di dalam” ajak pak Joel. “Oh iya, hampir lupa” canda pak Abdul. “Ayo buk Fatma masuk!” ajak mama Bela. “Cuma bertiga sama si abang?” sambung mama Bela “Ia buk Ria, yang lainnya lagi sekolah jadi gak diajak” jawab buk Fatma. “ayo masuk, yang lain dah pada nunggu!” tambah buk Ria.

Hati Bela berdetak kencang, ia begitu penasaran dengan calon suaminya itu. Pak Abdul dan pak Joel perlahan melangkah ke dalam diikuti buk Fatma dan buk Ria, tepat di belakang buk Fatma muncul sosok pemuda yang seolah tak asing di matanya, pemuda dengan peci bulat putih, koko putih lengan pendek dan celana kain hitam. Bela terpaku, seketika ruang menjadi sunyi, ia terdiam seribu bahasa, seolah ia tak percaya.

“Ust Yusuf” gumam Bela pelan. Bela langsung merundukkan kepala, Bela tak berani mengangkat kepalanya. Ia masih belum percaya dengan apa yang sedang dialaminya, ia seolah bermimpi. Semalam suntuk ia berdo’a dan bertahajud, ia mengaharapkan kehadiran Ust Yusuf untuk meminangnya, dan pagi itu Allah menampakkan kuasa-Nya.

“Apa kabar Bela?” sapa Ust Yusuf. “Jadi kalian dah saling kenal?” sela pak Joel. “Ia om, kebetulan saya ada mata kuliah di ruang Bela” jawab Ust Yusuf. “ Ohh, dah mantap kali tu, gak perlu ta’aruf lagi, ha ha ha” canda pak Joel. “Kemarin tu si abang nanyain ke saya. Pak, kenal pak Joel yang sering imam di masjid Raya? Dosen UIN juga! Terus  saya tanyak, yang punya usaha Ria Bakery? Ia pak jawabnya. Saya bilang, oooh kalo itu temen akrab bapak, ada perlu apa emangnya? Ada anak gadisnya pak di ruang aku katanya. Nah.... tau saya! Ada apa-apanya ni, ha ha” Cerita pak Abdul sambil tertawa. “Trus saya tanyak  ke dia, serius kamu? Ia pak katanya. Ya sudah saya teleponlah bapak kemarin”.

Bela semakin tak berdaya, ia hanya tertunduk, ia tak tau harus bagaimana. Rasanya ia ingin terbang merayakan kebahagiaannya.

“Jadi gimana ne cerita?” tanya pak Joel serius. “Jadi gini pak Joel, karenapun anak kita dah saling kenal, jadi kedatangan kami hari ini bermaksud untuk memetik bunga di rumah pak Joel yang begitu merekah ini untuk menghiasi rumah kami!” jelas pak Abdullah. “Ehem, kalau begitu, sekarang kita serahkan semuanya sama Bela. Gimana Bela, kamu setuju? Tanya abi Bela. Bela diam saja dengan kepala tetap tertunduk. “Diam itu tandanya mau!” jawab nenek sambil bercanda, semuanya pun ikut tertawa. “Ia bener tu” tambah kakek. Bela Cuma tersenyum dengan muka yang semakin merona.
“Kalau gitu, kapan akad nikahnya?” tanya pak Joel. “Kalau Bela bersedia saya mau hari jum’at ini, saya gak mau tunangan lama, takut-takutnya nanti gak jadi”. Jawab Ust Yusuf sambil tersenyum. “Eh itukan hari ulang tahun Bela” sambung Nila. “Heem, bakal dapat kado ulang tahun sepesial ne! Lahir 5 september, nikah pun 5 september, keren ya!” tambah kak  Rika. “Ya sudah, kasian Belanya dicandain terus, dah kayak apel mukanya, ha ha ha” canda pak Joel. “Berarti 3 hari lagi ya!, kalu begitu kami bersedia” tegas pak Joel.

***

Hari Jum’at pun tiba, hati Bela begitu bahagia. Hubungannya dengan Ust yang dia dambakan akhirnya terwujud. Ia sangat bersyukur dengan apa yang terjadi, setiap malam ia bertahajud berterima kasih pada Allah yang telah mempertemukannya dengan dambaan hatinya. Seolah ia masih bermimpi, namun inilah goresan takdir.

“Selamat ya Bibil!” canda Nila sambil menghias wajah Bela. “Thank ya Nil, kamu dah support aku, klo gak da kamu mungkin aku dah terima cintanya si Heri kemaren tu, heemm. Makasih ya dah ingetin aku untuk gak pacaran, gak tau gimana klo sempat pacaran sama dia, bisa-bisa gak jadi dipinang sama Ust Yusuf!” ucap Bela tersenyum. “Klo dah jodoh gak akan kemana Bil, aku juga pengen kek kamu” jawab Nila. “Insya Allah kamu akan dapat yang lebih dari aku Nil, tapi janji ya, kamu juga gak pacaran” tambah Bela serius. “Jomblo sampe halal” Nila mengacungkan kelingking kepada Bela. “Yups” balas Bela sambil tersenyum.

