umdah

Pudarnya Menulis di Kalangan Dayah

Umdah.Co- Tiga hari berada di Banda Aceh, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga. Warna-warni kehidupan yang sedang dijalani oleh teman-teman, sangat menginspirasi. Mereka sangat bersemangat dalam merajut masa depan dengan tinta emas. Ada yang sudah mengenakan baju toga, sebagian masih disibukkan dengan tugas akhirnya, ada pula yang sudah mulai bekerja.

menulis pudar dikalangan santriwati
Sambil ngopi di SMEA Coffe, saya terlibat sedikit obrolan ringan dengan salah seorang teman yang sedang menempuh pendidikan sarjana Ilmu Komunikasi - sekaligus penulis buku – “Istanbul Warna Ibukota Dunia”. Katanya , “Minat menulis di kalangan santri dan ulama dayah Aceh mulai memudar , karya-karya mereka dalam beberapa dasawarsa ini sangat sulit dijumpai”. Hal ini perlunya implementasi terhadap tradisi menulis di kalangan dayah.

Sedikit menelisik terhadap perkembangan dayah yang notabene merupakan lembaga pendidikan islam tertua di Aceh, mulai dari kemelut NKRI sebelum merdeka di masa penjajahan Kolonial Belanda, dilanjutkan dengan imperalisme singa Asia, Jepang hingga ibu pertiwi ini merasakan harumnya aroma kebebasan. Semuanya tidak terlepas dari dukungan jihad dari kalangan dayah.

Perkembangan dayah di Aceh bisa ditilik dari banyaknya dayah-dayah yang bermunculan di berbagai pelosok desa. Mulai dari dayah yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama melalui kitab kuning hingga dayah yang memadukan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Dari pebedaan-perbedaan inilah kemudian muncul istilah dayah salafiyah dan dayah modern. Dengan menggunakan metode seperti sorongan, bendongan, bahsul masail dalam metode pembelajaran. Dayah telah membuktikan eksistensinya hingga saat ini.
Walaupun dayah-dayah Aceh telah merangkak menuju arah kemajuan, baik dari segi pembangunan, pendidikan, maupun sosial, namun masih ada warisan-warisan dari para pendahulu mereka yang mulai memudar seiring berlalunya zaman. Tradisi menulis yang telah dipraktekkan oleh ulama-ulama aceh terdahulu, mulai ditinggalkan oleh santri-santri dayah. Mereka beranggapan menulis itu tidak begitu penting.
Banyak literatur sejarah yang menyebutkan bahwa syaikh Abdurrauf al-singkiliy. Salah seorang mufti pada masa kekuasaan Iskandar Tsani dan Ratu Safianatuddin Tajul Alam(1641-1675 M), sangat aktif menulis di berbagai bidang. Karyanya mencapai 22 kitab. Seperti dalam bidang fiqh, filsafat, tauhid, puisi, dan penolakan terhadap ajaran wahdatul wujud.

Sejarah juga telah mencatat bagaimana kezuhudan Imam an-Nawawi dalam menelurkan karya-karya tulisannya dalam berbagai fan ilmu. Salah satu karya monumentalnya adalah kitab Minhaj al-Thalibin dalam bidang fiqh Madzhab Syafi’i. Karyanya tersebut terus menerus dikaji dan ditela’ah di berbagai dayah salfiyah Aceh. Bagaimana pula Dr. Wahbah az- Zuhaily, salah seorang Ulama Kontemporer dari Damaskus yang menulis berbagai kitab. Diantaranya adalah Fiqh al-Islam wa Adillatuh yang dijadikan sebagai bahan rujukan dalam bidang fiqh komparatif antar Mazhab.

Mereka semua terus-menerus melestarikan tradisi menulis yang telah diwariskan oleh para pendahulu mereka. Seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’I dan Imam Hanbali yang sangat aktif mengarang kitab-kitab dalam mazhab mereka sendiri.

Menulis itu tidak mesti menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Ketidakmampuan dalam memahami bahasa Arab tidak bisa menjadi alasan untuk tidak menulis. Para ulama terdahulu menuliskan kitabnya dalam bahasa Arab, dikarenakan bahasa pengantar yang sehari-hari mereka gunakan adalah bahasa Arab. Kita sebagai bangsa Melayu bisa menulis menggunakan bahasa Arab jawi ataupun bahasa daerah masing-masing.

Oleh: Muhammad Rudi Syahputra, Santriwan LPI Dayah Mudi Mesra Samalanga, Kab.Bireun, Provinsi Aceh

Related

Santri 6188737853683013829

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item