umdah

Umar bin Khattab, Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Umdah.Co- Beberapa waktu lalu tepatnya tahun 2015 kemarin pengggunan Sosmed sempat dihebohkan dengan berita seorang perempuan asal cianjur yang memasak batu untuk menyenangkan hati anaknya yang kelaparan. Untunglah saat itu diketahui oleh seorang polisi yang langsung membantunya.

Umar bin Khattab Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Ini bukan kali pertama seorang perempuan yang statusnya sebagai ibu melakukan hal tersebut. Empat belas abad silam Hal tersebut pernah terjadi pada masa kekhalifahan saydina Umar ra. Umar sangat tidak rela dan terpukul melihat rakyatnya menderita kelaparan, bahkan Ia  menghukum dirinya sendiri karena takut mendapat hukuman dari Allah di akhirat kelak. 

Beliau sering sekali melakukan Blusukan dan memilih melakukannya saat malam hari supaya tidak ada satu orang pun yang mengetahui.  Pada suatu ketika itu wiilayah yang dipimpin Umar mengalami peceklik panjang yang disebut dengan tahun Abu. Kondisi ini membuat pohon menjadi kering, tanah tandus.

Setiap hari Umar memerintahkan aparatnya untuk menyembelih onta dan membagikannya kepada rakyatnya. Hatinya semakin pedih ketika melihat banyak rakyatnya kelaparan. Ia bahkan sempat berdoa, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ku.” 

Pada masa itu Umar tidak makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Hal ini dilakukan untuk memastikan makanan tersebut diberikan kepada rakyatnya. Untuknya sendiri, Umar hanya makan sedikit roti dengan minyak zaitun. Semakin hari perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, Ia menabuhkan perutnya dengan jemari dan berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.” 

Pada suatu malam Umar mengadakan blusukan dengan sahabatnya yang bernama Aslam. Ia ingin mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya. Sampailah Ia di suatu perkampungan kecil di wilayah Madinah. Saat melakukan perjalanan di kampung yang tandus tersebut, Umar menemukan tenda lusuh ditengah-tengah gurun tandus tersebut.

Dari dalam tenda Ia mendengar gadis kecil menangis dengan tiada hentinya. Saat  mendekati tenda itu, Umar kaget karena melihat seorang wanita dewasa sedang duduk di perapian. Wanita tersebut terlihat mengaduk-aduk bejana di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang. 

Umar kemudian memberi salam. Mendengar salam Umar, ibu itu mengangkat  kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci. “Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar. Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….” 

“Apakah ia sakit?” “Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.” Mendengar hal tersebut, Umar dan Aslam tertegun lama. Namun mereka tidak banyak bicara dan tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam memastikan Ibu tersebut memberikan masakannya kepada anaknya. Namun selama mereka disana gadis kecil di dalam tenda itu tidak berhenti menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Karena begitu lama, Umar pun merasa heranr dengan tindakan yang dilakukan wanita tersebut. Ia berpikir tentang apa yang sedang dimasak oleh ibu itu? karena sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?” Ibu itu menoleh dan menjawab, “, kau lihatlah sendiri!” Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. 

Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?” Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala. “Buat apa?” Namun jawaban selanjutnya dari wanita itu sungguh membuat hati Umar tersayat-sayat dan sakit.

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar. “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa.  anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Tapi ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.” Ibu itu diam sejenak. 

Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.” Perkataan tersebut membuat Aslam ingin menegur perempuan itu. Ia ingin menjelaskan bahwa perempuan ini tidak pantas menjelek-jelekan Umar sementara Umar kini sedang berada di hadapannya. Namun Umar sempat mencegah Aslam dan dengan air mata yang berlinang Ia cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada perempuan tadi.

 Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….” Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?” Jawaban ini membuat Aslam tertunduk.

 Ia masih berdiri mematung, ketika Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang. Makanan habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya. "Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Khalifah Umar. 

 Dan benar, keesokannya wanita tersebut menemui Amirul Mukminin. Ia begitu kaget melihat sosok Amirul Mukminin yang ternyata adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya. "Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata wanita itu. "Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar. 

Sejatinya seorang pemimpin harus dan wajib berempati kepada nasib rakyatnya. Bahkan seorang pemimpin yang baik, harus memastikan semua rakyatnya kenyang terlebih dahulu sebelum dia makan sesuatu. Sungguh sosok pemimpin yang sangat dirindukan kehadirannya walaupun harapan tersebut akan mati dan sia-sia seiring berlarinya waktu menjemput kiamat. Wallahu'lam.

Related

Sejarah 2287446100674890762

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item