“Trang....” tak sengaja Bela menyenggol vas bunga disampingnya. “Masya Allah” ucap Bela terkejut. “Kenapa Bil?” tanya Nila. “Gak tau ni Nil, gak sengaja, hatiku jadi gak tenang Nil” ungkap Bela risau. “Kamu gak usah mikir yang macam-macam, Insya Allah gak da apa-apa”. Sahut Nila menenangkan Bela.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, keluarga pak Abdullah belum juga datang. “Kemana ni orang, ditelpon gak diangkat-angkat” abi Bela mondar-mandir dengan perasaan khawatir. “Bentar lagi dah mau jum’at lagi”. “Tenang Abi, jangan panik gitu, yang lainnya juga ikut panik gara-gara abi” buk Ria menenangkan suaminya.

Beberapa saat kemudian hp buk Ria berdering. “Abi, buk Fatma nelpon!” buk Ria mengambil hand phonenya. “Cepat diangkat” kata pak Joel. “Assalamu’alaikum buk Fatma” “Wa’alaikumsalam buk Ria, maafkan kami buk” jawab buk Fatma dengan nada sendu. “Kenapa buk?” “Mobil Yusuf nabrak truk, hiks hiks hiks” buk fatma menangis sambil terisak-isak. Hand phone buk ria terjatuh ia langsung memeluk buah hatinya yang juga ikut mendengarkan pembicaraan buk Fatma. Air mata Bela mengalir, ia mematung, matanya tertutup, tiba-tiba terjatuh. “Bela..!” teriak buk Ria. Semuanya mendekati Bela, rumah bahagia tiba-tiba berubah menjadi duka.

Keadaan menjadi semakin panik, Bela pingsan, dan keadaan Ust Yusuf belum jelas bagaimana. Setelah Shalat Jum’at Bela terbangun. Ia langsung memeluk mamanya “Akh Yusuf gimana ma?” “kamu yang sabar ya nak, Insya Allah semua baik-baik saja” buk Ria menenangkan Bela. “Sekarang kamu mandi, trus shalat, kita ke rumah sakit”. “Ia ma!” buk fatma mengusap air mata Bela.

Setibanya di rumah sakit Zainal Abidin mereka langsung menemui keluarga pak Abdullah di ruang VIP Melati nomor 5. Bela tak kuasa menahan derai air matanya melihat calon suaminya yang terbungkus perban hampir seluruh badannya. Namun Yusuf masih bisa tersenyum melihat Bela. “Apa kabar Bela?” “Baik akh!” jawab bela. “Baik kok nangis, akh aja senyum, senyum dulu sekali, biar sembuh sakitnya!” canda Yusuf. Bela tersenyum dengan air mata yang menetes.

Semua anggota keluarga berkumpul di ruang Yusuf dirawat, “Akh boleh ngomong serius sama bela?” tanya Yusuf. “Akh mau bilang apa emangnya?” tanya Bela balik. “Gak apa-apa, cuman akh mau minta maaf sama Bela..! mungkin akh gak bisa membahagiakan kamu dengan kondisi akhi yang seperti ini. Huufft, dokter bilang, akh harus duduk di kursi roda” air mata Yusuf menetes. “Bila memang Bela mau menerima pinangan orang lain, akh ikhlas. Dan akh akan mendo’akan kalian bahagia!”.

Buk Fatma tak sanggup menahan air matanya melihat kondisi anaknya dan keputusan Yusuf. Ia yakin pasti hati anaknya begitu hancur. Buk Ria memeluk buk Fatma. Semuanya terdiam, mereka mengharapkan jawaban dari Bela.

“Klo Akh tau, akh gak mungkin bisa ngomong kek gini! Bela kenal sama akh bukan kemarin, sejak pertama Bela liat akhi  Bela dah jatuh cinta sama akhi, cuman Bela gak berani ngunggkapinnya sama akhi. Bela Cuma bisa berdo’a dan berharap sama Allah. Tiap pagi Bela sempatin buat liat akhi dari cermin di depan kelas Bela karena akh sering duduk berpapasan dengan cermin itu. Bela bahkan gak berani untuk natap akhi secara langsung. Semua harapan dan keinginan Bela ada sama akhi, jauh hari bela dah nerima akhi apa adanya. Bela siap walau harus menemani akhi di atas kursi roda seumur hidup Bela. Apa akhi bisa ninggalin Bela kalau seandainya bela yang ada di posisi akhi?” Bela mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya dengan air mata yang terus berlinang.
Semua ikut menangis melihat kekuatan cinta mereka. Buk fatma langsung memeluk Bela “Mulia sekali hatimu nak, tak ada orang tua yang tidak bahagia bila mempunyai anak sepertimu” buk Fatma mengusap air mata Bela. Bela kembali memeluk calon mertuanya.

Melihat begitu besar cinta anaknya pak Joel langsung memegang tangan Ust Yusuf, “Kamu siap untuk jadi suami Bela?, kalau Bela bahagia kami juga akan sangat bahagia”. Air mata Yusuf berderai, ia tak tau harus berkata apa, ia sangat bahagia bisa mendapatkan calon istri sebaik Bela.
“Saya sangat bersedia pak” jawab yusuf dengan air mata menetes. “Kalau begitu di depan para saksi, saya nikahkan anak saya Salsabila Putri Zalianti dengan anda Muhammad Yusuf  Hakiki dengan mas kawin 15 mayam emas dibayar tunai”.

“Saya terima nikah Salsabila Putri Zalianti untuk saya dengan mas kawin 15 mayam emas dibayar tunai” jawab Yusuf  lugas. “Bagaimana para saksi, sah?” tanya pak Joel. “Sah,  sah,,,!” jawab para saksi. Akhirnya semua tersenyum, Bela langsung memeluk suaminya. (akhiyulis)


Tamat

Related

Cerpen 6118092284325945120

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item