umdah

Talqin, Tradisi dan Hadis Dhaif

Umdah.Co- Talqin secara etimologi adalah menuntun. Menuntun seseorang agar bisa mengucapkan sesuatu. Sebagaimana dimaklumi, umat Islam meyakini bahwa orang yang meninggal dunia akan menghadapi ujian dan tanya jawab dengan malaikat Munkar dan Nakir.

Pembacaan talqin dimaksudkan agar saudara kita yang meninggal dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka di alam kubur dengan jawaban-jawaban yang tepat.

Talqin, Tradisi dan Hadis Dhaif

Sejak Islam masuk ke Indonesia, setiap ada orang Islam meninggal dunia, biasanya dibacakan talqin setelah jasadnya diratakan dengan tanah. Sejak beberapa waktu yang lalu, tepatnya sejak mulai menyebarnya ajaran Wahabi di Indonesia, baru mulai ada kontroversi tentang hukum talqin. Kaum Wahabi, seperti kebiasaan buruk mereka, melarang dan membid’ahkan talqin. Untuk menjelaskan persoalan talqin secara gamblang, marilah kita bersama Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, ulama terkemuka panutan kaum Wahabi, dalam kitabnya yang berjudul al-Ruh, yang membahas tentang anjuran talqin dan faedahnya bagi orang yang meninggal dunia. Beliau berkata:

فصل ويدل على هذا أيضا ما جرى عليه عمل الناس قديما وإلى الآن من تلقين الميت في قبره ولولا أنه يسمع ذلك وينتفع به لم يكن فيه فائدة وكان عبثا وقد سئل عنه الإمام أحمد رحمه الله فاستحسنه واحتج عليه بالعمل 

Bagian penting. Tahunya orang mati terhadap kunjungan orang-orang yang masih hidup juga ditunjukkan oleh pengamalan masyarakat Islam yang telah berjalan sejak dahulu dan sampai sekarang, yaitu tentang talqin mayit di kuburan. Seandainya ia tidak mendengar dan mengambil manfaat dari talqin tersebut, tentu hal itu tidak ada faedahnya dan menjadi main-main. Imam Ahmad rahimahullah telah ditanya tentang talqin, lalu beliau menganggapnya baik dan berhujjah dengan pengamalan masyarakat Islam.

ويروى فيه حديث ضعيف ذكره الطبرانى في معجمه من حديث أبى أمامة قال قال رسول الله إذا مات أحدكم فسويتم عليه التراب فليقم أحدكم على رأس قبره ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يسمع ولايجيب ثم ليقل يا فلان ابن فلانة الثانية فإنه يستوي قاعدا ثم ليقل يا فلان ابن فلانة يقول أرشدنا رحمك الله ولكنكم لاتسمعون فيقول أذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وان محمد رسول الله وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا وبالقرآن إماما فان منكرا ونكيرا يتأخر كل واحد منهما ويقول انطلق بنا ما يقعدنا عند هذا وقد لقن حجته ويكون الله ورسوله حجيجه دونهما فقال رجل يا رسول الله فإن لم يعرف أمه قال ينسبه إلى امه حواء 

Dan telah diriwayatkan hadits dha’if mengenai talqin, disebutkan oleh al-Thabarani dalam Mu’jamnya dari hadits Abu Umamah. Ia berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang kalian meninggal, lalu kalian ratakan tanah di atasnya, maka hendaknya salah seorang kalian berdiri di bagian kepala makamnya, kemudian berkata: “Wahai fulan bin fulanah.” Karena sesungguhnya ia mendengar dan tidak bisa menjawab. Kemudian hendaknya berkata untuk yang kedua kalinya: “Wahai fulan bin fulanah”. Maka sesungguhnya ia akan bangkit untuk duduk. Kemudian hendaknya berkata: “Wahai fulan bin fulanah.” Ia akan berkata: “Tunjukkanlah kami, semoga Allah mengasihimu.” Akan tetapi kalian tidak mendengarnya. Maka ia berkata: “Ingatlah sesuatu dimana kamu keluar dari dunia karenanya yaitu kesaksian sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan sesungguhnya kamu ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai nabi, al-Qur’an sebagai pemimpin, maka sesungguhnya masing-masing dari Munkar dan Nakir akan mundur dan berkata: “Marilah kita pergi. Buat apa kita duduk di samping orang ini, sedang ia telah dituntun hujjahnya. Sedangkan Allah dan Rasul-Nya yang akan menjadi penghujjah orang ini menghadapi keduanya (Munkar dan Nakir).” Seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, apabila ia tidak mengetahui nama ibunya?” Baginda menjawab: “Ia menisbatkannya kepada Ibu Hawa.”

فهذا الحديث وإن لم يثبت فإتصال العمل به في سائر الأمصار والأعصار من غير انكار كاف في العمل به

Hadits ini, meskipun tidak kuat, akan tetapi bersambungnya pengamalan terhadap hadits tersebut di seluruh kota dan seluruh masa tanpa ada ulama yang mengingkari, adalah cukup sebagai dasar dalam mengamalkan hadits tersebut.

