umdah

Kisah Cinta Beda Agama Putri Rasulullah SAW

UMDAH-CO. Kisah cinta paling inspiratif dalam Islam yang luput dari perhatian orang banyak merupakan kisah cinta Zainab binti Rasulullah. Kisah yang mengabarkan pada kita, bahwa cinta itu bukan memaksakan kehendak. Kita tidak pernah dilarang untuk mencintai, namun saat tiba masanya untuk memilih antara cinta dan Allah, kita tidak akan punya jawaban lain selain tetap setia pada Allah. Muslim yang baik pasti akan menempatkan Allah di mahligai teratas dalam hatinya, hingga apabila seluruh manusia di muka bumi ini benci padanya, itu tidak akan jadi masalah selagi cinta Allah tetap mengucur deras untuknya.

Kisah Cinta Beda Agama Putri Rasulullah SAW

Inilah inti kisah cinta putri Rasulullah, Zainab, dan seorang pemuda Quraisy bernama Abil Ash bin Rabi. Inilah kisah cinta beda agama antara muslim dan non muslim. Kisah yang insya Allah akan menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Abil Ash, Pemuda Qurays yang Telah Mencuri Hati Zainab
Zainab dilahirkan saat Rasulullah berumur 30 tahun. Ketika mencapai usia perkawinan, Halah binti Khuwailid meminang Zainab untuk puteranya, Abil Ash bin Rabi, seorang lelaki mulia dengan kekayaan yang melimpah. Halah binti Khuwailid sendiri adalah saudara perempuan Khadijah binti Khuwailid.

Khadijah juga telah yang mengasuh Abil Ash seperti anaknya sendiri sehingga ia diijinkan keluar masuk rumah Rasulullah seperti rumah sendiri. Karena itu, sejak kecil Abil Ash telah bergaul dengan Zainab saudara kandung sendiri.

Pinangan diterima oleh Zainab, Rasulullah dan Khadijah, akhirnya pernikahan juga dilaksanakan sehingga menggemparkan masyarakat Mekkah. Setelah pesta pernikahan, Khadijah pergi menemui Zainab dan menghadiahkan kalung kepada Zainab.

Islam sebagai Anugerah Sekaligus Ujian

Zainab dan Abil Ash menjalin rumah tangga yang harmonis, namun perkawinan itu berlangsung sebelum turun wahyu kepada Rasulullah SAW. Saat Islam datang, Zainab pun memeluk Islam. Akan tetapi Abil Ash tidak mudah meninggalkan agamanya. Inilah masalah besar yang harus ditanggung oleh kedua pasangan suami isteri ini antara cinta dan agama.
"Tidak akan tercapai tujuan di antara kita, wahai Zainab, kecuali engkau tetap dalam agamamu dan aku tetap dalam agamaku. Demi Tuhan, ayahmu bukanlah seorang yang tertuduh. Tetapi aku tidak ingin dikatakan bahwa aku meninggalkan kaumku, dan menjadi kafir mengingkari agama nenek moyangku hanya demi menyenangkan isteri.” Ucap Abil Ash saat baru saja pulang dari perniagaan.
Keduanya terdiam sebentar sambil merenung. Sesaat kemudian, mereka kaget tatkala mendengar sebuah bisikan, "Jika agama memisahkan antara kedua jasad mereka, maka cinta mereka akan tetap ada hingga keduanya dipersatukan oleh sebuah agama."

NOTE: Zainab masih terus tinggal di Makkah bersama suaminya karena pada saat itu belum ada larangan pernikahan beda agama. Mereka baru berpisah setelah kepulangan Abil Ash (pasca menjadi tawanan perang Badr) karena telah turun QS Al-Mumtahanah 60:10 dan Al-Baqarah 2:221 yang melarang wanita muslimah hidup bersama sebagai suami istri dengan pria kafir.

Kalung untuk Menebus Sang Suami

Waktu berganti, tiba saatnya Nabi Muhammad Sang Ayah untuk hijrah ke Madinah. Betapa sedihnya Zainab karena ia tidak bisa mengikuti sang ayah berhijrah, suami maupun keluarganya tidak mengijinkan. Hingga perang Badr berkecamuk, Zainab adalah satu-satunya Muslimah yang tinggal bersama kafir Quraisy di Makkah.

