umdah

Rateb dan Dike dalam Catatan J. Kreemer

Umdah- Rateb dan dike merupakan bentuk amalan-amalan ibadah dalam Islam yang juga dipraktekkan oleh masyarakat Aceh. J. Kreemer, seorang antropolog Belanda yang meneliti di Aceh pada masa kolonial, telah menulis dalam karyanya berjudul Aceh (1923) mengenai rateb (Arab: ratib, Gayo dan Alas: ratip) yang ia definisikan sebagai ucapan puji-pujian kepada Allah yang dibawakan secara bersama-sama sebagai bentuk peribadatan kepada Allah. Juga terdapat amalan lain dalam menjayakan Nabi yang dinamakan seulaweut (shalawat). Sementara rateb dan seulaweut juga disebutkan sebagai bagian dari like (dzikir).

Kreemer melanjutkan apa yang telah dilakukan sebelumnya oleh Snouck Hurgronje dalam penelitian perihal budaya masyarakat Aceh. Kreemer telah merekam salah satu bagian penting mengenai praktik ritual dalam tradisi Islam di Aceh yang luput dari perhatian khusus Hurgronje.

Kreemer dan Hurgronje membahas perihal praktik keagamaan tersebut dalam bab permainan dalam sub judul berjudul “Rateb dan like”. Berbeda dengan Hurgronje, Kreemer dalam karyanya, membedakan tradisi mana yang memiliki nilai sakral/keagamaan dan mana yang tidak memiliki nilai keagamaan atau hanya sekedar kesenian dan permainan rakyat biasa.

Hurgronje yang sepertinya lebih memahami Islam ketimbang Kreemer tidak melihat praktik ibadah ummat Islam sebagai bagian penting untuk menjadi suatu bahasan khusus di dalam karya monumentalnya. Sebagai antropolog yang memiliki keluasan ilmu tentang masyarakat Islam, tidak membuat ia mampu merekam bagian-bagian praktik sosial keagamaan secara menyeluruh.

Catatan Kreemer terkesan lebih datar dan nyaris tanpa argumen yang menghakimi dan Kreemer lebih memilih menggambarkan apa yang ia lihat. Ia tidak membahasakannya dalam bahasa keheranan sebagaimana yang biasa ditampilkan oleh orang luar (outsider) melihat kehidupan masyarakat pribumi (indigineous people). Pembacaan Kreemer terhadap tradisi beragama masyarakat Aceh lebih objektif ketimbang Hurgronje lebih banyak “merekam cela” ketimbang menggambarkan relitas sosial dan budaya masyarakat Aceh.

Dalam karyanya, Kreemer beralasan untuk memasukkan pembahasan perihal ini di dalam bab permainan dan hiburan karena ia beranggapan bahwa sejumlah rateb-rateb tersebut sudah merosot atau berubah tujuannya menjadi hanya sebatas jenis permainan tanpa mengandung nilai agama, dimana rateb jenis ini telah kehilangan nilai sakral dalam praktiknya dan hanya dipraktekkan sebatas tradisi seni dan hiburan belaka. 

Kreemer membahas rateb dalam dua kategori; rateb-rateb yang bersifat keagamaan (ibadah) dan rateb-rateb yang tidak mengandung nilai agama sedikitpun. Dalam tulisan ini penulis hanya membatasi pada jenis rateb yang bersifat keagamaan.

J. Kreemer menjelaskan bahwa rateb merupakan amalan sunnah, yakni apabila seorang muslim mengerjakannya ia memperoleh pahala. Terdapat jenis-jenis rateb yang menjadi bagian yang tidak boleh ditinggalkan dalam pandangan mereka yang tergabung dalam tarekat-tarekat tertentu. Ia melanjutkan bahwa rateb yang telah disusun oleh para pemuka mistik (guru sufi) dianggap ibarat benih-benih yang akan menghasilkan panen (pahala) yang berpuluh kali lipat. Praktik pembacaan rateb dilakukan dalam satu kelompok dengan membacakan kalimat-kalimat tertentu secara berulang-ulang.