وقد روى أبو داود في سننه بإسناد لا بأس به أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم حضر جنازة رجل فلما دفن قال سلوا لأخيكم التثيب فإنه الآن يسأل فأخبر أنه يسأل حينئذ وإذا كان يسأل فإنه يسمع التلقين

Abu Dawud telah benar-benar meriwayatkan dalam Sunan-nya dengan sanad yang hasan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri jenazah seorang laki-laki. Maka ketika ia dimakamkan, baginda bersabda: “Memohonlah kalian bagi saudara kalian keteguhan, karena ia sekarang sedang ditanyakan.” Baginda mengabarkan bahwa orang laki-laki itu ditanyakan ketika itu. Apabila ia ditanyakan, maka ia berarti mendengar bacaan talqin.

 وقد صح عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أن الميت يسمع قرع نعالهم إذا ولوا منصرفين

Telah benar-benarshahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang yang meninggal dunia itu mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkan jenazahnya ketika berpaling untuk pulang dari kuburan.

وذكر عبد الحق عن بعض الصالحين قال مات أخ لى فرأيته في النوم فقلت يا أخي ما كان حالك حين وضعت في قبرك قال أتاني آت بشهاب من نار فلولا أن داعيا دعا لي لهلكت 

Imam Abdul Haqq menyebutkan kisah dari sebagian orang shaleh yang berkata: “Aku punya saudara yang meninggal. Lalu bermimpi bertemu dengannya. Aku bertanya: “Wahai saudaraku, bagaimana keadanmu ketika diletakkan di dalam kuburan?” Ia menjawab: “Seseorang datang kepadaku dengan membawa obor dari api. Seandainya bukan karena seseorang yang mendoakan aku, aku pasti binasa.”

وقال شبيب بن شيبة أوصتني أمى عند موتها فقالت يا بنى إذا دفنتني فقم عند قبرى وقل يا أم شبيب قولى لا إله إلا الله فلما دفنتها قمت عند قبرها فقلت يا أم شبيب قولى لا إله إلا الله ثم انصرفت فلما كان من الليل رأيتها في النوم فقالت يا بنى كدت أهلك لولا أن تداركني لا إله إلا الله فقد حفظت وصيتى يا بنى

 Syabib bin Syaibah (ulama salaf) berkata: “Ibuku berwasiat kepadaku ketika akan meninggal. Ia berkata: “Wahai anakku, apabila kamu telah menguburku, maka berdirilah di samping makamku dan katakanlah: “Wahai Ibu Syabib, katakanlah tiada Tuhan selain Allah.” Setelah aku menguburnya, aku berdiri si samping makamnya, lalu aku berkata: “Wahai Ibu Syabib, katakanlah tiada Tuhan selain Allah.” Kemudian aku pergi. Maka ketika malam hari, aku bermimpi berjumpa dengan ibuku. Ia berkata: “Wahai anakku, hampir saja aku binasa, seandainya kamu tidak membantuku dengan kalimat Laa ilaaha illallaah. Sungguh kamu benar-benar menjaga wasiatku wahai anakku.”


وذكر ابن أبى الدنيا عن تماضر بنت سهل امرأة أيوب بن عيينة قالت رأيت سفيان بن عيينة في النوم فقال جزى الله أخى أيوب عنى خيرا فإنه يزورني كثيرا وقد كان عندى اليوم فقال أيوب نعم حضرت الجبان اليوم فذهبت إلى قبره 

Ibnu Abi al-Dunya menyebutkan riwayat dari Tamadhur binti Sahal, istri Ayyub bin Uyainah. Ia berkata: “Aku bermimpi berjumpa Sufyan bin Uyainah. Ia berkata: “Semoga Allah membalas kebaikan saudaraku Ayyub dengan kebaikan. Ia banyak mengunjungiku. Hari ini ia benar-benar di sampingku.” Ayyub berkata: “Iya, hari ini aku menghadiri makam, lalu aku mengunjungi kuburannya.” (Kitab al-Ruh, hlm 16).

Kesimpulan dari paparan Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah:

  1. Orang yang meninggal dunia, sebenarnya masih hidup dan mengetahui aktivitas orang-orang yang ada di sekitar makamnya.
  2. Ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantar jenazahnya ke pemakaman.
  3. Ia mendengar pembacaan talqin.
  4. Talqin sangat penting bagi mereka untuk menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir secara tepat.
  5. Talqin telah diamalkan oleh seluruh umat Islam sejak masa salaf di seluruh negeri dan seluruh masa.
  6. Hadits tentang talqin statusnya adalah dha’if, tetapi meskipun dha’if, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menganjurkan talqin, berdasarkan tradisi umat Islam yang telah mengamalkannya dari generasi ke generasi. Hal ini berarti, pengamalan umat Islam terhadap suatu kebaikan dari generasi ke generasi menguatkan status hadits dha’if.
  7. Faidah talqin banyak diceritakan oleh para ulama salafdalam kitab-kitab hadits, dan diberitahukan oleh Allah melalui mimpi-mimpi orang-orang shaleh. Jangan sampai dikatakan, bahwa yang datang dalam mimpi itu adalah syetan. Karena mereka yang bermimpi adalah orang-orang shaleh dari generasi salaf yang memang dianggap sebagai sebaik-baik generasi berdasarkan hadits shahih. Kecuali kalau Anda yang anti talqin sudah lebih berilmu dan lebih hebat daripada Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Wallahu a’lam.
K.H Muhammad Idrus Ramli

Related

Wahabi 4124623150799188861

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item