Ketika perang Badr berkecamuk, Abil Ash merupakan salah satu orang yang berada dalam barisan kafir Quraisy. Ia memerangi pasukan yang dipimpin oleh mertuanya sendiri. Hingga akhirnya sejarah mencatat, pasukan Muslim yang saat itu kalah jumlah berhasil memenangi peperangan.

Tidak sedikit dari kafir Qurays yang tewas, sedangkan sisanya menjadi tawanan. Abil Ash (suami Zainab) masuk dalam daftar tawanan. Ia digiring menuju kota Madinah. Keluarga para tawanan di Makkah pun berbondong-bondong mengirimkan tebusan pada Rasulullah, salah satunya datang dari Sang Isteri Zainab. Ia mengirimkan sebuah kalung pemberian sang Ibu untuk menebus suaminya.

Rasulullah memandang kalung itu dan hatinya miris. Tiba-tiba wajah Khadijah hadir di depan matanya. Rasulullah tidak sampai hati. Beliau berkata, "Jika kalian tidak keberatan melepaskan tawanan (Abil Ash) dan mengembalikan harta miliknya, maka lakukanlah." Mereka menjawab, "Baiklah, wahai Rasulullah."

Abil Ash pun dibebaskan. Saat itulah ia berjanji pada sang mertua untuk membebaskan Zainab dan mengembalikan kepada beliau di Madinah. Abil Ash pun pulang ke Makkah bersama kalung yang tadi dikirimkan sang istri. Kini ia tahu betapa cinta dan kesetiaan Zainab tidak pernah berkurang untuknya, meski agama menjadi tembok pemisahnya.

Cinta Tak Terbatas Jarak

Begitu sampai di rumah, Abil Ash mengucapkan terimakasih pada sang istri. Sang suami pun berkata, "Kembalilah kepada ayahmu, wahai Zainab." Ucapnya sambil berusaha berbesar hati.

Pada hari yang telah ditetapkan, Zaid bin Haritsah bersama seorang lelaki Anshar diutus oleh Rasulullah untuk menjemput Zinab di pinggiran dusun di luar kota Makkah.

Abil Ash tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas kepergian sang istri. Bagaimana dia mampu melepaskan orang yang dicintainya, sedang dia mengetahui bahwa, itu merupakan perpisahan terakhir selama kekuasaan agama ini berdiri di antara kedua hati dan masing-masing berpegang pada agamanya. Yang membuatnya lebih sedih lagi, ia tidak bisa mengantarkan Zainab keluar kota Makkah karena keadaan pasca perang saat itu.

Abil Ash pun mengutus saudaranya, Kinanah bin Rabi, untuk mengantarkan Zainab. Ia berpesan,
"Hai, Saudaraku, tentulah engkau mengetahui kedudukan Zainab dalam jiwaku. Aku tidak menginginkan seorang wanita Quraisy yang menemaninya keluar kota Makkah, dan engkau tentu tahu bahwa aku tidak sanggup membiarkannya berjalan sendiri. Maka temanilah dia menuju tepi dusun, di mana telah menungggu dua utusan Muhammad. Perlakukanlah dia dengan lemah lembut dalam perjalanan dan perhatikanlah dia sebagaimana engkau memperhatikan wanita-wanita terpelihara. Lindungilah dia dengan panahmu hingga anak panah yang penghabisan."

Rupanya perjalanan tidaklah berjalan mulus, karena kafir Quraisy selalu menghalangi.  Saat Zainab berada di punggung unta, Hubar bin Aswad Al-Asadi menusuk perut unta dengan lembing, sehingga Zainab terlempar jatuh dan mengeluarkan darah. Janinnya telah gugur di atas gurun pasir. Tapi ketabahan dan kemantapan hatinya yang dilandasi iman serta Islam, membuat keberaniannya semakin membara, hingga tetap mantap hijrah ke Madinah. Setelah melewati beberapa hambatan, Kinanah berhasil membawa Zainab pada waktu malam, lalu menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan temannya.Keduanya pergi mengantarkan Zainab kepada Rasulullah SAW.