Beberapa rateb dalam catatan Kreemer yang dikenal dan dipraktekkan di Aceh pada masa itu:

Rateb Biasa
Rateb biasa hanya terdiri dari pengucapan tahlil (kalimat tauhid: La ilaha illallah) secara berturut-turut. Kalimat ini merupakan bagian yang utama dimana kalimat tauhid sebagai bentuk pengesaan Allah menjadi titik beratnya. Pada bagian akhir, dibacakan satu kali kalimat kedua dalam syahadat, yaitu Muhammad Rasulullah. Amalan ini juga dianggap suatu pekerjaan yang baik dilakukan dimana dan kapan saja, termasuk sehabis shalat fardhu. Tasbih (Aceh: boh musabah) biasa digunakan dalam menghitung jumlah bacaan tahlil yang dibacakan.

Kreemer menyebutkan bahwa rateb ini (tahlil, Aceh: tahli) biasa dibacakan pada musibah kematian, yaitu pada hari ketiga, kelima dan ketujuh. Ia mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan suatu hal yang tidak bisa tidak dilakukan oleh masyarakat dalam mendoakan arwah yang telah meninggal. Kegiatan ini dipimpin oleh teungku dari desa tersebut sebagai bentuk penghargaan atas kealimannya, atau juga diserahkan kepada yang lebih ahli (leubee atau ulama).

Rateb Hadad (Haddad)
Rateb ini disusun oleh seorang ulama sufi asal Hadramaut, Yaman, Habib Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad. Tarekat Haddadiyah merujuk kepada beliau, namun tarekat ini merupakan cabang dari induk tarekat yang lebig besar yaitu Tarekat Sadah Bani ‘Alawi atau biasa disebut dengan Tarekat Ba’alawi atau ‘Alawiyah. Nasab (hubungan pertalian darah) beliau sampai kepada Nabi Muhammad SAW. melalui jalur Ahmad bin Isa al-Muhajir, keturunan ahlulbait Nabi dari Sayyidina Husein yang hijrah ke wilayah Hadramaut.

Kreemer mencatat bahwa amalan ini merupakan suatu amalan yang sangat istimewa. Namun, menurutnya, rateb ini tidak begitu ramai yang mengamalkannya, yang mengambil bagian dalam pelaksanaan amalan ini hanyalah orang-orang yang alim saja. Rateb ini dilaksanakan di dalam mesjid atau meunasah sesudah shalat isya.

Rateb Saman
Rateb ini dianjurkan oleh Syekh Muhammad Saman, ulama sufi abad ke-18 pendiri Tarekat Samaniyah. Salah satu ulama nusantara yang dikenal membawa ajaran tarekat ini adalah Syekh Abdussamad al-Falimbani.

Kreemer mengutip pendapat dari perkiraan dari narasumbernya bahwa rateb ini bernilai setingkat dibawah Rateb Hadad, karena penilaian bahwa penganjurnya tidak memiliki karamah setinggi al-Haddad. Apabila Rateb Hadad dilakukan sendiri oleh orang yang mencari pahala, sedangkan Rateb Saman, jelasnya, dilaksanakan oleh sebuah kelompok yang dilatih. Pelaksanaan rateb ini dilaksanakan di meunasah pada malam jumat, namun kadang juga kelompok rateb ini menerima undangan agar rateb ini dilaksanakan pada acara-acara kenduri. Biasanya Rateb Saman dimulai dari pukul delapan malam hingga menjelang fajar. 

Kreemer menulis bahwa Rateb Saman sudah agak jarang dipertunjukkan pada masa itu. Ia melihat bahwa yang lebih banyak digemari pada masa itu adalah Sya’ir Maulud (Mo’lot, Arab: Maulud) yang juga bertujuan untuk memperoleh pahala.

