umdah

Hukum Membaca Tahlilan Menurut Ibnu Taimiyah

Umdah.Co - Teringat dengan persoalan Tahlilan, yang tidak pernah berhenti mendapat penolakan dari kaum Wahabi. Beberapa waktu yang lalu, ke...

Umdah.Co- Teringat dengan persoalan Tahlilan, yang tidak pernah berhenti mendapat penolakan dari kaum Wahabi. Beberapa waktu yang lalu, ketika kami memposting hadits tentang faedah bacaan Tasbih dan Takbir bagi orang mati, ada sebagian nitizen Wahabi yang melontarkan beberapa pertanyaan, antara lain, dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membaca tasbih dan takbir, sementara dalam komposisi bacaan Tahlilan, tidak hanya terdiri dari Tasbih dan Takbir. Apa dasar dari komposisi bacaan tersebut? Pertanyaan berikutnya, kaum Wahabi juga sering mempertanyakan, siapa yang memimpin bacaan Tahlilan ketika keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat? Kalau dijawab tidak ada Tahlilan, lalu mengapa kalian mayoritas kaum Muslimin di seluruh dunia mengadakan Tahlilan padahalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengadakan? Suatu hal yang harus kita sadari dan kita terima dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih, bahwa tidak semua amal kebaikan yang ditinggalkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak baik dan tidak dianjurkan. Bahkan justru yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak sekali amal kebaikan yang ditinggalkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebanarnya amalan tersebut sangat baik dan dianjurkan. Sebagai contoh, marilah kita perhatikan hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: انْطَلَقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُولُ، فَاتَّبَعَهُ عُمَرُ بِمَاءٍ، فَقَالَ: «مَا هَذَا يَا عُمَرُ؟» قَالَ: مَاءٌ، قَالَ: «مَا أُمِرْتُ كُلَّمَا بُلْتُ أَنْ أَتَوَضَّأَ، وَلَوْ فَعَلْتُ لَكَانَتْ سُنَّةً»

“Aisyah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi untuk buang air kecil. Lalu Umar mengikutinya dengan membawakan air. Baginda bertanya: “Apa ini wahai Umar?” Ia menjawab: “Air.” Baginda bersabda: “Aku tidak diperintahkan untuk berwudhu’ setiap aku buang air kecil. Seandainya aku lakukan, maka hal ini akan menjadi sunnah.” (HR Abu Dawud [42] dan Ibnu Majah [327]. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi dan tokoh Wahabi, Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ al-Shaghir [5551] dan dalam tahqiq Misykat al-Mishabih [368]).

Korelasi Antara Tahlilan dan Ulama Panutan Wahabi

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan wudhu’ setiap buang air kecil, karena kasihan kepada umatnya. Karena apabila hal tersebut dilakukan oleh baginda, maka akan menjadi kewajiban bagi umatnya. Meskipun demikian, bukan berarti berwudhu’ setiap kedatangan hadats kecil tidak dianjurkan. Dalam hadits shahih berikut ini diriwayatkan.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ: «يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِيْ بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي اْلإِسْلاَمِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ فِي الْجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ أَنِّيْ لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُوْرًا فِيْ سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ. وَفِيْ رِوَايَةٍ : قَالَ لِبِلاَلٍ: «بِمَ سَبَقْتَنِيْ إِلَى الْجَنَّةِ؟ قَالَ: مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِيْ حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ وَرَأَيْتُ أَنَّ للهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم «بِهِمَا» أَيْ نِلْتَ تِلْكَ الْمَنْزِلَةَ». رواه البخاري ومسلم وغيرهما.

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Bilal ketika shalat fajar: “Hai Bilal, kebaikan apa yang paling engkau harapkan pahalanya dalam Islam, karena aku telah mendengar suara kedua sandalmu di surga?”. Ia menjawab: “Kebaikan yang paling aku harapkan pahalanya adalah aku belum pernah berwudhu’, baik siang maupun malam, kecuali aku melanjutkannya dengan shalat sunat dua rakaat yang aku tentukan waktunya.” Dalam riwayat lain, baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal: “Dengan apa kamu mendahuluiku ke surga?” Ia menjawab: “Aku belum pernah adzan kecuali aku shalat sunnat dua rakaat setelahnya. Dan aku belum pernah hadats, kecuali aku berwudhu setelahnya dan harus aku teruskan dengan shalat sunat dua rakaat karena Allah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Dengan dua kebaikan itu, kamu meraih derajat itu”.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (1149), Muslim (6274), al-Nasa’i dalam Fadhail al-Shahabah (132), al-Baghawi (1011), Ibn Hibban (7085), Abu Ya’la (6104), Ibn Khuzaimah (1208), Ahmad (5/354), dan al-Hakim (1/313) yang menilainya shahih.

