umdah

Fitnah Wahabi Terhadap Ziarah Kubur di Hari Raya

Umdah.co-Bangsa Indonesia dan Malaysia adalah negeri serumpun, yaitu penduduknya sama-sama dari rumpun suku Melayu. Karena itu bahasa komunikasi antara kedua bangsa ini tidak begitu jauh berbeda, yaitu dengan bahasa Melayu, yang kemudian di Indonesia dikembangkan menjadi bahasa Indonesia. Lebih dari itu, sebenarnya bangsa Indonesia dan Malaysia memiliki kesamaan yang lebih mendalam, umat Islam dari kedua negara tersebut sama-sama bermadzhab Syafi’i dan berakidah Ahlussunnah Wal-Jamaah dengan menganut madzhab al-Asy’ari. Hal ini yang menguatkan bahwa umat Islam dari kedua bangsa ini adalah seperguruan.


Hari kemarin, Kamis 30 Juni saya berangkat dari Surabaya dengan pesawat Air Asia ke Johor Bahru Malaysia, dalam rangka mengisi ceramah menjelang acara buka bersama di Masjid Jamek Bandar Kulai Kampung Melayu, Johor Bahru. Perjalanan dari Surabaya ke Johor Bahru hanya ditempuh dalam waktu dua jam saja. Cuaca di perjalanan alhamdulillah relatif baik. Hanya saja cuaca di bandara keberangkatan sangat berawan. Dan memang sejak keberangkatan dari Jember, kami diguyur hujan yang cukup lebat dan mengakibatkan banjir di sebagian daerah, sehingga pikiran bertanya-tanya sebelum menaiki pesawat.

Sampai di Johor Bahru, kami langsung istirahat di hotel dekat Bandara. Baru sehabis ashar kami dijemput menuju lokasi buka bersama. Dalam acara buka bersama kemarin juga disertai dengan acara pemberian santunan kepada kaum dhuafa’ dan fakir miskin, yang berupa uang dan pakaian ibadah yaitu sarung. Di Johor Bahru, shalat taraweh dilakukan dalam 20 rakaat dan 3 rakaat shalat witir, hanya durasi waktunya rata-rata lebih lama daripada shalat taraweh di Indonesia, termasuk di kampung saya.

Ada hal menarik yang ingin saya ceritakan  dalam tulisan ini. Dalam ceramah menjelang buka puasa bersama kemarin, saya diminta untuk menanggapi pernyataan sebagian kaum Wahabi yang melarang ziarah kubur ketika hari raya. Memang ada kesamaan tradisi antara umat Islam Indonesia dengan umat Islam Malaysia. Hal ini hampir terjadi dalam semua tradisi keagamaan, mulai dari kenduri kematian, selamatan kehamilan dan lain sebagainya. Bahkan termasuk pula dalam tradisi hari raya, seperti berkunjung kepada keluarga dan saudara, berziarah ke makam orang tua dan keluarga yang merupakan acara rutin umat Islam setiap tahun. Belakangan ini, kaum Wahabi begitu gencarmengeluarkan fatwa keharaman ziarah kubur pada masa-masa hari raya, dengan berbagai alasan yang dibuat-dibuat.

Ada beberapa alasan yang perlu dikemukakan di sini, agar pembaca mengetahui sejauh mana kaum Wahabi menipu umat Islam setiap menjelang hari raya idul fitri. Alasan pertama, hari raya adalah hari untuk bersuka ria dan bersenang. Sedangkan ziarah kubur akan menjadikan seseorang sedih dan larut dalam duka cita. Hal ini bertentangan dengan tujuan disyariatkannya hari raya idul fitri yang mengajak umat Islam untuk bersuka cita dan bersenang-senang. Tentu saja alasan kaum Wahabi tersebut sangat tidak masuk akal dan dibuat-dibuat. Alasan ini membuktikan bahwa kaum Wahabi memang tidak pernah melakukan ziarah kubur dan karena mereka memang mengharamkannya meskipun di luar masa-masa hari raya. Hari raya hanya dijadikan momen untuk mengeluarkan unek-uneknya kepada umat Islam.

Sebagaimana telah kita maklumi bersama, ketika umat Islam melakukan ziarah kubur, apakah berziarah ke makam para wali, atau ke makam keluarga, tidak kita jumpai di antara mereka yang kemudian dihinggapi perasaan sedih dan duka cita yang mendalam. Mereka biasa-biasa saja menjalani ziarah kubur. Bahkan ziarah kubur tidak mengurangi nilai kebahagiaan hari raya yang sedang dijalani. Di sisi lain, pernyataan kaum Wahabi bahwa pada masa-masa hari raya, umat Islam tidak dianjurkan bersedih dan berduka, jelas tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Justru hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umat Islam agar tidak larut dalam kebahagiaan yang berlebihan.

