umdah

Sesama Wahabi-Salafi Saling Menyalahkan

Umdah.Co- Sekte Wahabi-Salafi punya perbedaan yang sangat besar dengan kaum Aswaja, perbedaan yang paling besar bisa berefek kepada sesat atau bahkan kufur. Ternyata perbedaan tersebut juga terjadi di antara sesama mereka. Mereka menutup mata dan mengelabuinya seolah-olah perbedaan itu tidak ada. Hal ini berlaku tanpa ada pengecualian, termasuk kepada imam dan guru-guru yang mereka agung-agungkan.
sesama wahabi salafi  saling menyalahkan
ilustrasi

Berikut ini penulis mengutip beberapa kasus perbedaan yang terjadi di antara mereka, jika pada kasus tersebut mereka berbeda dengan ulama Aswaja, akan menghujat habis-habisan. Tapi saat berbeda dengan sesamanya, mereka tutup mata dan tidak mau tahu.

1. al-’Utsaimin membidahkan Al-Albani dalam kitabnya al-Ajwibah al-Nafi’ah, ia menilai azan sayyidina Utsman ini sebagai bid’ah yang tidak boleh dilakukan. Tentu saja, pendapat aneh al-Albani yang kontroversial ini mendapatkan serangan tajam dari kalangan ulama termasuk dari sesama Wahabi. Dengan pandangannya ini, berarti al-Albani menganggap seluruh sahabat dan ulama salaf yang shalih yang telah menyetujui azan sayidina Utsman sebagai ahli bid’ah. Bahkan Ulama Wahabi yaitu al-’Utsaimin sendiri, sangat marah kepada al-Albani, sehingga dalam salah satu kitabnya menyinggung al-Albani dengan sangat keras dan menilainya tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali:

“ثم يأتي رجل في هذا العصر، ليس عنده من العلم شيء، ويقول: أذان الجمعة الأول بدعة، لأنه ليس معروفاً على عهد الرسول صلي الله عليه وسلم، ويجب أن نقتصر على الأذان الثاني فقط ! فنقول له: إن سنة عثمان رضي الله عنه سنة متبعة إذا لم تخالف سنة رسول الله صلي الله عليه وسلم، ولم يقم أحد من الصحابة الذين هم أعلم منك وأغير على دين الله بمعارضته، وهو من الخلفاء الراشدين المهديين، الذين أمر رسول الله صلي الله عليه وسلم باتباعهم.”

“ada seorang laki-laki dewasa ini yang tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali mengatakan, bahwa azan Jumaat yang pertama adalah bid’ah, kerana tidak dikenal pada masa Rasul , dan kita harus membatasi pada azan kedua saja! Kita katakan pada laki-laki tersebut: sesungguhnya sunahnya Utsman R.A adalah sunah yang harus diikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul SAW dan tidak di tentang oleh seorangpun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (al-Albani). Beliau (Utsman R.A) termasuk Khulafaur Rasyidin yang memperoleh pentunjuk, dan diperintahkan oleh Rasullah SAW untuk diikuti”.

2. Ibnu Baz pernah ditanya tentang maksud satu hadis. “Apakah dengan dasar hadis ini Allah disifati bahwa Dia memiliki bayangan?” Berikut hadisnya: سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله Jawab Ibnu Baz: “Benar (Allah punya bayangan), sebagaimana itu disebutkan dalam hadis. Dalam sebagian riwayat dengan redaksi “Fi Zhilli ‘Arsyihi”, tetapi yang dalam dua kitab Shahih (Shahih Bukhari dan Muslim) dengan redaksi “Fi Zhillihi”, karena itu maka Allah memiliki bayanagn yang sesuai bagi-Nya; kita tidak tahu tata-caranya, sebagaimana kita tidak tahu tata cara dari seluruh sifat-sifat Allah lainnya, pintunya jelas satu bagi Ahlussunnah Wal Jama’ah (menurut pengekuan mereka)”. Ibnu Baz dibantah dan dihukumkan sesat, berikut ini adalah tulisan Ibnu Utsaimin membantah Ibnu Baz; dalam “Syarah al Aqidah al Wasithiyyah”, juzuk 2, hal. 136, dengan redaksi berikut ini: 

 وقوله: “لا ظل إلا ظله”؛ يعني: إلا الظل الذي يخلقه، وليس كما توهم بعض الناس أنه ظل ذات الرب عز وجل؛ فإن هذا باطل؛ لأنه يستلزم أن تكون الشمس حينئذ فوق الله عز وجل. ففي الدنيا؛ نحن نبني الظل لنا، لكن يوم القيامة؛ لا ظل إلا الظل الذي يخلقه سبحانه وتعالى ليستظل به من شاء من عباده. أ.ه 

 “Sabda Rasulullah “La Zhilla Illa Zhilluh” artinya “Tidak ada bayangan kecuali bayangan yang diciptakan oleh Allah”. Makna hadis ini bukan seperti yang disangka oleh sebagian orang (Ibnu Baz) bahwa bayangan tersebut adalah bayangan Dzat Allah, ini adalah pendapat sesat, karena dengan begitu maka berarti matahari berada di atas Allah. Di dunia ini kita membuat bayangan bagi diri kita, tetapi di hari kiamat tidak akan ada bayangan kecuali bayangan yang diciptakan oleh Allah supaya berteduh di bawahnya orang-orang yang dijehendaki oleh-Nya dari para hamba-Nya”. Dia juga mengutip pendapat Ibnu taimiyah, berikut redaksinya:

 يقول ابن تيمية في كتابه مجموع الفتاوى الجزء الخامس صفحة 262 ما نصه : ” اما من اعتقد الجهة فان كان يعتقد ان الله في داخل المخلوقات تحويه المصنوعات وتحصره السماوات ويكون بعض المخلوقات فوقه وبعضها تحته , فهذا مبتدع ضال . ”

 “Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu’ Fatawa juzuk 5 halaman 262, berkata: orang-orang yang beritikad kalau Allah punya jihat, maka sungguh dia telah beritikad bahwa Allah swt termasuk kepada golongan makhluk, yang dikelilingi oleh bikinan dan dibatasi oleh langit. Maka adalah sebagian makhluk ada diatasnya dan sebagian di bawahnya, ini merupkan Bid’ah yang sesat menyesatkan”. Wallahua'lam.

Related

Wahabi 3140718710499961107

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item