Dalam hadits di atas ada beberapa kebiasaan Sayyidina Bilal radhiyallahu ‘anhu: 1) Setiap selesai adzan pasti menunaikan shalat sunnah dua rakaat 2) Setiap wudhu’nya batal, pasti langsung berwudhu’ 3) Setiap selesai wudhu’, pasti menunaikan shalat sunnah dua rakaat.

Tiga kebiasaan Sayyidina Bilal tersebut belum pernah diajarkan maupun dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ternyata ketika baginda diberitahukan tentang hal tersebut, baginda justru membenarkan dan mengakui bahwa hal tersebut telah mengantarnya menjadi orang yang dijamin akan masuk surga. Berdasarkan hadits di atas al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari (3/34) menjelaskan, bahwa hadits di atas memberikan faedah bolehnya berijtihad dalam menentukan waktu ibadah, karena Bilal memperoleh derajat tersebut berdasarkan ijtihadnya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membenarkannya.

Berdasarkan paparan di atas, maka apabila umat Islam melakukan suatu kebaikan yang belum pernah dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ada orang yang mempertanyakan, apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakannya, maka pertanyaan inilah sebenarnya yang keliru. Demikian pula terkait dengan persoalan Tahlilan, meskipun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakannya, maka melakukannya merupakan kebaikan yang harus didukung dan dibenarkan.

Lalu bagaimana dengan pernyataan sebagian nitizen Wahabi, bahwa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membaca Tasbih dan Takbir, sementara komposisi Tahlilan banyak macamnya bacaan yang dibaca? Pada hakekatnya bacaan Tasbih, Takbir, Tahmid, Tahlil, shalawat dan dzikir lainnya adalah sama-sama bermanfaat bagi orang yang meninggal dunia.

Dalam kitab Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah (kumpulan fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah), ulama nomor wahid yang paling dikagumi kaum Wahabi dengan sebutan wajib “Syaikhul-Islam”, dan diterbitkan oleh Kerajaan Saudi Arabia, disebutkan fatwa berikut ini:

وَسُئِلَ: عَمَّنْ " هَلَّلَ سَبْعِينَ أَلْفَ مَرَّةٍ وَأَهْدَاهُ لِلْمَيِّتِ يَكُونُ بَرَاءَةً لِلْمَيِّتِ مِنْ النَّارِ" حَدِيثٌ صَحِيحٌ؟ أَمْ لَا؟ وَإِذَا هَلَّلَ الْإِنْسَانُ وَأَهْدَاهُ إلَى الْمَيِّتِ يَصِلُ إلَيْهِ ثَوَابُهُ أَمْ لَا؟.

“Syaikh Ibn Taimiyah ditanya, tentang orang yang membaca tahlil 70.000,- kali dan dihadiahkan kepada mayit, agar menjadi tebusan baginya dari neraka, apakah hal itu hadits shahih atau tidak? Dan apabila seseorang membaca tahlil lalu dihadiahkan kepada mayit, apakah pahalanya sampai atau tidak?”

فَأَجَابَ: إذَا هَلَّلَ الْإِنْسَانُ هَكَذَا: سَبْعُونَ أَلْفًا أَوْ أَقَلَّ أَوْ أَكْثَرَ. وَأُهْدِيَتْ إلَيْهِ نَفَعَهُ اللهُ بِذَلِكَ وَلَيْسَ هَذَا حَدِيثًا صَحِيحًا وَلَا ضَعِيفًا. وَاَللهُ أَعْلَمُ. (مجموع فتاوى ابن تيمية، ٢٤/٣٢٣).

 Beliau menjawab, “Apabila seseorang membaca tahlil sekian; 70.000,- atau kurang, dan atau lebih, lalu dihadiahkan kepada mayit, maka hadiah tersebut bermanfaat baginya, dan ini bukan hadits shahih dan bukan hadits dha’if. Wallahu a’lam.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 24, hal. 323).
Berkaitan dengan komposisi bacaan Tahlilan yang beraneka ragam, Syaikh Ibnu Taimiyah juga berfatwa:

 وَسُئِلَ: عَنْ رَجُلٍ يُنْكِرُ عَلَى أَهْلِ الذِّكْرِ يَقُولُ لَهُمْ : هَذَا الذِّكْرُ بِدْعَةٌ وَجَهْرُكُمْ فِي الذِّكْرِ بِدْعَةٌ وَهُمْ يَفْتَتِحُونَ بِالْقُرْآنِ وَيَخْتَتِمُونَ ثُمَّ يَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ وَيَجْمَعُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّكْبِيرَ وَالْحَوْقَلَةَ وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم؟" 

“Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendoakan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illaa billaah) dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.?”