عن النعمان بن بشير قال: كان النبي - صلى الله عليه وسلم - يقرأ في العيدين، وفي الْجُمُعَة: {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى} و {هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ} ... الحديث. رواه مسلم

Al-Nu’man bin Basyir berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu membaca surah Sabbih Isma Rabbika al-a’la dan surah Hal ataaka hadits al-ghasyiyah, dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at.” HR Muslim.

عن عَائِشَة - رَضِيَ اللَّهُ عَنْها - «أَن رَسُول الله - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلم - كَانَ يكبر فِي الْعِيدَيْنِ ثِنْتَيْ عشرَة تَكْبِيرَة سُوَى (تَكْبِير) الِافْتِتَاح وَيقْرَأ ب (ق وَالْقُرْآن الْمجِيد (و (اقْتَرَبت السَّاعَة . رَوَاهُ (أَبُو) دَاوُد ، وَالدَّارَقُطْنِيّ فِي «سُنَنهمَا» ، وَالْحَاكِم فِي «مُسْتَدْركه»

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu bertakbir dua belas kali selain takbir pembukaan shalat dan membaca surah Qaf wa al-Qur’an al-Majid dan surah iqtarabat al-sa’ah.” HR Abu Dawud, al-Daraquthni dan al-Hakim.

Dalam kedua hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu membaca surah-surah yang isinya tentang dahsyatnya hari kiamat dalam shalat hari raya idul fitri dan idul adhha. Tentu hal ini sebagai motivasi kepada kita, agar dalam hari raya tidak larut dalam kesenangan yang berlebihan. Kita justru diajak untuk memikirkan perjalanan panjang di hari kiamat kelak, yang penuh dengan peristiwa yang dahsyat. Dalam konteks ini, Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari berkata:

وَالْمَعْنَى أَنَّ فِيهَا ذِكْرَ الْقِيَامَةِ وَالْحَالُ شَبِيهٌ بِهَا لِمَا فِيهِ مِنْ حَشْرِ النَّاسِ كَيَوْمِ الْحَشْر

Hikmah dianjurkannya membaca surah-surah di atas, adalah sesungguhnya di dalam surah-surah tersebut menyebutkan peristiwa hari kiamat, di mana kondisi hari raya menyerupai kondisi hari kiamat dengan dikumpulkannya manusia dalam satu tempat. (Asna al-Mathalib Syarh Raudh al-Thalib, juz 1 hlm 280).

Alasan kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang ziarah kubur pada masa-masa hari raya. Tentu saja alasan ini juga dibuat-dibuat dan merupakan salah satu fitnah kaum Wahabi terhadap kaum Muslimin di dunia. Tidak ada satu hadits pun yang melarang umat Islam melakukan ziarah kubur pada masa-masa hari raya. Justru perintah melakukan ziarah kubur, semuanya bersifat mutlak, dalam arti boleh dilakukan kapan saja, termasuk dalam masa-masa hari raya, menjelang bulan suci Ramadhan, pada hari Jum’at, dan hari-hari yang lain.

Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, ada empat tujuan seseorang itu melakukan ziarah kubur. Pertama, mengambil pelajaran dari kematian, agar kita semangat dalam beribadah dan beramal shaleh, serta tidak terlalu susah memikirkan persoalan duniawi. Kedua, mendoakan orang-orang yang ada di alam kubur, agar dosa-dosa mereka diampuni dan pahala kebaikan mereka dilipatgandakan. Ketiga, memenuhi kewajiban kita kepada keluarga dan orang-orang dekat ketika mereka masih hidup. Dan keempat, mencari berkah Allah dengan berziarah ke makam orang-orang shaleh. Keempat tujuan ini telah dilakukan sejak masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat dan generasi salaf yang shaleh.

Ada hal penting yang perlu dikemukakan di sini, yaitu mengapa umat Islam memilih hari raya untuk melakukan ziarah kubur keluarga? Mungkin karena pada masa-masa hari raya mereka sedang cuti dan libur kerja, serta tradisi mudik dan pulang kampung di mana kelurga dan orang tua dimakamkan, maka hari raya adalah momen yang tepat untuk ziarah makam keluarga yang sudah wafat. Tentu hal ini tidak ada larangan dalam agama. Demikian beberapa pernyataan kaum Wahabi yang perlu kami tanggapi melalui kisah perjalanan ini.

Sekarang kami masih di Malaysia, dan rencananya insya Allah besok kami akan pulang ke Indonesia. Sebenarnya rencana awal dari keberangkatan, hari ini kami akan pulang ke Indonesia melalui Singapura. Akan tetapi berhubung masih ada urusan yang perlu diselesaikan, kepulangan kami tunda besok pagi. Semoga perjalanan kami dimudahkan oleh Allah. Semoga kita semua mendapat berkah dan keutamaan bulan Ramadhan yang suci dan mulia ini, amin.

Khusus bagi semua sahabat facebook yang memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Semoga persahabatan kita selalu membawa kebaikan, amin.

K.H. Muhammad Idrus Ramli

Related

hikmah 542093528660363092

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item