umdah

Menciptakan Generasi Berprestasi Bukan Robot Berprestasi

UMDAH.CO -Di antara gurunya para guru di damaskus adalah syeikh hasan habannakeh, diantara murid beliau adalah syeikh albuty, syeikh wahbah...

UMDAH.CO-Di antara gurunya para guru di damaskus adalah syeikh hasan habannakeh, diantara murid beliau adalah syeikh albuty, syeikh wahbah zuhayly, syeikh quraym rajih, syeikh mustafa dib bugha, syeikh mustafa turkmany, dan nama besar lain.












Bukan sebuah kebetulan beliau bisa menelurkan puluhan ulama bintang lima, selain taufiq dari Allah, disana ada sebuah sistem yang sangat rapih, di antaranya adalah memberikan anak kecil kesenangan mereka sebagai anak kecil, karena dengan itu mereka merasa bahagia, mereka bukan robot yang selalu di tekan dengan pelajaran dan kekangan yang kadang keterlaluan, orang tua selalu menakuti mereka dengan belajar, kesempatan bermain mereka sangat sedikit, dengan alasan belajar agar sukses, seolah sukses menurut mereka adalah seberapa cepat dia mendapatkan kerja, seberapa tinggi nilai yang di dapat, rangking berapa, dan berapa banyak penghasilan mereka nanti. Maka tak heran anak-anak itu seringkali menjadi manusia angka. Mereka menilai semua dari materi. Sebagian lagi memberontak dan menjadi rusak.

Saat si anak menjadi dewasa dia terlalu banyak berhitung untuk prestasi, bahkan dengan cara menyakiti orang lain dia sama sekali tidak peduli dengan perasaan orang lain, saat semua orang tidak menyukainya dia selalu mencari pembenaran dalam diri sendiri untuk itu. Dia mulai hidup seperti robot yang terus tertekan untuk mengejar sesuatu yang dia sendiri tidak tau untuk apa, yang penting kumpulkan sebanyak-banyaknya. Katakanlah dia mendapatkan apa yang dia mau, tapi apakah dia bisa bahagia ketika mendapatkan semua itu dengan menyakiti orang lain atau kalau tidak menyakiti orang dia menjadi makhluk kesepian karena tidak pandai bergaul dan dijauhi manusia karena terlalu dekat dengan angka.

Salahkah membuat anak mengejar prestasi? Tidak salah!! Tapi buatlah mereka mengejar dengan gembira, ajari mereka tentang arti kehidupan, kisah hidup tidak hanya masalah prestasi materi disana ada genre komedi, persahabatan, keluarga, cinta, pertualangan, sport, game, horor, cinta tanah air, kebersamaan, hati kecil, reliji, dll. Semua aspek ini ditanamkan betul oleh syeikh hasan hannakeh ketika mendidik muridnya, makanya kita menemukan kalau murid beliau tidak hanya hidup dimesjid dan pesantren tapi juga gaul dipasar dan dimasyarakat.

Contoh cerita syeikh rusydi qalam saat beliau kecil, jika ada ulang tahun teman atau waktu bermain lainnya, biasanya syeikh hasan habannakeh menyuruhnya libur, memberinya uang, dan kadang membelinya baju untuk bermain dengan temannya, apakah beliau tidak berprestasi? Beliau sudah menamatkan mughni muhtaj, tafsir khazin, dan kitab selevel itu pada usia 13 tahun, sekarang beliau menjadi salah satu rujukan utama fiqh syafii di damaskus.

Sebenarnya ini bukan cuma milik syeikh hasan habbanakeh, tapi ini adalah sunnah rasul, bukankah kita sering mendengar kalau annas bin malik sering kali bermain pada masa kanak-kanaknya sampai kadang-kadang dia juga bermain saat ada tugas, walaupun ketika diingatkan dia langsung gerak lagi, dan nabi tidak pernah marah karena beliau ingin mengajarkan kita kalau anak-anak butuh waktu bermain, apakah anas tidak berprestasi? Anas menjadi pedagang paling kaya dan salah satu ulama paling kaya dan anak-anaknya juga banyak yang menjadi hafiz belum lagi beliau menjadi orang yang sangat disenangin masyarakat dan seringkali dikunjungi, prestasi seperti itulah yang islam inginkan, bukan cuma angka, tapi sosial, agama dan kenangan indah disetiap tempat yang dia tempati.

Aisyah? Juga sama dia dulu bermain boneka, bernyanyi bersama teman, tugas rumah jalan, menjadi faqih, menjadi muhadis, menjadi dokter, dan prestasi lain sebagai manusia, istri, sebagai tokoh masyarakat, sebagai anak, sebagai teman, sebagai wanita. Syeikh albuty misalnya dulu sering tanding catur dengan dr.khair haikal. Imam syafii yang sudah menjadi mufti dan dia masih bermain-main sebagai anak-anak. Dan banyak lainnya dalam sejarah.

Nah zaman sekarang? Kita melihat seringkali orang tua menginginkan anaknya berprestasi tapi lupa mengajari anaknya bersosial, bahkan dia sendiri seringkali menghabiskan waktu diluar untuk bekerja diluar kewajaran, dengan alasan untuk anak, apakah anak bisa bahagia dengan uang, uang dan uang yang kamu kumpulkan? Jika mereka bisa berteriak mereka akan mengatakan "ayah, ibu, tidak masalah uang yang kamu berikan itu lebih sedikit dari biasanya, asalkan kamu menambah sedikit waktumu bersama kami", dilain sisi orang tua yang sama sekali tidak peduli dengan prestasi dan terlalu cuek mereka membuat anak bermain terus tanpa kendali, ini juga salah. Dua-duanya bermasalah. Jika ingin bahagia ikutilah sunnah yang telah memberi contoh bagaimana bisa berprestasi sebagai manusia bahagia bukan sebagai robot yang kesepian. Contoh sudah diberikan. Tapi bagi yang belum punya anak menikah dulu, jangan liat pasangan muda lagi gendong anak malah baper.

By. Fauzan inzaghi

Related

Tafakur 5976017901770510600

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item