Berpisahlah Zainab dengan suami tercinta dan kedua buah hatinya. Perjalanan cinta Abil Ash dan Zainab benar-benar diuji. Tidak ada lagi jalan untuk bertemu. Abil Ash tetap tinggal di Makkah. Ia selalu bersedih dan mnyendiri karena sang kekasih tidak lagi ada di sisinya. Zainab pun tinggal di Madinah bersama sang ayah. Ia jadi sering sakit-sakitan karena cinta dan kerinduan yang sangat mendalam kepada belahan jiwa nan jauh di mata. Kalau saja bukan karena iman dan taqwa yang menguatkan tekadnya, tentu ia akan tetap bersama Abil Ash hingga ajal yang memisahkan.

Jalan untuk Bersatu

Minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Suatu hari Abil Ash keluar bersama kafilah dagangnya menuju Syam. Saat perjalanan pulang dia bertemu pasukan Rasulullah SAW yang  merampas hartanya, syukur mereka tidak membunuhnya. Kini Abil Ash tidak punya apa-apa lagi. Bukan hartanya saja yang ludes, melainkan juga harta yang dititipkan orang-orang padanya. Bagaimana ia bisa sanggup kembali ke Makkah?

Di tengah kesusahan yang melanda, Abil Ash teringat Zainab, wanita yang begitu mencintai dan setia padanya. Maka diputuskan pada suatu malam Abil Ash memasuki Madinah dengan sembunyi-sembunyi. Ia berhasil bertemu Zainab dan segera ,mengungkapkan maksud kedatangannya, bahwa ia ingin meminta bantuan Zainab untuk melindunginya, dan jika bisa, ia juga berharap hartanya bisa dikembalikan.

Cinta di hati Zainab masih tersimpan rapi untuk Abil Ash, karena itu Zainab bersedia melindungi lelaki tersebut. Ketika masyarakat Madinah mengetahui keberadaan Abil Ash di Masjid, mereka segera berkerumun dan berniat untuk menangkapnya. Tapi kemudian Zainab berseru, "Hai, orang-orang, aku telah melindungi Abil Ash bin Rabi. Dia dalam lindungan dan jaminanku."

Rasulullah SAW yang sedang shalat menyelesaikan shalatnya, beliau segera menemui orang banyak dan bersabda : "Wahai orang-orang, apakah kalian tidak mendengar apa yang aku dengar? Sesungguhnya serendah-rendah seorang Muslim, mereka tetap dapat memberi perlindungan." Kemudian beliau masuk menemui puterinya. Zainab berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya jika Abil Ash ini dianggap keluarga dekat, ia masih putera paman. Jika dianggap jauh, ia bapak dari anakku, dan aku telah melindunginya.”

Rasulullah kemudian berpesan,"Wahai puteriku, muliakanlah tempatnya dan jangan sampai dia menyentuhmu, karena engkau tidak halal baginya selama dia masih musyrik." Meski begitu, Nabi SAW tetap terkesan melihat kesetiaan puterinya kepada suami yang ditinggalkan.

Akhirnya berdasarkan permohonan secara halus Rasulullah SAW, harta Abil Ash bisa dikembalikan. Beberapa orang di antara para perampas berkata "Hai Abil Ash, maukah engkau masuk Islam dan mengambil harta benda ini, karena semua ini milik orang-orang musyrik?"

Tahukah apa yang dijawab Abil Ash? Ia berkata,"Sungguh buruk awal Islamku, jika aku mengkhianati amanat yang dipercayakan padaku." Namun saat itu benih-benih iman sudah tumbuh subur di hatinya.

Mereka pun tetap mengembalikan harta itu kepada Abil Ash demi kemuliaan Rasulullah SAW dan sebagai penghormatan kepada Zainab. Laki-laki itu pun kembali ke Mekkah dengan membawa hartanya dan harta orang banyak yang telah diamanahkan padanya.

Setelah mengembalikan harta kepada pemiliknya masing-masing, Abil Ash berdiri dan berkata, "Wahai, kaum Quraisy, apakah masih ada harta seseorang di antara kalian padaku?" Mereka menjawab, "Tidak. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Kami telah mendapati kamu seorang yang jujur dan mulia."

Related

Kisah 2578362219495322849

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item