Like Mo’lot
Kreemer menjelaskan bahwa like mo’lot (dzikir maulid) berisi seputar mengumandangkan kisah Nabi Muhammad SAW. terutama mengenai kelahirannya. Orang-orang Aceh menganggap perayaan kelahiran Nabi sebagai suatu kewajiban untuk penduduk negeri Aceh. Kewajiban merayakan maulid Nabi ini bagi orang Aceh pada masa itu terkait dengan peristiwa sejarah—Kreemer menyebutnya dongeng sejarah, namun penemuan sejarah masa kini telah membuktikan kebenarannya—pengiriman utusan Aceh ke Turki pada abad ke-16 dimana Turki Usmani tidak mewajibkan pajak dan pembayaran upeti dari Kerajaan Aceh kepada Turki Usmani. Sebagai gantinya Sultan Turki mewajibkan perayaan Maulid Nabi diselenggarakan oleh tiap-tiap penduduk di tiap gampong di seluruh Aceh Dahulu seorang kepala kampung akan diberikan sangsi oleh hulubalang apabila tidak melaksanakan perayaan Maulid Nabi. Perayaan maulid dilaksanakan pada bulan Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir dan Jumadil Awwal (Aceh: buleun Mo’lot, Adoe Mo’lot dan Mo’lot seuneulheuh). Perayaan maulid dilaksanakan oleh tiap gampong secara bergantian agar tidak terjadi perayaan maulid yang bersamaan oleh dua gampong di tiap mukim agar seluruh warga mukim dapat diundang hadir di tiap acara maulid.

Menururt Kreemer, terdapat tiga himpunan kitab maulid yang terkenal di Aceh pada masa itu. Pertama kitab Beurdanji/Barzanji; sebuah karya tulis dalam bahasa Melayu yang ditulis oleh Sayyid Oethman dari Betawi yang dikutip dari pengarang aslinya Syekh Ja’far al-Barzanji. Kitab ini disusun dalam bentuk prosa yang bernalam yang pembacaannya diselingi dengan lagu-lagu pujian (qasidah) dalam irama sya’ir. Yang kedua; Carapha Anam (Syaraful Anam) dan yang ketiga Beudanji Nalam (Barzanji), sama seperti yang disebut pertama oleh Kremer, ia ditulis oleh Syekh Ja’far al-Barzanji. Kitab ini tidak memiliki terjemahan dalam bahasa Melayu. Kremer tidak menjelaskan secara spesifik perbedaan dan persamaan antara Maulid Barzanji jenis pertama (Beurdanji) dengan yang kedua (Beudanji Nalam).

Dari apa yang dijelaskan Kreemer, metode pembacaan kitab maulid tersebut, lebih kurang sama dengan apa yang dipraktikkan sekarang. Setelah seorang Syekh membacakan alfatihah sebagai pengantar, lalu diikuti dengan pujian atas Nabi (shalawat) dimana seorang yang bersuara merdu membacakan bagian-bagian dari kitab maulid tersebut. Pembacaan dilakukan oleh satu orang saja namun dilakukan secara bergantian. Kremer juga menyebutkan bagian dimana seluruh hadirin berdiri untuk menyanyikan lagu pujian (istilah ini disebut dengan mahlul qiyam) dimana diantara mereka disebar wewangian yang dipercaya untuk menghormati arwah Rasulullah yang hadir pada saat itu. Acara ini ditutup dengan pembacaan doa.

Catatan Kreemer yang mengupas masalah praktik ritual keagamaan menurut hemat penulis merupakan suatu bahan sejarah penting yang memberikan gambaran masa lampau seputar praktik ritual (ibadah), khususnya yang dilakukan secara bersama-sama. Selama ini penelitian antropologi telah banyak membahas tentang praktik tradisi Islam semisal dayah dan tradisi keilmuan, namun praktik ritual (ibadah) yang juga merupakan tradisi Islam yang tak kalah pentingnya, masih jarang disorot secara khusus.

Catatan Kreemer yang menggunakan pendekatan antropologi telah melengkapi pengetahuan kita tentang bagaimana amalan-amalan Islam yang berasal dari praktik tarekat tertentu atau yang menjadi amalan para sufi kemudian tersebar dan dipraktikkan secara umum di tengah-tengah masyarakat.

Oleh: Jabal Ali Husin Sab
sumber : http://pdiaaceh.org/

Related

Break 2165491373770722860

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item