فَأَجَابَ : الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فِي الْأَوْقَاتِ فَفِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : ( إنَّ للهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا مَرُّوا بِقَوْمِ يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إلَى حَاجَتِكُمْ ) وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ ( وَجَدْنَاهُمْ يُسَبِّحُونَك وَيَحْمَدُونَك )... وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ أَوْ الْقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ أَوْ الدُّعَاءِ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْرُ ذَلِكَ : فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا. (مجموع فتاوى ابن تيمية، ٢٢/٥٢٠).

 Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hamba-hamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22, hal. 520).

Dalam fatwa di atas, Syaikh Ibnu Taimiyah membenarkan dan menganjurkan majlis dzikir dengan komposisi bacaan dzikir beraneka ragam seperti Tahlilan. Kalau Anda masih kurang yakin dengan fatwa Syaikh Ibnu Taimiyah atau meragukan gelarnya sebagai Syaikhul-Islam seperti yang Anda yakini selama ini wahai kaum Wahabi, silahkan hadits berikut ini dibaca dengan teliti:

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ للهِ سَيَّارَةً مِنَ الْمَلاَئِكَةِ يَطْلُبُوْنَ حِلَقَ الذِّكْرِ فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ وَحَفُّوْا بِهِمْ ثُمَّ بَعَثُوْا رَائِدَهُمْ إِلىَ السَّمَاءِ إِلَى رَبِّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَيَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا أَتَيْنَا عَلىَ عِبَادٍ مِنْ عِبَادِكَ يُعَظِّمُوْنَ آَلاَءَكَ وَيَتْلُوْنَ كِتَابَكَ وَيُصَلُّوْنَ عَلىَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَيَسْأَلُوْنَكَ لآَخِرَتِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ فَيَقُوْلُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : غَشُّوْهُمْ رَحْمَتِيْ فَيَقُوْلُوْنَ : يَا رَبِّ إِنَّ فِيْهِمْ فُلاَناً الْخَطَّاءَ إِنَّمَا اعْتَنَقَهُمْ اِعْتِنَاقًا فَيَقُوْلُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : غَشُّوْهُمْ رَحْمَتِيْ فَهُمُ الْجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ . (رواه البزار قال الحافظ الهيثمي في مجمع الزوائد: إسناده حسن، والحديث صحيح أو حسن عند الحافظ ابن حجر، كما ذكره في فتح الباري 11/212) 

“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang selalu mengadakan perjalanan mencari majelis-majelis dzikir. Apabila para malaikat itu mendatangi orang-orang yang sedang berdzikir dan mengelilingi mereka, maka mereka mengutus pemimpin mereka ke langit menuju Tuhan Maha Agung – Yang Maha Suci dan Maha Luhur. Para malaikat itu berkata: “Wahai Tuhan kami, kami telah mendatangi hamba-hamba-Mu yang mengagungkan nikmat-nikmat-Mu, menbaca kitab-Mu, bershalawat kepada nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memohon kepada-Mu akhirat dan dunia mereka.” Lalu Allah menjawab:

“Naungi mereka dengan rahmat-Ku.” Lalu para malaikat itu berkata: “Di antara mereka terdapat si fulan yang banyak dosanya, ia hanya kebetulan lewat lalu mendatangi mereka.” Lalu Allah – Yang Maha Suci dan Maha Luhur - menjawab: “Naungi mereka dengan rahmat-Ku, mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka.” (HR. al-Bazzar. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid [16769, juz 10, hal. 77]: “Sanad hadits ini hasan.” Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, hadits ini shahih atau hasan). Hadits di atas menganjurkan acara majlis dzikir yang komposisi bacaannya beraneka ragam seperti Tahlilan dan semacamnya. Bacalah dengan tenang, dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Insya Allah Anda akan mantap dan senang dengan Tahlilan. Semoga agenda kami berjalan dengan lancar, sukses dan berkah, amin. 

  K.H Muhammad Idrus Ramli
 Selasa 19 Juli 2016 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat

Related

Wahabi 6249491694164332640

Posting Komentar Default Comments

  1. kenapa ga ambil yg terang aja, yg sudah pasti diriwayatkan dan diajarkan rasulullah berkaitan dg ibadah yg dimaksud? kenapa harus ambil riwayat dlm satu konteks lalu dipake utk membenarkan konteks lain?
    kenapa sih harus ambil yg syubhat? yg bikin umat bingung mau ambil yg mana -___-"

    BalasHapus

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item