umdah

Saat Gelap Menjemput Terang (Cerpen)

Umdah.Co- Tep....tep……tep… Suara tetesan air yang berasal dari kamar mandi terdengar nyaring, pertanda malam semakin hening, sesekali terdengar embikan kambing berteriak lancing, mungkin ia mencari temannya yang hilang. Lalu, sebentar kemudia hilang entah kemana, pondok tertua itu kembali senyap.
cerpen santriwati mudi mesra

Dari dalam mushalla yang berona putih terpadu biru muda, terdengar sesegukan tangis seorang gadis, sebuah kepiluan terdengar dari dalam jiwa. Tak seorangpun mendengarnya kecuali zat yang maha mendengar. Rayna begitu namanya, dalam balutan mukuna putih ia menadahkan tangannya, mengharap sang khaliq mau mendengarkan keluh kesahnya. Qiyamullail telah menjadi pelipur lara kesedihannya, hanya disanalah ia mampu mencurahkan seluruh isi hatinya dengan tenang. Bila mengingat seluruh deritanya selama ini mungkin raina sudah menyudahi hidupnya. Tetapi, ia selalu meniti jalan Allah sebagai tujuan hidupnya sehingga detik ini ia masih memiliki sejuta semangat untuk menghadapi hari esok.

Sambil menanti fajar sadiq tiba, Raina membuka mashaf Al-Qur’an, menghayati setiap ayat-ayat indah tertulis didalamnya, satu satunya karya universal yang tak mampu dikalahkan oleh siapapun dan kapanpun. Setelah membaca al-Qur’an, raina beranjak ke belakang musalla untuk memperbarui wudhu’nya agar terlihat lebih segar saat shalat fajar dan shalat fardhu subuh berjamaah.

Seperti biasanya, seluruh santriwati MUDI Samalanga membaca surah al-Kahfi seusai menunaikan shalat subuh berjamaah setiap hari jumat, itu sudah menjadi jadwal mingguan dipondok pesantren ini. Setelah membaca surat Al-Kahfi, raina memilih untuk duduk sejenak dalam mushalla, menghafal beberapa bait matan Alfiah sambil menanti matahari terbit.

“Raina…hana magun uroe nyoe…?

Rayna berbalik menoleh dan mencari asal suara, ia mendapati kak far, salah seorang kakak kamarnya yang baik hati.

“Magun kak …siat tek lon jak “!! sahut rayna dibarengi senyum lalu kembali duduk ke posisi semula dan memfokuskan diri dengan hafalannya. Ujian cawu III tinggal menghitung jari, seluruh santriwai mulai sibuk dengan mengulang pelajaran kitab klasik mereka, ada yang memilih mengulang pelajaran diatas balai dan juga ada yang menggunakan tempat-tempat lain yang bisa digunakan untuk duduk membaca dan menghafal. Rayna dan teman sekelasnya memilih mushalla sebagai tempat mereka belajar. Dari kerumunan santri lainnya ia mencoba mendengar penjelasan kitab yang sedang disampaikan Fathia, salah seorang teman sekelasnya yang selalu mendapat peringkat pertama, kebisingan dan suara nyaring santri lainnya membuatnya sulit untuk menangkap suara Fatiya .

“Rayna sudah ngerti? “ Tanya fathiya

Rayna munggut munggut tanda paham, ketika Rayna hendak kembali menyimak kitab, salah seorang temannya menyela. “Bisanya Cuma ngangguk doang ,,coba disuruh ulang pasti geleng-geleng “

Ejekan temannya disambut tawa membahana temannya yang lain, rayna hanya bisa tersenyum pasrah. Hal seperti itu sudah biasa ia hadapi bahkan itu sudah menjadi makanan sehari-harinya, tanpa sengaja kak far mendengar dan melihat kejadian itu dan ia benar benar prihatin melihatnya, Rayna selalu dikucilkan dimanapun ia berada.

Sepulang mengulang, kak far menghampiri Rayna dan membarikan ia segengam semangat agar terus bersabar atas perilaku taman-temannya. “Rayna tahu ? Allah itu selalu bersama orang orang sabar!”

"Bila Rayna bersabar, maka Alah akan memberikan sesuatu yang indah diluar dugaan rayna,,,” tutur kak far lembut. Rayna pernah berpikir untuk menceritakan semua keluh kesahnya. Tapi, disi lain Rayna tak mau membagi bebannya kepada orang lain. Cukuplah kebalikan kak far yang menjadi titik semangatnya saat ini.

Gemuruh tepuk tangan membahana menyemarakkan acara tahun baru islam, seluruh santri berkumpul didepan pentas yang telah dibuat didepan mushalla. Mereka menanti acara perlombaan yang disungguhkan panitia PHBI dengan sabar meskipun panas matahari seolah membumbung diatas kepala.

“Acara selanjutnya,” sayembara hafidh 1000 matan bait Alfiyah” kepada peserta kami harapkan ke atas pentas !” panggil moderator menggunakan mikrofon.

Merasa waktunya tiba, Rayna semakin gugup bukan kepalang, ia meremas remas ujung bajunya hingga kusut. Dengan penuh keraguan, Rayna melangkah naik keatas pentas, tak sekalipun ia melihat kearah penonton karena itu akan membuatnya semakin gugup.

“Qala muhammadon huwabnu maliki”
“Ahmadu rabbillaha khaira maliki”

Rayna mulai membaca bait setelah mengucap salam dan membaca basmallah, sebuah kehebatan menyelimuti rayna, ia mampu menyelesaikan seluruh matan bait dengan cepat dan tepat.

Teman teman Rayna tercengang bukan kepalang, teman yang selama ini mereka lecehkan mampu memberikan sebuah revolusi besar di MUDI MESRA. Titik terang menjemput gelap Rayna, sejak saat itu ia disenangi temannya dan disenangi santri lainnya.

Puri Hidayani Saiful
Santriwati LPI MUDI Mesra Samalanga, Kab.Bireun, Prov. Aceh

Related

Santri 3572400848779131509

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item